| Ditulis Oleh: Munzir Almusawa | |
| Friday, 25 June 2010 | |
|
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:
( صحيح البخاري )لَمَّا عُرِجَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلَى السَّمَاءِ، قَالَ رسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتَيْتُ عَلَى نَهَرٍ، حَافَتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ، مُجَوَّفًا فَقُلْتُ مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ..؟، قَالَ هَذَا الْكَوْثَرُ Dari Anas ra berkata : " Ketika nabi saw diangkat untuk Mikraj ke Langit, bersabda Rasulullah saw : aku telah mengunjungi sebuah sungai, yg dikelililingi kubah kubah Mutiara yg berongga rongga” ". ( Shahih Al Bukhari )
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ
الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ
الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا
لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا
الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ
Limpahan Puji Kehadirat Allah Maha Raja Tunggal dan Abadi, Maha
Melimpahkan keindahan Dzat Nya, yang merupakan isyarat dengan penciptaan
alam semesta, merupakan lambang yang menyeru hamba Nya untuk mendekat,
kepada keridhaan, kepada pengampunan, kepada kesucian, kepada keluhuran,
kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, dari yang Maha Tunggal Menguasai
kerajaan dunia dan akhirat, Allah Maha penguasa dan Maha menguasai
setiap kejadian, Maha Menawarkan kedekatan dan Cinta Nya kepada
hamba-hamba Nya, dan Maha Menghibur hamba agar jangan risau ingin dekat
dan putus asa dari Rahmat Nya, Dialah Allah, Yang telah menyeru para
pendosa dengan Firman Nya :“Katakanlah Wahai hamba-hamba Ku, yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, sungguh Allah Maha Mengampuni semua dosa, dan sungguh Allah Maha pengampun dan berkasih sayang” (QS Azzumar 53) Diriwayatkan oleh Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Qadhi’iyad didalam kitabnya Assyifa, menukilkan riwayat ayat ini adalah : Ketika Sang pembunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu'anhu pamannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu Wahsyi seorang budak yang memang sengaja membunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib radhiyallahu'anhum di dalam perang Uhud, di saat perang Uhud itu Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib di tombak dari kejauhan dari belakang tubuhnya hingga wafat dan Wahsyi tidak cukup hanya dengan itu, Wahsyi membelah dada Sayyidina Hamzah, mengeluarkan jantungnya, memotong hidung dan telinga dan bibir dan mencungkil ke dua matanya lantas di bawakan kepada Hindun. Hadirin Hadirat, inilah dosanya Wahsyi orang yang telah membunuh pamannya Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mengeluarkan jantungnya dari dadanya, jenazah itu di robek dan di keluarkan jantungnya, di cungkil ke dua mata, bibir, hidung dan kedua telinganya dan di bawakan untuk tuannya. Lalu di saat itu, disaat Fatah Makkah, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke Makkah dengan 100 ribu muslimin muslimat, Wahsyi melarikan diri, ia menjauhkan diri sampai kepantai, Istrinya datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : “Wahai Rasul, suamiku mempunyai dosa yang sangat besar, kalau ia masuk Islam dan bertaubat, apakah suamiku di ampuni ?” Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berkata “Allah memaafkan semua yang terdahulu jika orang mau bertaubat, masuk Islam Taubat sudah tidak ada lagi dosa” Maka Istrinya pun menemui Suaminya di pantai, berkata Rasul shallallahu 'alaihi wasallam “Allah akan mengampuni semua yang Lalu kalau kau mau bertaubat dan masuk Islam” Wahsyi berkata pada Istrinya : “kamu tahu bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam tahu kamu istri saya?” maka berkata Istrinya : “tidak ku sampaikan” “katakan dulu, mustahil aku diampuni” Maka Istrinya balik lagi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : “Ya Rasulullah, apakah betul semua dosa akan di ampuni??? suamiku ketakutan” Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berkata : “sudah kusampaikan beberapa waktu yang lalu, Allah memaafkan apa-apa yang terdahulu” Maka Istrinya berkata : “Ya Rasulullah, suamiku adalah Wahsyi yang telah membunuh pamanmu, merobek dadanya, mengeluarkan jantungnya, mencungkil kedua matanya, dan memotong bibir, hidung dan kedua telinganya” Berubah wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau terdiam dan tidak menjawab, menunduk, Turunlah ayat : “Katakan Wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa, jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, Allah mengampuni semua dosa” Rasul menyampaikannya kepada para Shahabat dan kepada Istrinya dan Istrinya menyampaikan kepada Suaminya datanglah Wahsyi masuk Islam, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berkata “kau wahsyi yang telah membunuh pamanku? Hamzah bin Abdul Muthallib” “Betul wahai Rasul, aku telah berbuat ini dan itu” “kumaafkan kesalahanmu, namun satu hal, jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini” “kenapa wahai Rasulullah, bukankah kau sudah memaafkan aku?” “aku sudah memaafkanmu, tapi kalau aku lihat wajahmu aku terbayang wajah Hamzah bin Abdul Muthallib yang rusak di hancurkan olehmu saat itu, aku teringat wajah Hamzah, makanya jangan muncul di hadapanku lagi” Wahsyi kemudian terus kecewa di dalam hatinya sampai munculnya Musailamah Al Kaddzab musuhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata “nah ini tombak yang kugunakan untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib akan kugunakan juga untuk membunuh Musailamah Al Kadzab, barangkali sedikit bisa menebus dari pada kesalahan ku yang lalu”, namun kita lihat Sang Maha Lembut Rabbul’alamin berbuat kepada orang yang demikian, Wahsyi, Allah menjawab keputus asaannya dengan kasih sayang Allah yang berkata pada istrinya “mustahil aku di ampuni karena aku sudah berbuat dosa yang sangat besar, membunuh pamannya Rasul shallallahu 'alaihi wasallam” namun justru Allah memanggilnya untuk kembali kepada cintanya, “jangan putus asa dari kasih sayang Allah” kenalilah Tuhan mu yang Maha Lembut dan Maha Berkasih sayang, tiada yang lebih lembut dari Nya, tiada yang lebih santun dari Nya, Tiada yang lebih menerima dari Nya, tiada yang lebih mengerti dan memahami keadaan kita kecuali Allah Yang Mencipta kita dari tiada, Yang Mengetahui setiap Detik hari-hari kita yang lalu dan yang akan datang, yang memberi kita dengan pemberian tidak bisa di beri oleh makhluk satu sama lain, yang paling berkasih sayang lebih dari semua yang mencintai kita, Dialah Allah, yang telah mengutus hamba yang paling di Cintai Nya, Yang mempunyai sifat yang sangat lemah lembut Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Shahibul Akhlak Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Shahibul Isro’ Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Shahibul Mi’raj Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Pemimpin kita dan idola kita yang berlemah lembut dan tiada manusia yang lebih lembut dari Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam : “Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, sebaik baiknya manusia, budi pekerti dan tubuhnya” dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam telah disampaikan oleh Allah subhanahu wata'ala: “Sungguh engkau mempunyai akhlak yang agung”(QS Nun 4) Dan firman Allah swt pula : “Telah datang kepada kalian utusan dari bangsa kalian, berlemah lembut dan sangat peduli atas musibah yang menimpa kalian dan sangat berlemah lembut kepada hamba-hamba Allah yang beriman dialah Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam” (QS Attaubah 128) Orang yang paling mencintai kita dari semua orang yang cinta pada kita Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, hadirin hadirat malam-malam agung ini, mengingat dan mengundang ruh dan jiwa kita mengingat peristiwa Mi’raj Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang naik ke langit dengan undangan tunggal dari Rabbul’alamin, tidak mengundang siapapun selain Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk datang menghadap, hingga Beliau shallallahu 'alaihi wasallam diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari: “Datang kepadaku Jibril a.s dengan dua lainnya, lantas ia membelah dadaku dan mencuci dadaku dari mulai urat leherku sampai perutku lantas kemudian membawa Baki dari emas dan menuangkan Iman dan Hikmah kedalam sanubariku, lalu mengembalikan posisi tubuhku seperti semula, lalu membawaku Mi’raj menuju Masjidil Aqsha dan di Masjidil Aqshalah aku bertemu para Nabi dan Rasul lantas kemudian aku mulai naik melintas langit dunia” kita fahami langit di dunia luasnya sudah tidak terhingga, manusia belum mencapai ujung batasnya karna terdapat padanya triliunan Galaksi dan belum terhitung triliunan lainya yang jarak Galaksi terdekatnya yaitu Andromeda sudah dua juta tahun kecepatan cahaya, bagaimana Galaksi yang terjauh dan itu semua baru dilangit dunia, karena Allah berfirman : “kami jadikan di langit dunia itu bintang-bintang yang bercahaya, menunjukan semua planet-plenet itu baru di langit yang pertama” (QS Al Mulk 5) Dan Rasul menembus batas langit yang pertama itu, bukan Galaksi yang terdekat tapi ke ujungnya, bersama Jibril As dalam beberapa kejap saja, jauh lebih cepat dari kecepatan cahaya, kalau kecepatan cahaya butuh waktu dua juta tahun menuju Galaksi yang terdekat (Andromeda), bagaimana Galaksi yang miliaran lainnya, gugusan-gugusan bintang yang berjumlah Miliyaran di angkasa ini kesemua jarak itu di tempuh dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari kecepatan cahaya, sampailah ke batas langit pertama, Jibril memerintahkan pintu langit di buka untuk Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka berkata para malaikat penjaga pintu langit “Siapa yang bersamamu wahai Jibril” Jibril berkata : “Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam” “apakah ia sudah waktunya di utus dan bangkit?” Berkata Jibril : “Betul” Maka Malaikatpun membuka pintu langit pertama dan berkata “Selamat datang untuknya, semulia-mulia datang kelangit pertama telah datang” Fahamlah kita dari ucapan ini, tidak ada satupun makhluk yang lebih mulia menginjak langit pertama melebihi Sayyidina Muahmmad shallallahu 'alaihi wasallam. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari : “Selamat datang untuknya, semulia-mulia yang datang telah datang kelangit pertama” Hadirin hadirat disaat itu berjumpa dengan Nabiyallah Adam a.s, yang mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dengan ucapan “selamat datang wahai Nabi Yang Shaleh wahai keturunanku yang Shaleh” Maka saat itu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam melihat dikanan Nabi Adam jika dia melihat kekanan dia tertawa dan tersenyum jika dia melihat kekiri dia menangis, Maka berkatalah Rasul kepada Jibril : “wahai Jibril kenapa Nabi Adam ini kalau melihat kekanan dia tersenyum, kalau lihat kekiri dia menangis?” Berkatalah Jibril : “Kalau ia melihat kekanan, dia melihat arwah keturunannya yang Shaleh, kalau ia melihat kekiri ia melihat arwah keturunannya kufur dan jahat sehingga menangis jika melihat kekiri lantas beliau tidak melihat ke kanan semua manusia yang ada di permukaan bumi ini dan bangsa seluruh bangsa, afrika, amerika, Cina, Jepang, Arab dan seluruh bangsa yang ada di muka bumi ” Ruh keturunannya yg beriman dan shalih itu membuat Nabi Adam a.s tersenyum pada mereka, wafat dalam keshalehan dan menangis melihat keturunannya yang wafat didalam hal yang mungkar. Hadirin hadirat lalu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menembus langit yang ke dua dan bertemu dengan Nabi Isa bin Maryam a.s dan di sambut oleh Nabi Isa a.s demikian didalam Shahih Bukhari dengan ucapannya : Tiadalah malaikat membukakan pintu kecuali bertanya “siapa yang bersamamu wahai Jibril hingga kau perintahkan membukakan pintu langit ke dua” Jibril berkata :“Yang bersamaku Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam” Maka iapun berkata : “Selamat datang untuk Sang Nabi, semulia mulia yang datang di langit ke dua telah datang” Dibukalah pintu-pintu langit ke dua untuk menyambut Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan mereka pun menyambut gembira, para malaikat berdesakan menyambut kedatangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Demikian Riwayat Shahih Bukhari. Lalu dia menembus langit yang ketiga Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dan berkatalah Jibril “Bukakan seluruh pintu langit” Berkatalah Malaikat langit ke tiga : “Siapa Yang bersamamu wahai Jibril, sampai aku harus membukakan pintu langit ketiga ini” Jibril berkata : “Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam” maka berkata para malaikat dengan ucapan yang sama “apakah sudah di utus?” dijawab oleh Jibril as : “Sudah” “Selamat datang untuknya semulia-mulia yang datang di pintu langit ke tiga” Pintu langit ketiga dibuka dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bertemu dengan Nabiyallah Yusuf a.s., Lantas Beliau naik kelangit ke empat dengan sambutan yang sama di buka pintu langit ke empat untuk Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, disambut oleh para Malaikat dan para Nabi, di sambut di langit ke empat Oleh Nabi Idris a.s lantas di langit ke lima di sambut pula oleh para Nabi di langit keenam di sambut Oleh Nabiyallah Musa a.s, dalam satu Riwayat di dalam Shahih Bukhari didalam riwayat lainnya oleh Nabiyallah Ibrahim juga dalam Shahih Bukhari teriwayatkan, dalam langit ke tujuh berjumpa dengan Nabiyallah Musa dalam Riwayat lainnya Nabiyallah Ibahim a.s, lantas Rasul berkata setelah itu aku di naikkan ke Baitul Ma’mur yang tempatnya tepat berada diatas Ka’bah, lantas aku berkata pada Jibril, “apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata : “ini Baitul Ma’mur, 70 ribu malaikat shalat setiap harinya dan keluar dari Baitul Ma’mur 70 ribu dan tidak pernah kembali lagi terus keluar 70 ribu tepat diatas ka’bah al Musyarrafah tempatnya” Hadirin hadirat lantas Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dinaikan lagi sampai mendengar lauhul mahfud (ketentuan takdir) sampai ia mendengar yaitu keputusan-keputusan Allah subhanahu wata'ala lantas setelah itu di perintah untuk menghadap langsung kepada Allah subhanahu wata'ala, Jibril berhenti tidak meneruskan menemani lagi, karena dalam riwayat yang lainya Jibril berkata : “aku tidak mampu terus menghadap kepada Allah karena tidak di izinkan untuk menghadap, hanya engkau yang di izinkan untuk menghadap, kalau aku naik aku akan hancur terbakar dengan cahaya hijab, dari hijabnya Allah subhanahu wata'ala, cahaya dari 70 ribu tabir cahaya yang menutupi makhluk dengan Al Khaliq, jika sampai aku ke hijab itu aku akan terbakar” kata Jibril. 70 ribu tabir terbuka untuk Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari berjumpa dengan Allah subhanahu wata'ala, dan Allah subhanahu wata'ala telah berfirman : “saat itu sangat dekat dia dengan Allah subhanahu wata'ala” (QS Annajm 8-9) Diriwayatkah didalam Assyifa oleh Hujjatul Islam Al Qadhi’iyad alaihi rahmatullah bahwa di saat itu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan : “saat aku naik menuju Mi’raj aku melihat dilangit itu para malaikat gemuruh dengan dzikir dan tasbih dan warna dan bentuk yang belum pernah aku lihat di permukaan bumi ada warna seperti itu dan bentuk seperti itu dan kulihat hamparan surga itu bentangan tanahnya adalah Misk yang di keringkan, minyak wangi yang mengering dari indahnya di campur dengan berlian dan juga mutiara dan kemudian aku sampai ketika menembus Muntahal khalai’iq (batas akhir seluruh Makhluk) tidak lagi kudengar satu suarapun, sepi dan senyap, tidak ada lagi bentuk dan warna warni dan saat itu akupun mendengar satu suara : b>“mendekat mendekat wahai Muhammad, tenangkan dirimu dari ketakutanmu wahai Muhammad” maka beliau pun bersujud lalu berkata : Attahiyyatul Mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatu lillah“ (Rahasia keluhuran, kebahagiaan, kemuliaan, keberkahan, milik Allah dan untuk Allah subhanahu wata'ala) maka aku mendengar jawaban kata Rasul : Assalaamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh”, (Salam sejahtera wahai Nabi dan Rahmatnya Allah, dan keberkahannya) Maka aku menjawab : “Assalaamu alaina, wa alaa ibaadillahisshaalihiin” (Salam sejahtera bagi kami (yaitu aku dan ummatku), dan hamba hamba yg shali (yaitu para nabi dan malaikat) Beliau tidak mau mengambil rahasia salam sejahtera dari Allah sendiri, tapi ingin menyertakan Ummat Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dengan ucapan : “salam sejahtera untuk kami dan para hamba Allah yang Shaleh yaitu para malaikat dan para Rasul dan Nabi” Demikian sebagian ulama menjelaskan. Hadirin hadirat maka di wajibkannya 50 waktu shalat, lantas beliau turun berjumpa dengan Nabiyallah Musa As, “apa yang dikatakan Tuhanmu?” “aku di berikan hadiah untuk membawa shalat 50 waktu” “baliklah..!, bani Israil tidak mampu melakukan 50 waktu apalagi ummatmu, Ummatmu lebih pendek usianya, lebih lemah, lebih tidak berdaya, balik lagi minta kekurangan” maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kembali di kurangi 10 waktu, ketika meminta kekurangan seraya berkata : “Wahai Allah sungguh Ummatku sudah sangat lemah dibanding ummat-ummat sebelumnya” Maka Allah subhanahu wata'ala menguranginya 10 menjadi 40 waktu, Dia turun pada Nabiyallah Musa, Musa a.s berkata : “apa yang kau dapat, di kurangi berapa?” Rasul saw menjawab : “sepuluh” “balik lagi, 40 waktu tidak mampu ummatmu, minta dikurangi lagi, minta keringanan” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam balik lagi pada Allah, dikurangkan lagi 10 hingga demikian sampai 5 waktu yaitu beliau bulak balik demi minta keringanan. Didalam salah satu riwayat Nabiyallah Musa a.s itu ketika beliau a.s diriwayatkan didalam riwayat yang tsiqah (riwayat yang kuat), saat beliau mendengar firman Allah Swt di bukit Tursina maka itu bukan di langit, tapi di bukit Tursina saat ia mendengar firman Allah Swt di bukit Tursina, ia pun turun di bukit tursina ia menutup telingannya dari semua suara benda dan hewan karena ia tidak tahan mendengar buruknya suara benda dan hewan karena telah mendengar suara yang sangat begitu lembut dan indah mewakili firmannya Allah Swt tidak kuat mendengar suara air, suara burung, suara manusia, suara hewan menyakiti telinga Musa a.s, itu Nabiyallah Musa a.s di dunia maka bercahaya terlihat diwajah Nabiyallah Musa dilihat oleh istri dan anak-anaknya demikian terang benderang wajahmu Nabiyallah Musa As berkata : aku tadi mendapat firman Allah Swt, maka ketika di malam isra’ wal mi’raj beliau Musa a.s melihat Rasul Saw kembali kehadapan Allah Swt dengan wajah yang terang benderang bias dari cahaya Rabbul’alamin subhanahu wata'ala, Nabiyallah Musa a.s bahkan mencari alasan supaya Muhammad kembali lagi ke atas supaya bisa balik lagi, jumpa lagi, melihat lagi cahaya keindahan Allah, wajah Beliau bagaikan cermin yang mencerminkan cahaya keagungan Ilahi, balik lagi keatas, balik lagi hingga berkali kali Nabi Musa a. bisa menikmati bias dari cahaya keindahan Rabbul’alamin yang terlihat di wajah Sayyidina Muhammad Saw dan setelah itu Nabiyallah Musa pun ketika Rasul berkata : “sudah cukup 5 waktu tadi sudah di beri pahala 50 waktu oleh Allah subhanahu wata'ala” kembali lagi, Rasul berkata : “aku sudah malu, karna Allah Swt sudah berfirman : “ Aku sudah lewatkan dan sudah jalankan fardhu Ku untuk hamba-hamba Ku”(Shahih Bukhari) yaitu Allah Swt telah menentukannya dan tidak lagi merubahnya 5 waktu, Allah Maha tahu shalat itu 5 waktu bukan 50 waktu, namun Allah ingin memberi isyarat kepada sang Nabi dan kepada ummat beliau yaitu kita berapa besarnya rindu kita kepada Allah Swt, berapa besarnya rindu Allah pada kita, Allah meminta 50 kali kita menghadap, kita 5 kali saja ada yang masih malas dan keberatan, berapa cinta Allah kepada kita, berapa cinta kita kepada Allah, Allah minta 50 kali, karena kita lemah kita diberi 5 kali tapi sama dengan 50 waktu seakan akan 50 kali menghadap Allah, inilah cinta nya Rabbul’alamin kepada mu. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, bahkan ketika Rasul saw turun melihat Musa a.s menangis lalu berkata : “wahai jibril kenapa ia menangis” Jibril a.s berkata : “karena ia menangisi, ia telah menyeru kepada Allah subhanahu wata'ala , inilah Nabi yang paling mulia melebihi ummatnya yang lebih banyak dari ummatku dan yang masuk surga dari ummatnya lebih banyak dari ummat ku” maka menangis Nabiyallah Musa a.s berpisah dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kembali membawakan kepada kita hadiah Ilahiyah berupa 5 waktu yang luhur, 5 waktu suci untuk menghadap Ilahi, jiwa dengan jiwa, ruh dengan ruh, sanubari menghadap Allah subhanahu wata'ala dengan saat ruh menghadap Allah subhanahu wata'ala walaupun jasad kita di bumi tapi ruh dan jiwa kita dan sanubari kita saat mulai kita takbiratul ihram hingga selesai shalat yaitu salam, mulai takbiratul ihram hingga salam saat itu kau terbuka hijab antara kau dengan Allah subhanahu wata'ala berhadapan dengan Rabbul’alamin, sebagaimana hadits Rasul shallallahu 'alaihi wasallam diriwayatkan didalam Shahih Bukhari : “barang siapa yang melakukan shalat sungguh ia sedang berbicara dan bercakap cakap dan menghadap Allah subhanahu wata'ala” Inniy wajjahtu wajhiya lilladziy fatharassamaawaati wal ardhi….dst “ sungguh kuhadapkan jiwaku, hatiku, wajah hati ku, kepada yang menciptakan langit dan bumi yaitu Allah subhanahu wata'ala..” Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Demikian rahasia keluhuran didalam mi’raj sekilas kita buka namun masih lagi banyak bagaikan samudera yang sangat luas yang tidak bisa diceritakan dengan lisan diantaranya adalah ucapan para penyair bahwa ketika Nabi Musa a.s menghadap Allah Swt di Bukit Tursina, maka disaat itu perintahkan kepada Musa : “lepas kedua sandal mu wahai Musa kau berada di lembah yang suci” (QS Thaahaa 12) maka disaat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam Mi’raj naik ke hadhratullah tidak di perintah membuka kedua sandalnya, maka berkata para penyair dalam syairnya manakah yang lebih mulia sandal atau Jibril a.s, jibril tidak biasa naik kehadhratullah sandalnya Rasulullah naik ke hadhratullah subhanahu wata'ala, tentu jibril a.s lebih mulia dari sandal, sandal hanya terbuat dari kulit kambing tapi karena sandal terikat dengan kaki Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam walaupun terbuat dari kulit kambing karena terikat dengan kaki Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, demikian pakaian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam naik ke hadirat Allah shallallahu 'alaihi wasallam, tidak diperintah membuka kedua sandalnya sebagai tanda bahwa orang-orang yang terikat hatinya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat dekat dengan Allah subhanahu wata'ala, Allah tidak perintahkan semua yang bersama Rasul untuk berpisah, bahkan sandalnya pun tidak diperintahkan dibuka menunjukkan lebih lagi hatinya yang terikat cinta pada Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mereka mendapatkan rahasia kemuliaan isra’ wal mi’raj, seluruh ummat beliau buktinya, saat kita shalat kita mengulang kembali kalimat percakapan Allah dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam : yaitu : attahiyyatul Mubaarakaatu….dst. kalimat itu kalimat percakapan antara Allah dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kau ucapkan didalam shalat, setiap shalat kita mengucapkannya, rahasia keluhuran isra’ wal mi’raj tumpah pada kita 5 kali setiap harinya ingin lebih lakukan lagi, ada shalat dhuha, ada shalat witir, ada shalat tahajjud, ada shalat shalat luhur lainnya. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, demikian rahasia sekilas dari rahasia keluhuran shalat, tidaklah seseorang melewati hari-harinya di dalam shalat kecuali ia telah dalam keluhuran, diriwayatkan didalam shahih bukhari, sebagaimana hadits yang kita baca tadi, bahwa ketika Rasul shallallahu 'alaihi wasallam mi’rajh berkata Sayyidina Anas bin Malik ia melihat kubah-kubah yang terbuat dari mutiara yang ada danau disampingnya, kubah-kubah yang terbuat dari mutiara yang berlubang lubang dengan keindahan, maksudnya, berlubang lubang dengan indah mutiara mutiara itu, memberikan Tanya kepada jibril, “apa itu jibril ?” berkata jibril “itu telaga al Kautsar” itu telaga yang sangat indah Rasul berkata, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari atau riwayat lainnya bahwa jumlah cangkirnya sebanyak bintang di langit, cangkir-cangkir yang berada di telaga al-kautsar milik Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang Allah firmankan: “Sungguh kami memberi kepadamu wahai Muhammad telaga al-kautsar, maka shalatlah kepada Allah, perbanyaklah doa dan berkurbanlah, dan orang-orang yang ingin mencelakaimu lah yang akan celaka dan terputus keturunanya” (QS Al Kautsar) tiga ayat yang demikian singkat tapi mensiratkan betapa mulianya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang diberikan oleh Allah telaga al kautsar, didalam riwayat yang tsiqah (riwayat yang kuat) jika pecah salah satu pecahan kecil dari cangkir yang ada di telaga al kautsar jatuh kepermukaan bumi pecahan kecil itu lebih mahal dari seluruh perhiasan yang ada di muka bumi. Hadirin hadirat bagaimana satu cangkir sempurna hati para sahabat dan para pecinta Rasul shallallahu 'alaihi wasallam mereka meminta kepada Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, ya Rasulullah saat kami nanti di telaga al kautsar, saat itu kami tidak mau meminum dari gelasnya, lalu bagaimana? ingin meminum langsung dari telapak tanganmu ya Rasulullah, telapak tangan mu lebih mulia dari seluruh cangkir yang ada di telaga al kautsar. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, demikian para sahabat Rasul, radhiyallahu'anhum, berkata Rasul shallallahu 'alaihi wasallam di akhir masa hidupnya seraya bersabda : “akan kalian lihat nanti setelah aku wafat hal-hal yang tidak menyenangkan, bersabarlah sampai kalian berjumpa dengan ku di telaga haudh” (Shahih Bukhari) para pecinta Rasul shallallahu 'alaihi wasallam ditunggu oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di telaga haudh, semoga aku dan kalian dikumpulkan oleh Allah ditelaga haudh, ditelaga al kautsar bersama Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, bersama para muhaajiriin dan anshar, ahlul badr, ahlul uhud. Rabbiy kami bermunajat memanggil nama Mu yang Maha luhur, yang Maha membuka rahasia keluhuran dunia dan akhirat, yang Maha memiliki rahasia kebahagiaan dunia dan akhirat, Maha memiliki kunci kunci kemudahan dunia dan akhirat, yang Maha memiliki cahaya kebahagiaan, keluhuran, pengampunan, dan kasih sayang, wahai yang berkasih saying kepada kami lebih dari semua yang mencintai kami, wahai yang Maha baik kepada kami lebih dari semua yang baik kepada kami. Masing-masing hadirin mempunyai hajjat, mempunyai doa, mempunyai kebutuhan, ada yang terjebak hutang, ada yang terjebak masalah, ada yang terjebak kesedihan, ada yang terjebak kesusahan, ada yang igin bekerja belum bekerja, ada yang ingin punya keturunan belum punya keturunan, ada yang ingin menikah belum menikah, masing masing dengan hajjatnya, Rabbiy Engkau Maha melihat saat ini kepada segenap sanubari kami, (Firman Allah swt) : “apakah mereka mengira tidak ada satupun yang Melihat” (QS Al Balad.7) melihat mereka apakah mereka tidak mengira bahwa Allah Swt yang Maha Tunggal selalu melihat mereka, “Bukankah telah kami berikan pada mereka penglihatan, kami berikan pada mereka ucapan, kami berikan pada mereka dua jalan (kebaikan dan keburukan) (QS Al Balad 8,9,10), mana yang ingin mereka pilih didalam kedekatan kasih sayang atau dalam kemurkaan Ku, semoga aku dan kalian dan semua keluarga, dan keturunan kita disatukan oleh Allah dan dipastikan oleh Allah didalam orang orang yang diridhoi Allah, orang orang yang dimuliakan Allah, orang orang yang dilimpahkan rahmat oleh Allah setiap waktu dan saat. Rabbiy bimbing kami, maafkan dosa dosa kami, tidak kami bangkit dari tempat ini kecuali kau sudah menghapus seluruh dosa dosa kami, dan dosa ayah bunda kami, dan dosa kerabat dan saudara kami, suami kami dan istri kami, anak anak kami dan keluarga kami yang masih mempunyai dosa dan belum terampuni hingga malam ini ampunkan seluruh dosa mereka ya Rahman ya Rahim. Mereka yang telah wafat dari ayah bunda, dari keluarga atau teman atau kerabat yang barangkali hingga malam ini masih terhimpit di alam kubur, bebaskan dari segala kesusahan ya Allah, dan mereka yang didalam kemuliaan didalam kubur, tambahkan kemuliaannya, dan mereka yang masih hidup Rabbiy linpahkan Rahmat dan keluhuran untuk mereka dan untuk kami semua. Wahai Nama yang mengawali segala-galanya dari tiada menjadi ada maka adakanlah segala apa yang kami minta, Wahai yang Maha mampu memberi melebihi semua yang mampu memberi, Wahai yang telah berfirman kepada kami (dalam hadits qudsiy) : “Wahai hamba-hamba Ku, jika berkumpul dari kalian seluruh jin dan manusia yang pertama dan yang terakhir di suatu lapangan yang multi luas, dan masing-masing kalian mempunya hajat dan meminta kepada Ku, (ada yang minta 1000 Surga, ada yang minta 1000 Arsy dengan masing-masing permintaannya) kuberikan semua yang kalian minta, tidak berkurang dari yang kumiliki, kecuali seperti jarum yang terangkat dari tengah lautan samudera” (Shahih Muslim) Wahai Allah Yang Maha Luhur, limpahkanlah kami lebih dari apa yang kami minta, limpahkan permintaan kami lebih dari apa yang kami harapkan, ampuni semua dosa yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui, kami titipkan masa lalu kami dalam samudera pengampunan Mu, kami titipkan masa depan kami kepada samudera gerbang kebahagiaan Mu,
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..
Limpahkan kedamaian, ketenangan, kebahagiaan, kesejukan dunia dan akhirat,Kemakmuran Dunia dan akhirat,
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..
Kau terus memberi dan terus memberi, beribu-ribu anugerah Kau beri dalam sekali kami memanggil Nama Mu
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..
Wahsyi yang telah membunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib,
menghancurkan badannya dan menghancurkan wajahnya, lari karna putus asa
dari Mu ya Allah, Kau memanggilnya kembali dari kasih sayang Mu, jangan
putus asa dari kasih sayang Mu, alangkah indahnya Engkau
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..
ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
|
http://malaysfreecommunities.webs.com/allah%20muhammad.JPG
Jumat, 23 November 2012
NABI saw Mi'raj ke langit
perang tabuk di bulan rajab
| Ditulis Oleh: Munzir Almusawa | |
| Tuesday, 05 June 2012 | |
|
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَقُولُ، عِنْدَ الْكَرْبِ: لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ
الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ، وَرَبُّ
الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ،
(صحيح البخاري)Dari Ibn Abbas Ra: Sungguh Rasulullah SAW berdoa ketika dalam kesulitan: Laa ilaaha illallahul adhiimul haliim, Laa ilaaha illallah rabbul arsyi adhiim, laa ilaaha illallah, rabbbussamawati, wa rabbul ardhi, wa rabbul arsyil adhiim (Tiada Tuhan Selain Allah, Maha Agung dan Maha Berlemah Lembut, Tiada Tuhan Selain Allah Pemilik Arsy yang agung, Tiada Tuhan Selain Allah, Pemilik seluruh langit dan Bumi dan pemilik Arsy yang Mulia ) (Shahih Bukhari) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ
اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ
اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا
لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا
الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ
قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ
وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur,
Yang Maha melimpahkan rahasia keberkahan di bulan-bulan tertentu yang
terlimpah keluhuran yang lebih, keluhuran Allah subhanahu wata’ala tidak
pernah terbenam bagi hamba-hambaNya, berbeda dengan matahari yang
timbul dan tenggelam, berbeda pula dengan bulan yang muncul dan sirna,
berbeda dengan air di lautan yang terkadang pasang dan surut, berbeda
dengan bumi yang mana ada permukaan datar dan ada yang rendah dan ada
pula yang tinggi, berbeda dengan semua makhluk yang ada, sebagaimana
firmanNya :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
(الشورى : 11 )“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” ( QS. As Syuuraa : 11) Allah subhanahu wata’ala melimpahkan keluhuran kepada hamba-hambaNya, dan mereka yang mendapatkan keluhuran adalah keturunan nabiyullah Adam As yang telah disetujui oleh Allah untuk masuk ke dalam samudera cahaya لا إله إلا الله , samudera cahaya itu menerangi jiwa hamba-hambaNya sehingga sirnalah sifat-sifat yang hina dan terbitlah sifat-sifat yang luhur dan mulia, cahaya itu membenahi jiwa seseorang sehingga setiap ucapan, penglihatan , pendengaran dan segala sesuatu yang berada di sekitarnya akan terang benderang dengan cahaya لا إله إلا الله , dan yang telah disabdakan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam :
إِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلهَ إِلَّا الله
“ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan api neraka terhadap orang yang mengucapkan لا إله إلا الله “ Gejolak api neraka diharamkan oleh Allah untuk menyentuh orang-orang yang mengucapkan kalimah tauhid ( لا إ له إلا الله ) murni dari dasar sanubarinya. Oleh karena itulah dengan keagungan kalimah tauhid ini berpijarlah kemuliaannya di bulan yang mulia ini, kalimat yang dirangkum dalam suatu rangkuman luhur yaitu berupa ibadah shalat yang dihadiahkan oleh Allah kepada kita di bulan Rajab, dan juga sebagai undangan tunggal untuk satu-satunya makhluk yang mewarisi cahaya kalimah لا إ له إلا الله , makhluk yang paling terang benderang dengan cahaya لا إ له إلا الله , dan satu-satunya makhluk yang terpilih sebagai pemimpin makhluk-makhluk yang terang benderang dengan cahaya لا إ له إلا الله , beliaulah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itu kita akan membaca hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkannya kepada ummatnya, dan ucapan ini pun hampir selalu kita baca di setiap akhir majelis, namun sebagian ada yang bertanya : “Mengapa yang diucapkan bukan لا إ له إلا الله محمد رسول الله , riwayat dari mana kalimat-kalimat tersebut, mengapa kalimat itu banyak diulang-ulang di Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?”, karena banyaknya pertanyaan akan hal itu , maka hal itu perlu kita jawab agar mereka yang hadir di majelis-majelis mengetahui dan meyakini bahwa hal-hal yang kita amalkan kesemuanya sejalan dengan apa yang diperbuat oleh guru mulia ketika, dan telah mengajari kita untuk memperbanyak mengucapkan kalimat-kalima itu dan diulang sebnayak 3 kali, dan hal tersebut bukan hanya sekedar ajaran dari guru mulia saja atau sanadnya terputus sampai pada beliau saja, akan tetapi sanad tersebut bersambung hingga kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ucapan tersebut bukanlah ucapan yang dibuat-buat oleh Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketahuilah bahwa hal ini telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana diriwayatkan oleh sayyidina Abdullah bin Abbas Radiyallahu ‘anhuma :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ
يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ
، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ، لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ
الْكَرِيمِ
“ Dari sayyidina Ibn Abbas Ra, sesungguhnya nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dalam kesedihan mengucapkan : “
Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung dan Maha
Pengampun, Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, Tuhan Yang
menguasai ‘arsy, tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, Tuhan
Yang menguasai langit dan bumi, Tuhan Yang menguasai ‘arsy lagi Maha
Mulia” Kalimat ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di saat kita ditimpa musibah atau dalam kesulitan untuk membaca kalimat ini, sehingga dengan cahaya keluhuran لا إ له إلا الله maka musibah tersebut akan tertepis bagaikan debu yang tertiup angin dahsyat yaitu hembusan dari kalimat –kalimat luhur ini. Begitu juga hal yang perlu kita fahami dari kalimat ini adalah penjagaan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap kita, dimana di saat kita ditimpa musibah atau dalam kesulitan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bacaan atau doa yang dapat membuat kesusahan atau kesulitan kita hilang dan sirna. Sungguh betapa banyak kesulitan yang sirna dan dihilangkan oleh Allah sebab seseorang mengamalkan atau membaca kalimat ini. Kalimat ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan saat ini telah sampai kepada kita yang mana sanad keguruan kita bersambung kepada guru mulia dari guru-gurunya hingga sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itu pelajari dan amalkan dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bekal hidup kita agar kita selamat dari segala musibah. Akan tetapi kalimat-kalimat luhur ini, bagi mereka yang memiliki ketajaman pemahaman maka mereka tidak hanya meyakini bahwa kalimat ini hanya dapat menghapus musibah atau kesulitan di dunia, akan tetapi kalimat ini juga akan menghapus kesulitan atau permasalahan di akhirat, sebagaimana hadits yang tadi disebutkan bahwa seseorang yang mengucapkan لا إله إلا الله dari dasar hatinya maka Allah akan mengharamkannya dari api neraka. Namun masih banyak orang yang meremehkan keagungan kalimat ini, sehingga mereka merasa tidak perlu untuk mengulang-ulang kalimat ini, bahkan sampai-sampai melarang orang lain untuk banyak mengucapkan kalimat ini, dengan dalih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengucapakan kalimat tersebut secara bersama-sama dan beramai-ramai. Namun tentunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan kemuliaan kalimat-kalimat ini, maka di saat kaum muslimin ditimpa banyak musibah dan permasalahan, terjebak dalam berbagai macam pebuatan hina dan dosa, dan jauh dari perbuatan-perbuatan mulia, maka dalam keadaan seperti itu kemana mereka akan melarikan diri, jika bukan pada perkumpulan dzikir, untuk mencabut dan menepis setiap pemasalahan, kesusahan atau kesedihan yang menimpa mereka, dosa-dosa yang menindih mereka, yang yang mana hal itu juga memungkinkan timbulnya permasalahan atau musibah di masa depannya baik di dunia atau di akhirat, maka perkumpulan dalam dzikir mengucapkan لا إله إلا الله hampir tidak pernah ditinggalkan oleh para salafusshalih, sehingga di setiap akhir majelis selalu ditutup dengan mengucapkan kalimah talqin (لا إله إلا الله ), karena satu hal yang dirisaukan oleh para shalihin adalah jika seseorang telah tenggelam dalam perbuatan dosa maka di saat ia berada dalam keadaan sakaratul maut maka ia tidak dapat mengucapkan kalimat لا إله إلا الله atau bahkan lupa dengan kalimat tersebut, sehingga mereka para shalihin menjadikan dalam setiap perkumpulan selalu ada pengucapan kalimat-kalimat لا إله إلا الله . Al Imam Ibn Hajar berkata dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari dikarenakan keagungan kalimat لا إله إلا الله maka menjadi sesuatu yang disunnahkan untuk diulang-ulang, agar kalimat itu tertanam di hati kita, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ للهِ تِسْعَةُ وَتِسْعُوْنَ اِسْمًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“ Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa yang menghafalnya maka akan masuk surga” Hal ini bukan berarti cukup bagi kita hanya menghafal 99 nama Allah tanpa melakukan ibadah yang lainnya, namun maksud dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa seseorang yang menghafal nama-nama Allah maka berarti orang tersebut sering atau banyak menyebut nama-nama Allah sehingga ia menghafalnya. Ketika seeorang banyak menyebut dan mengingat nama-nama Allah, sebagaiman nama-nama Allah memiliki makna-makna yang berbeda, sehingga hal tersebut dapat menjadikan seseorang untuk banyak melakukan kebaikan dan meninggalkan perbuatan yang hina. Oleh sebab itu cahaya dari 99 nama Allah subhanahu wata’ala jika ada dalam setiap sanubari kita maka akan menjaga kita dari perbuatan-perbuatan hina, sehingga ketika akan wafat pun kalimat itulah yang memenuhi sanubari kita. Di bulan Rajab ini salah satu peristiwa yang perlu kita ingat adalah peristiwa perang Tabuk yang terjadi pada akhir bulan Jumadil Tsani dan awal Rajab, setahun setelah kejadian perang Mu’tah dimana ketika sayyidina Ja’far bin Abi Thalib, sayyidina Zaid bin Haritsah dan sayyidina Abdullah Ibn Rowahah Rdiyallahu ‘anhum wafat dalam perang Mu’tah. Maka setahun kemudian setelah kejadian itu, sampailah kabar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa pasukan Romawi akan masuk ke Jazirah Arab melewati wilayah Tabuk, dan ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam keadaan yang sulit, diriwayatkan dalam sirah Ibn Hisham bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan dan menyampaikan tausiah kepada para sahabat untuk bershadaqah, barangkali diantara mereka ada yang dapat membantu dengan hartanya, jika diantara mereka mempunyai tunggangan (onta,kuda atau keledai) lebih atau memiliki simpanan senjata yang banyak, mungkin memiliki simpanan makanan yang banyak atau yang lainnya untuk dijadikan sebagai persiapan untuk menuju Tabuk, karena perjalanan menuju Tabuk merupakan perjalanan terjauh dalam peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka sayyidina Utsman bin Affan Ra adalah orang pertama yang menanggapi dan menjawab apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di saat para sahabat yang lainnya terdiam, seraya berkata : “Wahai Rasulullah, dariku 1000/100 Dinar untuk persiapan perang Tabuk”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meneteskan air mata dan mengangkat tangannya seraya berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala :
اَللّهُمَّ ارْضَ عَنْ عُثْمَانَ فَإِنِّي عَنْهُ رَاضٍ
“ Ya Allah ridhailah Utsman, sesungguhnya aku telah ridha terhadapnya” Maka ketika itu keberangkatan menuju Tabuk segera dipersiapkan, yang mana tujuan dari perjalanan tersebut adalah untuk menahan pasukan Romawi yang akan menyerang Jazirah Arab melalui wilayah Tabuk, dimana Tabuk merupakan daerah pantai. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin menahan mereka agar tidak masuk ke wilayah muslimin, sehingga Rasulullah dan pasukan muslimin berangkat untuk menunggu pasukan Romawi di pantai Tabuk, yang mana keberangkatan itu terjadi pada akhir bulan Jumadil Tsani, dalam riwayat lain terjadi pada awal bulan Rajab. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw untuk tetap berada di Madinah Al Munawwarah, maka beliau pun menetap di Madinah meskipun ada perasaan kecewa dalam diri beliau, terlebih lagi dengan munculnya perkataan dari sebagian orang yang berkata bahwa sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah pemuda yang kuat dan memiliki kehebatan dalam peperangan namun diperintahkan untuk tidak ikut dalam peperangan akan tetapi hanya menetap di Madinah untuk menjaga kaum wanita dan anak-anak. Mendengar hal itu sayyidina Ali Kw langsung mengambil pedang, perisai dan peralatan perang yang lainnya kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Wahai Rasulullah, engkau akan berangkat untuk perang dan meninggalkan aku disini bersama para wanita dan anak-anak kecil”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُوْنَ مِنْ مُوْسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِيْ
“ Tidakkah engkau rela/senang jika engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku” Demikianlah cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menenangkan sayyidina Ali Kw yang penuh dengan semangat juang ini agar tidak kecewa atau merasa diremehkan karena tidak diikutsertakan dalam perang Tabuk dan tidak bisa ikut serta mendapatkan pahala jihad, terlebih beliau selalu ingin melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun Rasulullah mengetahui bahwa perang Tabuk bukanlah peperangan yang besar, oleh sebab itu beliau diperintahkan untuk tetap berada di Madinah Al Munawwarah untuk mentarbiyah (mendidik) jiwa, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Murabbi (pendidik) yang paling mulia dan agung dari semua murabbi. Maka merasa tenanglah sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw setelah mendengar perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau pun kembali ke Madinah Al Munawwarah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama pasukan muslimin terus bergerak menuju Tabuk. Dan saat itu ada salah seorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, izinkalah aku untuk tidak ikut dalam peperangan agar aku tidak terjebak dalam fitnah karena aku adalah orang yang sangat menyukai wanita cantik, dan di Tabuk banyak wanita cantik sehingga aku tidak tergoda oleh mereka, maka lebih baik aku tidak mengikuti peperangan”, namun sebaliknya dengan alasannya tersebut justru akan menjebaknya dalam fitnah karena memisahkan diri dari pasukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin. Karena Rasulullah shallallahu wasallam jika mendapatkan seseorang yang berhalangan untuk ikut perang dengan alasan yang dapat diterima maka pastilah beliau mengizinkannya dan Allah juga akan mengizinkannya, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dengan firmanNya. Begitupula ketika kaum munafik berkata kepada sebagian yang lainnya untuk tidak berangkat dalam peperangan itu karena cuaca yang sangat panas, kemudian Allah subhanahu wata’ala memfirmankan ucapan mereka dalam Al qur’an :
فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا
أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ
حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُوْنَ
( التوبة : 81 )“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas (nya)", jika mereka mengetahui.” ( QS. At Taubah : 81 ) Maka diantara orang-orang munafik itu ada yang bertobat dan ada juga yang tetap di tempatnya dan tidak mengikuti peperangan. Dan dalam sirah Ibn Hisham disebutkan bahwa ada diantara kaum munafik yang menginap di suatu tempat dan membicarakan keberangkatan ke Tabuk kemudian di pagi harinya didapati tubuh mereka telah hangus dan tidak seorang pun dari mereka yang masih hidup. Kemudian ada beberapa orang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ingin mengikuti perang tabuk namun tidak memiliki kendaraan, sedangkan semua tunggangan yang ada sudah ada yang menungganginya, maka Rasulullah tidak mengizinkan mereka dan bersumpah bahwa mereka tidak akan bisa ikut dalam perang Tabuk. Maka mereka merasa sangat sedih dan menangis, dan ketika itu datanglah beberapa orang yang membawa hewan tunggangan baru, kemudian Rasulullah mengkafarti sumpahnya dan mengizinkan mereka untuk ikut dalam perang Tabuk, dan ketika itu berubahlah wajah sang nabi menjadi cerah yang tadinya juga merasa sedih karena tidak bisa membawa mereka ikut serta dalam perang Tabuk. Di tengah perjalanan Abu Khaitsamah menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukan muslimin, dimana ketika itu beliau pergi ke luar Madinah dan setelah kembali ke Madinah beliau mendapati Madinah sepi dari para kaum lelaki, yang ada hanyalah kaum wanita dan anak-anak, dan di saat itu istri Abu Khaitsamah telah menyambut kepulangannya dengan menyirami tanah dengan air kemudian menutupinya dengan tikar agar terasa sejuk, dan juga telah menyiapkan makanan dan minuman untuk menyambut suaminya akan datang, maka setelah tiba di depan rumah ia berkata : “Disini akan kudapati tempat yang sejuk serta makanan dan minuman telah disiapkan, sedangkan di saat ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di bawah panas matahari dalam keadaan haus dan lapar, demi Allah aku tidak akan masuk ke dalam rumah ini”, kemudian ia berkata kepada istrinya : “siapkan untukku perbekalan untuk aku menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukan kaum muslimin”, kemudian beliau pun menyusul pasukan Rasulullah dan kaum muslimin menuju Tabuk. Di tengah perjalanan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukan sedang beristirahat, salah seorang berkata : “ Wahai Rasulullah, ada seseorang yang menunggangi kuda datang menuju kesini”, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “ (jadilah) orang yang datang itu adalah Abu Khaitsamah”, dan ternyata benar orang itu adalah beliau. Kemudian beliau meminta maaf akan keterlambatannya karena beliau tidak mengetahui hal tersebut, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun ridha dan mendoakannya dengan kebaikan. Beberapa saat terdengar ucapan diantara orang-orang yang ada dalam perjalanan ke Tabuk “mengapa si fulan tidak ikut”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas berkata : “Biarkanlah mereka, jika Allah menghendaki maka mereka akan berangkat dan jika Allah tidak menghendaki maka mereka tidak akan berangkat”. Setelah beberapa waktu dan mereka sedang beristirahat, terlihat dari kejauhan seseorang yang sedang berjalan kaki dengan membawa barang-barang di punggungya, maka salah seorang berkata : “Wahai Rasulullah, ada seseorang berjalan kaki menuju kesini”, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “(jadilah) orang yang datang itu adalah Abu Dzar Al Ghifari”, dan ternyata benar yang datang adalah sayyidna Abu Dzar, dimana keledai beliau sudah sangat lemah sehingga ia berjalan kaki dan memikul barang-barangnya serta menuntun keledainya, karena tidak ingin membebani keledainya yang sudah sangat tua dan lemah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
رَحِمَ اللهُ أَبَا ذَرِّ يَمْشِيْ وَحْدَهُ وَيَمُوْتُ وَحْدَهُ وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ
“ Semoga Allah melimpahkan rahmatNya untuk Abu Dzar yang
berjalan sendirian, dan akan wafat dalam keadaan sendirian, dan akan
dibangkitkan sendirian” Suatu hari ketika sedang bermalam di suatu tempat, tunggangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hilang, dan ketika itu banyak golongan orang munafik yang juga ikut dalam perang Tabuk yang mana mereka hanya menginginkan harta yang akan didapatkan dari pasukan Romawi jika kaum muslimin mengalahkan mereka, maka diantara orang munafik itu ada yang berkata : “Bukankah ia nabi dan mendapatkan wahyu dari langit, tapi mengapa hewan tunggangannya hilang namun ia tidak tau dimana tunggangannya berada”, dan ketika itu sayyidina Umarah yang mendengar ucapan tersebut lantas pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Aku tidak mengetahui sesutu kecuali sesuatu yang telah diberitaukan oleh Allah, dan ontaku saat ini terjebak di sebuah pepohonan di suatu tempat”. Maka Abu Umarah marah terhadap temannya yang munafik itu yang ikut satu tunggangan bersamanya, lalu Abu Umarh berkata kepadanya : “Mulai saat ini engkau jangan ikut bersamaku, kembali saja ke Madinah”. Kemudian perjalanan dilanjutkan, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhadapan dengan sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja Yohana, dimana raja itu beragama Nasrani dan menolak untuk masuk Islam namun tetap ingin menjalin hubungan baik dengan Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Jika engkau tidak ingin berperang karena kami akan menuju Tabuk, maka engkau harus membayar Jizyah (pajak bagi orang non muslim)”, sehingga masalah Jizyah ini oleh orang-orang yang ingin mengadu domba antara ummat Islam dan orang non muslim, dengan mengatakan bahwa kekejaman ummat Islam adalah mengharuskan kaum non muslim untuk membayar Jizyah, padahal Jizyah adalah sebagaimana pajak yang harus dibayar oleh orang-orang non muslim yang mampu, dan uang tersebut dipergunakan untuk membayar pasukan untuk menjaga mereka, dan jumlah Jizyah jauh lebih sedikit daripada zakat. Maka raja Yohana memilih untuk membayar Jizyah, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis perjanjian kepada raja Yohana, diantara perjanjian itu adalah adalah :
سُفُنُهُمْ وَسَيَّارَاتِهِمْ فِي اْلبَرِّ وَاْلبَحْرِ لَهُمْ ذِمَّةُ اللهِ وَذِمَّةُ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ
“ Kapal-kapal dan kendaraan/tunggangan mereka yang ada di
daratan atau di lautan berada dalamdzimmah ( jaminan) Allah dan Muhammad
rasulullah” Karena mereka telah membayar Jizyah, maka berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membayar para pasukan dari uang Jizyah yang mereka berikan untuk melindungi diri mereka dan harta mereka, sungguh indah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap orang-orang non muslim yang tidak memerangi Islam dan mau untuk membayar Jizyah. Sehingga disebutkan bahwa bagi mereka (non muslim) ada jaminan (penjagaan) Allah dan RasulNya. Kemudian di suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan sayyidina Khalid bin Walid untuk menemui raja Ukaidar di wilayah dekat dengan Tabuk, dan diberitahukan kepada beliau bahwa raja itu akan keluar dengan dua atau tiga orang saja, kemudian memerintah untuk menangkapnya. Lalu sayyidina Khalid bin Walid bersama beberapa pasukan keluar menuruni benteng dan mendekati istana raja Ukaidar, dan ketika itu beliau mendapati raja Ukaidar sedang keluar dan dalam keadaan kebingungan. Raja Ukaidar adalah orang yang suka menangkap kerbau-kerbau buas, tiba-tiba di saat itu kerbau-kerbau itu banyak yang keluar maka ia pun keluar dari istana dengan kebingungan, di saat itu ditangkaplah ia dan dilepaslah jubahnya dan dibawa kehadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika melihat pakaian raja Ukaidar yang terbuat dari sutera dan tenunan dari benang-benang emas, para sahabat pun merasa takjub karena belum pernah menemui pakaian seindah itu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Apakah kalian merasa takjub dengan keindahan pakaian raja Ukaidar ini!?, sungguh sapu tangan Sa’ad bin Muadz jauh lebih indah dan lebih berharga daripada pakaian raja Ukaidar ”. Kemudian raja Ukaidar pun membayar Jizyah dan tidak lama kemudian ia pun masuk Islam, akan tetapi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat ia murtad (kembali pada agamanya), sehingga ia diperangi dan meningga di masa sayyidina Abu Bakr As Shiddiq Ra. Di tempat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pasukan berdiam sampai 10 hari namun pasukan Romawi tidak juga tiba, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukan mengarah untuk kembali ke Madinah Al Munawwarah, dalam perjalanan beliau dan kaum muslimin membangun 17 Masjid diantara Tabuk dan Madinah Al Munawwarah. Sesampainya di Madinah, sayyidina Ka’ab bin Malik datang terengah-engah dengan menagis menghadap Rasulullah dan berkata : “Wahai Rasulullah, maafkan aku karena tidak ikut berangkat bersama kalian ke Tabuk”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa beliau belum bisa memberi jawaban apakah taubatnya diterima oleh Allah sebelum ada perintah dari Allah subhanahu wata’ala, di saat itu ada 3 orang sahabat yang tidak ikut dalam perjalanan ke Tabuk, mereka adalah sayyidina Sa’ad Ibn Malik, Murarah bin Rabi’ah dan Hilal bin Umayyah, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ
الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا
أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ
لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
( التوبة : 118 )“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”. ( QS. At Taubah : 118 ) Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada 3 orang tersebut jika mereka ingin bertobat maka seluruh kaum Muslimin di Madinah tidak boleh ada seseorang pun yang mengajak berbicara dengan mereka kecuali hanya diantara 3 orang tersebut, sebagai hukuman untuk mereka sampai ada perintah dari Allah yang memutuskan bahwa tobat mereka diterima oleh Allah. Maka dengan keadaan tersebut mereka mereka merasa tersiksa dan hal itu pun berlanjut hingga 30 hari, dan di hari ke 40 turun perintah yang lebih keras dari Allah yaitu untuk berpisah dengan istri dan keluarganya dan tidak boleh berjumpa dengan mereka, kemudian di hari yang ke 50 turunlah wahyu dari Allah subhanahu wata’ala bahwa Allah menerima tobat ketiga orang tersebut, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil mereka, kemudian mereka mencium tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dalam riwayat lain beliau mencium lutut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena gembira, maka kejadian ini juga merupakan dalil dari beberapa dalil yang ada akan diperbolehkannya mencium tangan. Selanjutnya kita bersalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kalimat talqin dan doa penutup oleh Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, yataffaddhal masykuraa. |
Kamis, 22 November 2012
dinosaurus atau manusia yang lebih dulu
Pertanyaan:
Duluan mana Dino sama Nabi Adam? Pas meteor menghantam bumi, Nabi Adamnya ke
mana? Aku nanya ke ust….tentang Dino, mereka bilang Dinosaurus itu gak ada
alias Cuma hayalan manusia aja. Tapi yah Ustadz, kalau misal nyata kok banyak
ditemuin kerangka kerangka dino sih ya. Apa itu buatan orang2 Amrik aja ato
gimana sih ustad? (Nina)
Jawaban:
1. Sesungguhnya manusia adalah “Produk Akhir” keseluruhan
ciptan Allah. Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ
قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِى فَقَالَ « خَلَقَ اللَّهُ
عَزَّ وَجَلَّ التُّرْبَةَ يَوْمَ السَّبْتِ وَخَلَقَ فِيهَا الْجِبَالَ يَوْمَ الأَحَدِ
وَخَلَقَ الشَّجَرَ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَخَلَقَ الْمَكْرُوهَ يَوْمَ الثُّلاَثَاءِ
وَخَلَقَ النُّورَ يَوْمَ الأَرْبِعَاءِ وَبَثَّ فِيهَا الدَّوَابَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ
وَخَلَقَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بَعْدَ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فِى
آخِرِ الْخَلْقِ وَفِى آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ الْجُمُعَةِ فِيمَا بَيْنَ الْعَصْرِ
إِلَى اللَّيْلِ ». (رواه مسلم)
Artinya: Allah menciptakan tanah
(bumi) pada hari sabtu, menciptakan gunung-gunung di atasnya pada hari ahad, menciptakan
pepohonan pada hari Senin, menciptakan yang buruk-buruk pada hari Selasa,
menciptakan cahaya pada hari rabu, menciptakan binatang melata padanya pada
hari kamis dan menciptakan Adam AS sebagai ciptaan terakhir pada waktu terakhir
hari Jum’at yaitu antara asar hingga malam hari” (HR Muslim).
Dari sini dapat diketahui bahwa
makhluk kuno sejenis Dino – jika benar ada – lebih dahulu dari Adam AS karena
ia termasuk dalam kategori “Dabbah” (binatang melata) yang diciptakan
pada hari kamis.
2. Berdasarkan jawaban di atas pula dapat diketahui bahwa
saat meteor jatuh memporak-porandakan bumi adalah jauh sebelum Adam
diciptakan.
3. Zaman Dinosaurus menurut para penemunya – jika pun
benar-benar ada – adalah jutaan tahun yang silam. Padahal masa hidup Nabi Adam
tidak lebih dari 100.000 (seratus ribu tahun) yang lalu. Maka masa hidup
Dinosaurus jauh lebih tua dari masa Adam AS.
4. Yang namanya berita kemungkinan benar kemungkinan juga
salah. Demikian juga soal Dinosaurus ini. sejumlah ilmuwan meyakini kebenarannya
berdasarkan bukti penemuan ilmiah. Tetapi tidak sedikit di antara mereka –
seperti Harun Yahya – menolak keberadaannya. Percaya atau tidak tidak ada
masalah. Hanya saja ketika kita hendak menolak atau menyetujui sebuah karya
ilmiyah maka harus menggunakan kaidah dan kajian ilmiah pula. Jika tidak, maka
yang paling baik adalah diam dengan tidak memberikan komentar. Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا (الاسراء:36)
Artinya;
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya” (Al Isra: 36).
KH Syarif Rahmat RA, SQ, MA
Mandi Tujuh Sumur Sunnah Rasulullah SAW
عن عائشة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : بَعْدَمَا دَخَلَ بَيْتَهُ وَاشْتَدَّ وَجَعُهُ هَرِيقُوا
عَلَيَّ مِنْ سَبْعِ قِرَبٍ لَمْ تُحْلَلْ أَوْكِيَتُهُنَّ لَعَلِّي
أَعْهَدُ إِلَى النَّاسِ وَأُجْلِسَ فِي مِخْضَبٍ لِحَفْصَةَ زَوْجِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ طَفِقْنَا نَصُبُّ
عَلَيْهِ تِلْكَ حَتَّى طَفِقَ يُشِيرُ إِلَيْنَا أَنْ قَدْ فَعَلْتُنَّ
ثُمَّ خَرَجَ إِلَى النَّاسِ
(صحيح البخاري)Dari Aisyah ra berkata, sabda Rasulullah saw: "Ketika Nabi saw telah masuk ke dalam rumah dan sakit beliau semakin parah , beliau bersabda: "Siramkan air kepadaku dari tujuh geriba yang belum dilepas ikatannya, sehingga aku dapat memberi pesan kepada orang-orang". Kemudian nabi saw didudukkan di dalam ember besar milik Hafsah, istri Nabi SAW maka kami segera menyiramkan air kepada beliau hingga beliau memberi isyarat kepada kami, bahwa kalian(istri-istri Rasulullah SAW) telah melakukannya, setelah itu beliau keluar menemui orang-orang." (Shahih Bukhari)
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ
اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ
اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا
لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا
الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ
قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ
وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur,
Yang Maha bercahaya dan membagi-bagikan cahaya kenikmatan dan
kebahagiaan sepanjang waktu dan zaman serta menyiapkan kebahagiaan yang
kekal di surga untuk hamba-hamba yang mengabdi kepada-Nya, menyiapkan
pengampunan untuk setiap kesalahan sehingga tiada dosa yang tidak
terampuni oleh pengampunan Ilahi, semua dosa dan kesalahan diampuni oleh
Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana makna sebuah hadits Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa semua dosa diampuni oleh Allah
subhanahu wata’ala kecuali dosa syirik, yaitu menyembah kepada selain
Allah, namun maksud dari hadits tersebut adalah bahwa syirik termasuk
dosa yang tidak diampuni oleh Allah jika seseorang wafat dalam keadaan
itu dan belum bertobat atau kembali kepada Islam dan menyembah Allah
semata, namun jika ia bertobat dan kembali kepada Islam maka dosanya
diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala. Jadi pada hakikatnya semua dosa
diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala, namun terdapat orang-orang yang
meninggal dalam keadaan masih membawa dosa dan belum memohon pengampunan
kepada Allah maka ia akan mendapat pencucian dosa ketika dalam keadaan
sakaratul maut atau ketika ia berada di dalam kuburnya atau di dalam
neraka namun pencucian dosa tersebut tidaklah abadi. Karena semua
manusia yang mengakui dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan
nabi Muhammad utusan Allah maka ia akan sampai ke surga Allah meskipun
di waktu yang terlambat dan sangat lama, sebagaimana sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa seseorang
yang mengucapkan “Laa ilaaha illaa Allah” tulus dari dalam hatinya maka
Allah subhanahu wata’ala mengharamkannya dari api neraka. DanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :
حَرَّمَ اللهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُوْدِ
“ Allah subhanahu wata’ala telah mengharamkan api neraka untuk memakan bekas sujud (anggota-anggota sujud)”Adapun anggota sujud itu adalah dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua kaki. Maka anggota yang digunakan untuk bersujud kepada Allah tidak akan disentuh oleh api neraka, karena Allah telah mengharamkan api neraka untuk menyentuh bekas anggota yang digunakan untuk bersujud. Jika anggota tubuh yang bersujud telah Allah haramkan api neraka untuk menyentuhnya, maka terlebih lagi jika yang bersujud (tunduk kepada Allah) adalah hati, maka sungguh ia akan terhindar dari api neraka dan seluruh siksaan, itulah makna daripada kalimat “Laa ilaaha illallah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
مَن اغْبرَّتْ قَدمَاهُ في سبيل اللَّهِ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلى النَّارِ
“ Barangsiapa yang kedua kakinya berdebu (karena berjalan) di jalan Allah, maka Allah mengharamkannya dari api neraka”Demikianlah amalan-amalan yang sangat mudah akan terus dan senantiasa menjauhkan seorang hamba dari siksa api neraka . Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Al qur’an, yang menjelaskan keadaan hamba-hamba yang selalu berdosa dan bermaksiat kepada Allah, dan disaat sel-sel kulit mereka bersaksi atas dosa-dosa mereka, maka mereka bertanya kepada kulit mereka mengapa ia bersaksi atas dosa-dosa mereka padahal kulit itu bersatu dengan mereka, sebagaimana firman-Nya:
وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا
اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ
وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
( فصلت : 21 )“Dan mereka berkata kepada kulit mereka: Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. ( QS. Fusshilat : 21 )
Maka berusahalah untuk selalu menjaga diri kita dari perbuatan dosa, dan jika terjebak dalam suatu perbuatan dosa maka segera memohon perlindungan dan pengampunan kepada Allah subhanahu wata’ala.
Allah subhanahu wata’ala berfirman :
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا، وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ
أَثْقَالَهَا، وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا، يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ
أَخْبَارَهَا، بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا، يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ
النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ، فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
( الزلزلة : 1- 8 )“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (jadi begini)?", pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” ( QS. Az Zalzalah : 1-8 )
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa di hari kiamat bumi akan memuntahkan segala pendamannnya, dan jasad yang telah hancur dan menjadi tulang belulang akan ditumbuhkan kembali oleh Allah subhanahu wata’ala sebagaimana Allah menumbuhkan jasad dari sebuah sel mani, bumi memuntahkannya karena jasad-jasad para pendosa itu memberatkan bumi, maka jasad-jasad itu dikeluarkan oleh bumi untuk menghadap Allah subhanahu wata’ala di padang Mahsyar. Maka ketika melihat kejadian itu manusia kaget dan kebingungan, dimana ketika itu bumi memuntahkan semua manusia yang pernah hidup dari zaman nabi Adam AS hingga manusia yang terakhir hidup hingga hari kiamat. Di hari itu bumi menceritakan seluruh riwayat hidup setiap manusia, dari perbuatan baik dan perbuatan jelek mereka selama mereka hidup di atas bumi, karena perintah Allah kepada bumi untuk menyingkap seluruh kejadian yang ia saksikan atas manusia yang pernah hidup di muka bumi. Di saat itu manusia berdesakan untuk melihat amalan-amalan mereka, karena setiap huruf yang keluar dari bibir seorang hamba, setiap hal apa yang ia dengar atau ia lihat, akan mereka dapatkan balasannya, maka beruntunglah hamba yang memperbanyak istighfar dan berdzikir. Maka amalan baik sekecil apapun pasti akan didapati balasannya, begitu juga sebaliknya perbuatan sekecil apapun akan didapati balasannya. Semua amal perbuatan kita akan kita lihat balasannya kelak di hari kiamat, maka beruntunglah orang yang memperbanyak istighfar memohon pengampunan dosa serta memperbanyak ibadah untuk menutup dosa-dosanya. Dalam sebuah riwayat di Shahih Al Bukhari disebutkan ketika seorang pemuda datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menangis dan berkata bahwa ia telah banyak melakukan dosa dan merasa bahwa ia tidak akan mungkin mendapatkan pengampunan Allah subhanahu wata’ala, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya diam dan tidak menjawabnya, maka Allah subhanahu wata’ala Yang Menjawab dengan firman-Nya:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
(هود : 114 )“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk”. ( QS. Huud : 114 )
Jika kita merasa telah banyak melakukan dosa maka perbanyaklah berbuat kebaikan, dan banyak cara untuk hal ini seperti bersedekah, melakukan shalat sunnah, berdzikir, bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berbakti kepada kedua orang tua baik mereka muslim atau pun non muslim maka seseorang haruslah tetap berbakti kepada keduanya, namun tidak mengikuti apa yang mereka sembah dari selain Allah. Dan jika seandainya orang tua kita adalah orang yang dhalim, fasiq seperti peminum arak, penjudi, atau pezina dan lainnya maka janganlah mereka dibenci, karena mereka yang bertanggung jawab di hadapan Allah subhanahu wata’ala, sedangkan kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban akan perbuatan mereka, namun kita senantiasa mengingatkan mereka semampunya dengan sopan santun dan cara yang baik, adapun jika kita mengahardiknya maka kita akan mendapat dosa sebagai anak yang durhaka terhadap orang tua, dan jika hal ini terjadi maka keduanya (anak dan ayah) sama-sama berada dalam kedhaliman, maka tetaplah berbuat baik terhadap orang tua yang fasiq, namun senantiasa berusaha semampunya untuk mengajaknya kepada hal-hal yang baik.
Selanjutnya kita bahas hadits yang kita baca tadi, dimana hadits tersebut menjadi dalil atas orang-orang yang membantah bahwa mandi dengan 7 macam air adalah merupakan adat yang syirik. Disebutkan dalam hadits tersebut bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sakitnya mulai parah, beliau meminta air dari 7 buah girbah untuk membasuh tubuh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, girbah adalah sebuah kantong air yang terbuat dari kulit kambing yang salah satu sisinya dijahit dan sisi yang lainnya diikat, yang mana jika girbah itu tertiup angin maka air di dalam girbah itu akan menjadi dingin. Dalam hal ini Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany dalam Fath Al Baari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan bahwa ada sebuah riwayat dari Al Imam Thabrani menjelaskan bahwa yang diminta oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah air dari 7 Gerbah akan tetapi air dari 7 sumur, namun dalam riwayat Shahih Al Bukhari adalah air dari 7 girbah. Akan tetapi hal ini menunjukkan bahwa mandi dengan air dari 7 sumur bukanlah adat-adat kejawen yang menyimpang dari syariat Islam, namun mandi dari air yang berasal dari 7 sumur adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka hal tersebut bukanlah hal yang syirik atau bid’ah, akan tetapi orang yang tidak memahaminya mengatakan bahwa hal itu adalah syirik dan bid’ah. Al Imam Ibn Hajar menjelaskan bahwa maksud daripada mandi dengan 7 macam air atau dari 7 sumur yang berbeda atau 7 sumber air yang berbeda adalah sebagaimana manusia diciptakan dari air dan tanah, maka air yang keluar dari tanah yang diambil dari 7 macam atau 7 wilayah yang berbeda maka hal itu membawa kesembuhan untuk tubuh, karena sebagaimana hadits tadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berobat dengan 7 macam air atau 7 gerbah yang berbeda. Banyak hal-hal yang harus kita fahami yang mana banyak kelompok orang yang menentang dan menyelewengkannya, sehingga mengatakan sesuatu yang sunnah sebagai hal yang bid’ah dan lain sebagainya. Sedikit akan saya jelaskan, sebagaimana ada sebagian orang yang menentang saya bahkan mereka memaparkannya dalam sebuah website khusus yang diantaranya “Penyelewengan Habib Munzir tehadap ucapan Al Imam Syafii”, mereka mengatakan bahwa dalam tulisan aslinya Al Imam Syafii berkata bahwa makruh hukumnya membangun masjid di samping kuburan , padahal Al Imam Syafii mengatakan hal tersebut makruh jika bertujuan untuk fakhr (membangga-banggakan) akan tetapi jika bertujuan untuk memuliakan orang shalih yang ada disitu maka hal tersebut merupakan hal yang sunnah, namun ucapan ini tidak mereka sebutkan, mereka hanya menyebutkan perkataan Al Imam Syafii yang memakruhkan membangun masjid di samping kuburan. Adapun makruh secara bahasa bermakna “dibenci”, sedangkan secara syar’i adalah suatu perbuatan yang jika dikerjakan tidak mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan mendapatkan pahala. Akan tetapi ucapan Al Imam As Syafi’I menunjukkan bahwa membangun masjid di sebelah kuburan para shalihin karena memuliakan mereka atau bertabarruk kepada mereka bukanlah hal yang diharamkan. Al Imam An Nawawi memperjelas dalam Syarah Nawawiyah ‘alaa Shahih Muslim bahwa membangun masjid di sebelah perkuburan para shalihin adalah sesuatu yang dianjurkan dengan syarat tidak menjadikan kiblat ke arah perkuburan itu dan tidak menjadikan kuburan tersebut terinjak-injak oleh orang-orang yang melakukan shalat di masjid tersebut, namun yang dilarang adalah jika menjadikan masjid di atas kuburan sehingga orang yang melakukan shalat di masjid tersebut akan menginjak kuburan itu. Kita ketahui bahwa kuburan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga berada di dalam masjid, namun tidak terinjak oleh orang yang berada di dalam masjid karena terdapat batas-batas yang sangat jelas sehingga kita tidak melintasinya apalagi menginjaknya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Mutiara-mutiara keridhaan Ilahi senantiasa menawarkan kasih sayangNya kepada kita, kelembutan-Nya tidak pernah sirna, Yang mana telah berfirman dalam hadits qudsi riwayat Shahih Al Bukhari :
إِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا -وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبْتُ ذَنْبًا-
فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ -وَرُبَّمَا قَالَ أَصَبْتُ- فَاغْفِرْ لِى
فَقَالَ رَبُّهُ أَعَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ
وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِيَ. ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ
ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا أو أَذْنَبَ ذَنْبًا، فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ
-أَوْ أَصَبْتُ- ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى. فَقَالَ أَعَلِمَ عَبْدِى
أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ
لِعَبْدِيْ، ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْبًا -
وَرُبَّمَا قَالَ أَصَابَ ذَنْبًا -قَالَ رَبِّ أَصَبْتُ- أَوْ أَذْنَبْتُ-
ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ أَعَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا
يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِى – ثلاثا-
فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ
“ Sesungguhnya ada seorang hamba yang melakukan dosa, kemudian
ia berkata : “Wahai Tuhanku, aku telah berdosa maka ampunilah aku”, maka
Allah berfirman : “Tahukah hamba-Ku ini bahwa ia mempunyai Tuhan Yang
mengampuni dosa, maka Aku mengampuni hambaKu”. Kemudian hamba itu
berhenti berbuat dosa sesuai dengan kehendak Allah, setelah itu hamba
tersebut berbuat dosa kembali, kemudian ia berkata : “Wahai Tuhanku, aku
telah berdosa maka ampunilah aku”, maka Allah berfirman : “Tahukah
hamba-Ku ini bahwa ia mempunyai Tuhan Yang mengampuni dosa, maka Aku
mengampuni hambaKu”. Kemudian hamba itu berhenti berbuat dosa sesuai
dengan kehendak Allah, setelah itu hamba tersebut berbuat dosa kembali,
kemudian ia berkata : “Wahai Tuhanku, aku telah berdosa maka ampunilah
aku”, maka Allah berfirman : “Tahukah hamba-Ku ini bahwa ia mempunyai
Tuhan Yang mengampuni dosa, maka Aku mengampuni hambaKu”, maka
lakukanlah apa yang ia mau”.Demikian indahnya Rabbul ‘alamin, Yang Maha Baik dan Maha Sempurna yang melimpahakan kasih sayang dan kenikmatan kepada yang beriman atau pun yang tidak beriman, inilah rahasia kelembutan ilahi yang tidak akan kita temukan pada semua makhluk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa tidak ada yang lebih bersabar dari Allah subhanahu wata’ala, dimana hamba-hambaNya selalu bermaksiat kepadaNya namun Dia senantiasa menanti tobat hamba-hambaNya.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ
إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ
إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ
السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا
نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ
تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
Kamis, 15 November 2012
menggelengkan kepala saat dzikir
Atau memang murni ajaran Rasulullah SAW. mengingat belum ditemukan hadits yang menerangkan hal itu. Hanya saja sebagian masyarakat mengakui bahwa gerakan itu mempermudah konsentrasi dalam berdzikir. Tentunya hal ini sangat bernilai positif. Akan tetapi bila dipertanyakan apakah gerakan itu sunnah, atau makruh atau apapun hukumnya? maka hal yang positif tidak selamanya sejalan dengan hukum syariat.
Namun demikian, guna mendapatkan informasi mengenai hukum menggeleng-gelengkan kepala dalam berdzikir, patut kiranya menelusuri terlebih dahulu apa itu dzikir.
Dalam al-Baqarah 152 Allah memerintahkan kepada makhluqnya untuk senantiasa mengingat-Nya.
فاذكرونى اذكركم...
“Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu”artinya dzikir adalah sebuah tindakan yang bertujuan untuk mengingat Allah swt sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam konteks “ingat kepada Allah” ini umat Islam tidak pernah lepas dari tiga hal: doa, wirid dan zikir. Doa adalah permintaan atau permohonan sesuatu kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Wirid merupakan bacaan tertentu untuk mendapatkan 'aliran' berkah dari Allah. Sedangkan zikir adalah segala gerak-gerik dan aktivitas yang berobsesi pada kedekatan atau taqarrub kepada Allah. Me-lafadz-kan atau melafalkan kata-kata tertentu yang mengandung unsur ingat kepada Allah, juga termasuk zikir. Zikir sangat penting karena dalam pandangan kesufian ia merupakan langkah pertama cinta kepada Allah.
Ada dua macam zikir atau ingat kepada Allah: pertama, dzikr bil-lisan, yaitu mengucapkan sejumlah lafaz yang dapat menggerakkan hati untuk mengingat Allah. Zikir dengan pola ini dapat dilakukan pada saat-saat tertentu dan tempat tertentu pula. Misalnya, berzikir di mesjid sehabis salat wajib. Kedua, dzikr bil-qalb, yaitu keterjagaan hati untuk selalu mengingat Allah. Zikir ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, tidak ada batasan ruang dan waktu. Pelaku sufi lebih mengistimewakan dzikr bil-qalb ini karena implikasinya yang hakiki. Meskipun demikian, sang dzakir (seseorang yang berzikir) dapat mencapai kesempurnaan apabila ia mampu berzikir dengan lisan sekaligus dengan hatinya.
Dengan demikian, orientasi zikir adalah pada penataan hati atau qalb. Qalb memegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena baik dan buruknya aktivitas manusia sangat bergantung kepada kondisi qalb.
Oleh karena itulah semulia-mulia makhluq adalah mereka yang senantiasa berdzikir mengingat Sang Pencipta. Dalam Ali Imran 191 diterangkan bahwa:
الَّذِينَ
يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ
وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا
خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami
dari siksa neraka.Ayat di atas juga dapat digunakan sebagai petunjuk bahwasannya berdzikir kepada Allah swt sangat dianjurkan dalam berbagai kesempatan dan kondisi. Tidak hanya ketika khusyu’ berdiam diri (tuma’ninah) tetapi juga ketika beraktifitas, qiyaman wa qu’udan baik berdiri maupun duduk, bahkan juga ketika berbaring wa a’la junubihim. Apalagi hanya sekedar menggeleng-gelengkan kepala, selagi hal itu memiliki pengaruh yang positif maka hukumnya boleh-boleh saja. bahkan disunnahkan. Hal inilah yang diinformasikan oleh kitab Fatawal Khalili ala Madzhabil Imamis Syafi’i:
... علمت أن الحركة
فى الذكر والقرأة ليست محرمة ولا مكروهة بل هي مطلوبة فى جملة أحوال
الذاكرين من قيام وقعود وجنوب وحركة وسكون وسفر وحضر وغني وفقر ...
… saya jadi mengerti bahwasannya menggerakkan (anggauta badan) ketika
berdzikir maupun membaca (al-qur’an) bukanlah sesuatu yang haram
ataupun makruh. Akan tetapi sangat dianjurkan dalam semua kondisi baik
ketika berdiri, duduk, berbaring, bergerak, diam, dalam perjalanan, di
rumah, ketika kaya, ataupun ketika faqir… Dengan demikian teringat kita dengan tarian sufi yang dinisbatkan kepada Jalaluddin Rumi. Bagaimana dzikir juga diapresiasikan dalam seni tari.
meluruskan makna jihad
Prinsip
dasar Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. adalah penyempurnaan etika
manusia (li-itmam makarim al-akhlaq). Sehingga keberadaan agama Islam
adalah untuk membentuk sebuah tatanan kehidupan manusia yang harmonis,
damai dan sejahtera. Islam diturunkan ke bumi ini sebagai pedoman untuk
umat manusia dalam mengemban misi idealnya sebagai khalifah Allah.
Artinya, umat Islam dituntut untuk selalu menjaga keharmonisan hidup di
tengah dua karakter yang ada dalam dirinya: ifsad fil-ardl
(berkecenderungan membuat kerusakan di muka bumi) dan safk al-dima’
(potensi konflik antar sesama manusia). Tentunya, dalam persoalan
fundamentalisme, radikalisme, maupun terorisme, Islam mempunyai
pandangan dan sikap yang jelas dan juga tegas.
fundamentalisme bahasa Arabnya ialah “al-ushuliyyah”, berarti “mendasar atau disiplin dalam menjalankan kewajiban agama”. “muslim fundamental” berarti seorang muslim yang berhati-hati dalam menjalankan ajaran Islam, seperti shalat lima waktu secara berjamaah, menghindari sesuatu yang tidak jelas kehalalannya.
Sedangkan “radikalisme” bahasa Arabnya adalah “syiddah al-tanatu’”. Artinya, keras, eksklusif, berpikiran sempit, rigid, serta memonopoli kebenaran. Muslim radikal adalah orang Islam yang berpikiran sempit, kaku dalam memahami Islam serta bersifat ekslusif dalam memandang agama-agama lainnya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dikisahkan, ketika Rasulullah Saw membagi fai’ atau harta rampasan perang di daerah Thaif dan sekitarnya, tiba-tiba seorang sahabat yang bernama Dzul-Khuwaishirah dari Bani Tamim melayangkan protes kepada beliau. “Bersikap adillah, wahai Muhammad!”. Nabi Muhammad pun dengan tegas menjawab, “Celaka kamu! Tidak ada orang yang lebih adil dari aku. Karena apa yang kami lakukan berdasarkan petunjuk Allah!” Setelah Dzul-Khuwaishirah pergi, Nabi Muhamamd Saw bersabda,
Hadis sahih di atas kemudian terbukti setelah Nabi Muhammad Saw. wafat. Pada 35 H, Khalifah Usman ibn Affan terbunuh secara mengenaskan oleh sekelompok umat Islam yang ekstrem. Peristiwa ini kemudian terulang pada masa Khalifah Ali ibn Abi Thalib yang juga terbunuh oleh kalangan ekstrem dari umat Islam. Komunitas ekstrem tersebut, sungguh pun pada mulanya bernuansa politik, tetapi perkembangan selanjutnya dirajut dalam sebuah ideologi yang dikenal dengan faham Khawarij. Hal yang menarik, saat Khalifah Ali bin Abi Thalib masih hidup, kelompok ekstrem Khawarij ini sempat memvonis kafir Khalifah Ali bin Abi Thalib atas dasar kesalahan beliau yang membenarkan arbitrase atau tahkim dengan Mu’awiyah. Soalnya, bagi Khawarij, yang berlaku adalah doktrin “laa hukma illa Allah”, bahwa arbitrase itu hanya milik Allah. Khalifah Ali ibn Abi Thalib pun menangkis diplomasi mereka dengan kata-kata singkat, “Untaian kata yang benar, namun tendensius dan mengarah pada yang batil”.
Maka gelombang umat Islam radikal yang berkembang saat ini mempunyai sejarahnya, mereka terpengaruh pada pola-pola Khawarij di masa periode awal sejarah umat Islam. Kelompok umat Islam radikal ini tidak hanya menggelisahkan kalangan non-muslim. Umat Islam pun terkena dampaknya. Karenanya, menjadi tanggung jawab seluruh umat Islam untuk meluruskan pemahaman mereka atas agama Islam. Sikap mereka yang ingin menempuh jalur apa saja, menyalahkan siapa saja yang tak sama pemahamannya, merupakan refleksi dari pemahaman mereka yang “sathiyyah” (setengah-setengah), rigid dan belum tuntas terhadap ajaran Islam.
Kita patut prihatin atas stigmatisasi umat Islam akhir-akhir ini. Hanya karena perbuatan segelintir umat Islam yang sangat dangkal pemahamannya atas ajaran agama, umat Islam secara keseluruhan terkena dampaknya. Umat Islam tidaklah dalam posisi vis-à-vis dengan non-muslim. Umat Islam harus hidup di tengah-tengah masyarakat plural dengan damai. Seperti dicontohkan Rasulullah Saw. saat melihat seorang Yahudi yang dibunuh orang Islam secara zalim. Saat itu beliau bereaksi dengan keras: “Man-qatala dzimmiyan fa ana khasmuh” (Barangsiapa yang membunuh non-Muslim, maka ia akan berhadapan langsung dengan saya). Pola hidup berdampingan seperti inilah yang perlu ditiru umat Islam. Pelaksanaan amar ma’ruf (mendorong untuk berbuat baik) haruslah lebih diutamakan daripada nahy ‘anil munkar (melarang berbuat kemungkaran).
Ini misalnya yang ditunjukkan oleh para sahabat Nabi. Khalifah Umar ibn al-Khattab pernah tidak menghukum pencuri di saat musim paceklik dan masa kelaparan. Dari sini sebuah kaidah agama muncul, yang menyebutkan, “Man kana amruhu ma’rufan, fal yakun bil-ma’ruf. Artinya, siapa yang memerintahkan kebaikan, maka haruslah dengan cara yang baik pula.
Lalu, Bagaimana dengan ajaran tentang jihad yang sering dijadikan alasan radikalisme dalam Islam?
Kata ‘jihad’ berasal dari kata kerja ‘jahada’, berarti usaha, upaya. Jadi, ber-‘jihad’ adalah membangun sesuatu yang sifatnya fisik maupun non-fisik. Sebutan lain yang berasal dari akar kata jihad ini, pertama, adalah “ijtihad”, yang berarti usaha membangun sisi intelektualitas manusia, seperti ijtihad para ulama atau kiai dalam forum bahtsul masail. Kedua, ‘mujahadah’, yang berarti upaya sungguh-sungguh membangun spiritualitas manusia. Kemudian dalam perkembangannya kemudian, jihad mengarah pada pengertian tertentu yang menekankan sesuatu yang sifanya fisik atau material. Sedangkan ijtihad dan mujahadah penekanannya kepada non- fisik atau immaterial. Masing-masing dari ketiganya ini menempati nilai dan posisi tersendiri dalam Islam.
Dari ketiga kata tersebut di atas, ternyata kata ‘jihad’ mendapatkan perhatian lebih dibanding dua kata lainnya. Hanya saja pengetahuan yang terbatas akan referensi Islam mengakibatkan tema jihad dipahami sebagai sebuah gerakan fisik yang berkonotasi kekerasan, kekejaman, kebrutalan dan bahkan pertumpahan darah. Trend pemaknaan jihad seperti ini makin diperparah dengan kemunculan beberapa tragedi kemanusiaan yang diklaim sebagai akibat dari gerakan “Islam garis-keras”. Opini dunia pun mengarah kepada Islam. Islam sebagai agama rahmatan lil-alamin, agama penabur kasih bagi seluruh alam, lagi-lagi menjadi tergugat.
Jama’ah Jum’ah yang berbahagia...
Term “jihad” dilansir dalam al-Qur’an sebanyak 41 kali. Kata tersebut secara lughawi “jahada-yujahidu-jihad wa mujahadah”. Karena itu, jika kita membincangkan “jihad” paling tidak ada dua terma lain yang memiliki kemiripan, yaitu ijtihad dan mujahadah. Baik jihad, ijtihad maupun mujahad berasal dari satu akar kata (musytaqqat) yang memiliki makna keseriusan dan kesungguh-sungguhan.
Untuk memperluas wacana kita dalam diskursus “jihad”, dapat kita rujuk kepada salah satu kitab yang selaku dikaji di pesantren-pesantren, yakni kitab I’anatut Thalibin syarh Fathul Mu’in. Muallif kitab tersebut dengan bahasa sederhana mengemukakan suatu ta’bir yang memiliki makna dan implikasi luar biasa. Menurutnya ”al-jihadu fardhlu kifayatin marratan fi kulli ‘aam”, bahwa jihad itu hukumnya fardhlu kifayah dalam setiap tahun. Kemudian ditambahkan pula, dalam bentuk jihad itu ada empat macam, pertama, itsbatu wujuudillah; kedua, iqamatu syari’atiilah, ketiga qital fi sabilillah dan keempat daf’u dlararil ma’shumin, musliman kana au dzimmiyyan.
Bentuk jihad pertama adalah itsbatu wujudillah, yaitu menegaskan eksistensi Allah swt di muka bumi, seperti dengan melantunkan adzan, takbari serta bermacam-macam dzikir dan wirid. Bentuk kedua adalah iqamatu syari’atillah, menegakkan syariat Allah (baca: nilai-nilai agama), seperti shalat, puasa, zakat, haji, nilai-nilai kejujuran, keadilan, kebenaran, dan sebagainya. Bentuk ketiga, al-qital fi sabilillah, berpegang di jalan Allah, artinya jika ada komunitas yang memusuhi kita dengan segala argumentasi yang dibenarkan agama, maka kita baru dibenarkan berperang sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan Allah. Bentuk keempat, daf’u dlararul ma’shumin musliman kana au dzimmiyyan, yakni mencukupi kebutuhan dan kepentingan orang yang harus ditanggung (oleh pemerintah) baik itu yang muslim maupun kafir dzimmi (termasuk orang kristani, majusi, yahudi serta pemelum-pemeluk agama lainnya yang bukan menjadi musuh). Cara pemenuhan kebutuhan tersebut ditambahkan mushannif I’anah, dengan mencukupi sandang, pangan dan papan. Kalau kita implementasikan di negara kita, peranan Bulog, Perumnas, pabrik tekstil dan sejenisnya jelas menjadi tanggungan pemerintah dan wajib dikelola secara adil dan benar untuk memenuhi kepentingan 200 juta lebih anak bangsa, jika tidak maka pemerintahan tersebut tergolong fajir dan lalim.
Para hadirin Jama’ah Jum’ah Rohimakumulla...
Ingatlah sejarah bangsa kita, dari keempat model jihad tersebut, Rais Akbar NU, Hadlratus-Syaikh KH.Hasyim Asy’ari merupakan ulama yang pernah menterjemahkan makna “jihad” secara kontekstual di bumi Indonesia. Tatkala serdadu sekutu yang dipelopori Inggris datang di Surabaya pada bulan November 1945, beliau secara tegas mengeluarkan resolusi jihad guna memerangi sekutu. Perang yang dimaksud Hadlratus-Syaikh sama sekali tidak dimaksudkan membela ‘agama” an-sich, tetapi guna membela tanah air yang disitu melindungi semua komunitas, baik muslim, kristen, hindu, budha, konghuchu, aliran kepercayaan maupun lainnya.
Hal yang menarik dan perlu dicermati adalah rumusan makna jihad sebagai upaya mengayomi dan melindungi orang-orang yang berhak mendapatkan perlindungan, baik muslim atau non-muslim. Dalam konteks kekinian, rumusan jihad ini akan mendapatkan relevansinya dan terasa membumi ketika seseorang melakukan langkah-langkah aktualisasi berikut -- sebagaimana yang dirumuskan para ulama klasik:
1. al-Ith’am (jaminan pangan)
Jihad dengan mengupayakan masyarakat sekeliling agar mendapatkan hak kelangsungan hidup, seperti sembako, dengan harga terjangkau, santunan bagi masyarakat terlantar, subsidi bagi yang tidak mampu, dan lainnya.
2. al-Iksa’ (jaminan sandang)
Jihad dengan memperjuangkan agar masyarakat mampu memperoleh kebutuhan sandang secara cukup, seperti harga tekstil terjangkau, bahan baku tekstil tercukupi, tersedianya pakaian yang sesuai dengan kemampuan masyarakat, dan lainnya.
3. al-Iskan (jaminan pangan)
Jihad dengan mengusahakan agar masyarakat mampu mendapatkan kebutuhan tempat tinggal, seperti pengadaan rumah sederhana dengan harga terjangkau, melindungi masyarakat dari jerat kredit memberatkan dari para pengembang real estate, dan lainnya.
4. Tsaman al-dawa’ (jaminan obat-obatan)
Jihad dengan mengupayakan agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya atas obat-obatan. Masyarakat diberi kesadaran bahwa tindakan preventif perlu dilakukan agar diri kita terhindar dari sakit dan ketergantungan kepada obat-obatan, seperti: memasyarakatkan obat generik, sosialisasi gaya hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan, subsidi obat murah bagi masyarakat tidak mampu, dan lainnya.
5. Ujrah al-Tamridl (jaminan berobat)
Jihad dengan mengusahakan agar orang-orang yang jatuh sakit tidak terbebani oleh ongkos berobat yang tidak terjangkau. Masyarakat yang terserang penyakit harus mendapatkan layanan yang cukup hingga sembuh. Jihad ini pada tataran aplikasi dapat berbentuk subsidi bagi penderita penyakit, pengadaan puskesmas dengan layanan yang baik dan murah, pengobatan gratis bagi yang tidak mampu, dan lainnya.
Lima kebutuhan dasar (mabadi’ khaira ummah) ini adalah orientasi perjuangan Nabi Muhammad saw ketika berada di Madinah. Lima dasar ini jika benar-benar realisasinya akan melahirkan muslim militan dan fundamentalis, yaitu orang Islam yang berhati-hati dalam menjalankan ajaran Islam.
Akhirnya, kita memang harus benar-benar memahami makna “jihad”. Jihad merupakan upaya pencurahan tenaga secara fisik yang diproyeksikan untuk mengimplementasikan pesan-pesan Tuhan di muka bumi guna mengakurasikan tugas manusia sebagai khalifah-Nya. Berperang dengan angkat senjata hanyalah salah satu dari ribuan macam mode jihad, itupun disertai persyaratan yang harus dipenuhi secara ketat dan syar’i dalam berperang.
fundamentalisme bahasa Arabnya ialah “al-ushuliyyah”, berarti “mendasar atau disiplin dalam menjalankan kewajiban agama”. “muslim fundamental” berarti seorang muslim yang berhati-hati dalam menjalankan ajaran Islam, seperti shalat lima waktu secara berjamaah, menghindari sesuatu yang tidak jelas kehalalannya.
Sedangkan “radikalisme” bahasa Arabnya adalah “syiddah al-tanatu’”. Artinya, keras, eksklusif, berpikiran sempit, rigid, serta memonopoli kebenaran. Muslim radikal adalah orang Islam yang berpikiran sempit, kaku dalam memahami Islam serta bersifat ekslusif dalam memandang agama-agama lainnya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dikisahkan, ketika Rasulullah Saw membagi fai’ atau harta rampasan perang di daerah Thaif dan sekitarnya, tiba-tiba seorang sahabat yang bernama Dzul-Khuwaishirah dari Bani Tamim melayangkan protes kepada beliau. “Bersikap adillah, wahai Muhammad!”. Nabi Muhammad pun dengan tegas menjawab, “Celaka kamu! Tidak ada orang yang lebih adil dari aku. Karena apa yang kami lakukan berdasarkan petunjuk Allah!” Setelah Dzul-Khuwaishirah pergi, Nabi Muhamamd Saw bersabda,
سيكون بعدي من أمتي قوم يقرؤن القرأن لايجاوز حلقمهم هم شر الخلق والخليقة
(Suatu saat nanti akan muncul sekelompok kecil dari umatku yang membaca
al-Quran, namun tidak mendapatkan substansinya. Mereka itu
sejelek-jeleknya makhluk di dunia ini).Hadis sahih di atas kemudian terbukti setelah Nabi Muhammad Saw. wafat. Pada 35 H, Khalifah Usman ibn Affan terbunuh secara mengenaskan oleh sekelompok umat Islam yang ekstrem. Peristiwa ini kemudian terulang pada masa Khalifah Ali ibn Abi Thalib yang juga terbunuh oleh kalangan ekstrem dari umat Islam. Komunitas ekstrem tersebut, sungguh pun pada mulanya bernuansa politik, tetapi perkembangan selanjutnya dirajut dalam sebuah ideologi yang dikenal dengan faham Khawarij. Hal yang menarik, saat Khalifah Ali bin Abi Thalib masih hidup, kelompok ekstrem Khawarij ini sempat memvonis kafir Khalifah Ali bin Abi Thalib atas dasar kesalahan beliau yang membenarkan arbitrase atau tahkim dengan Mu’awiyah. Soalnya, bagi Khawarij, yang berlaku adalah doktrin “laa hukma illa Allah”, bahwa arbitrase itu hanya milik Allah. Khalifah Ali ibn Abi Thalib pun menangkis diplomasi mereka dengan kata-kata singkat, “Untaian kata yang benar, namun tendensius dan mengarah pada yang batil”.
Maka gelombang umat Islam radikal yang berkembang saat ini mempunyai sejarahnya, mereka terpengaruh pada pola-pola Khawarij di masa periode awal sejarah umat Islam. Kelompok umat Islam radikal ini tidak hanya menggelisahkan kalangan non-muslim. Umat Islam pun terkena dampaknya. Karenanya, menjadi tanggung jawab seluruh umat Islam untuk meluruskan pemahaman mereka atas agama Islam. Sikap mereka yang ingin menempuh jalur apa saja, menyalahkan siapa saja yang tak sama pemahamannya, merupakan refleksi dari pemahaman mereka yang “sathiyyah” (setengah-setengah), rigid dan belum tuntas terhadap ajaran Islam.
Kita patut prihatin atas stigmatisasi umat Islam akhir-akhir ini. Hanya karena perbuatan segelintir umat Islam yang sangat dangkal pemahamannya atas ajaran agama, umat Islam secara keseluruhan terkena dampaknya. Umat Islam tidaklah dalam posisi vis-à-vis dengan non-muslim. Umat Islam harus hidup di tengah-tengah masyarakat plural dengan damai. Seperti dicontohkan Rasulullah Saw. saat melihat seorang Yahudi yang dibunuh orang Islam secara zalim. Saat itu beliau bereaksi dengan keras: “Man-qatala dzimmiyan fa ana khasmuh” (Barangsiapa yang membunuh non-Muslim, maka ia akan berhadapan langsung dengan saya). Pola hidup berdampingan seperti inilah yang perlu ditiru umat Islam. Pelaksanaan amar ma’ruf (mendorong untuk berbuat baik) haruslah lebih diutamakan daripada nahy ‘anil munkar (melarang berbuat kemungkaran).
Ini misalnya yang ditunjukkan oleh para sahabat Nabi. Khalifah Umar ibn al-Khattab pernah tidak menghukum pencuri di saat musim paceklik dan masa kelaparan. Dari sini sebuah kaidah agama muncul, yang menyebutkan, “Man kana amruhu ma’rufan, fal yakun bil-ma’ruf. Artinya, siapa yang memerintahkan kebaikan, maka haruslah dengan cara yang baik pula.
Lalu, Bagaimana dengan ajaran tentang jihad yang sering dijadikan alasan radikalisme dalam Islam?
Kata ‘jihad’ berasal dari kata kerja ‘jahada’, berarti usaha, upaya. Jadi, ber-‘jihad’ adalah membangun sesuatu yang sifatnya fisik maupun non-fisik. Sebutan lain yang berasal dari akar kata jihad ini, pertama, adalah “ijtihad”, yang berarti usaha membangun sisi intelektualitas manusia, seperti ijtihad para ulama atau kiai dalam forum bahtsul masail. Kedua, ‘mujahadah’, yang berarti upaya sungguh-sungguh membangun spiritualitas manusia. Kemudian dalam perkembangannya kemudian, jihad mengarah pada pengertian tertentu yang menekankan sesuatu yang sifanya fisik atau material. Sedangkan ijtihad dan mujahadah penekanannya kepada non- fisik atau immaterial. Masing-masing dari ketiganya ini menempati nilai dan posisi tersendiri dalam Islam.
Dari ketiga kata tersebut di atas, ternyata kata ‘jihad’ mendapatkan perhatian lebih dibanding dua kata lainnya. Hanya saja pengetahuan yang terbatas akan referensi Islam mengakibatkan tema jihad dipahami sebagai sebuah gerakan fisik yang berkonotasi kekerasan, kekejaman, kebrutalan dan bahkan pertumpahan darah. Trend pemaknaan jihad seperti ini makin diperparah dengan kemunculan beberapa tragedi kemanusiaan yang diklaim sebagai akibat dari gerakan “Islam garis-keras”. Opini dunia pun mengarah kepada Islam. Islam sebagai agama rahmatan lil-alamin, agama penabur kasih bagi seluruh alam, lagi-lagi menjadi tergugat.
Jama’ah Jum’ah yang berbahagia...
Term “jihad” dilansir dalam al-Qur’an sebanyak 41 kali. Kata tersebut secara lughawi “jahada-yujahidu-jihad wa mujahadah”. Karena itu, jika kita membincangkan “jihad” paling tidak ada dua terma lain yang memiliki kemiripan, yaitu ijtihad dan mujahadah. Baik jihad, ijtihad maupun mujahad berasal dari satu akar kata (musytaqqat) yang memiliki makna keseriusan dan kesungguh-sungguhan.
Untuk memperluas wacana kita dalam diskursus “jihad”, dapat kita rujuk kepada salah satu kitab yang selaku dikaji di pesantren-pesantren, yakni kitab I’anatut Thalibin syarh Fathul Mu’in. Muallif kitab tersebut dengan bahasa sederhana mengemukakan suatu ta’bir yang memiliki makna dan implikasi luar biasa. Menurutnya ”al-jihadu fardhlu kifayatin marratan fi kulli ‘aam”, bahwa jihad itu hukumnya fardhlu kifayah dalam setiap tahun. Kemudian ditambahkan pula, dalam bentuk jihad itu ada empat macam, pertama, itsbatu wujuudillah; kedua, iqamatu syari’atiilah, ketiga qital fi sabilillah dan keempat daf’u dlararil ma’shumin, musliman kana au dzimmiyyan.
Bentuk jihad pertama adalah itsbatu wujudillah, yaitu menegaskan eksistensi Allah swt di muka bumi, seperti dengan melantunkan adzan, takbari serta bermacam-macam dzikir dan wirid. Bentuk kedua adalah iqamatu syari’atillah, menegakkan syariat Allah (baca: nilai-nilai agama), seperti shalat, puasa, zakat, haji, nilai-nilai kejujuran, keadilan, kebenaran, dan sebagainya. Bentuk ketiga, al-qital fi sabilillah, berpegang di jalan Allah, artinya jika ada komunitas yang memusuhi kita dengan segala argumentasi yang dibenarkan agama, maka kita baru dibenarkan berperang sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan Allah. Bentuk keempat, daf’u dlararul ma’shumin musliman kana au dzimmiyyan, yakni mencukupi kebutuhan dan kepentingan orang yang harus ditanggung (oleh pemerintah) baik itu yang muslim maupun kafir dzimmi (termasuk orang kristani, majusi, yahudi serta pemelum-pemeluk agama lainnya yang bukan menjadi musuh). Cara pemenuhan kebutuhan tersebut ditambahkan mushannif I’anah, dengan mencukupi sandang, pangan dan papan. Kalau kita implementasikan di negara kita, peranan Bulog, Perumnas, pabrik tekstil dan sejenisnya jelas menjadi tanggungan pemerintah dan wajib dikelola secara adil dan benar untuk memenuhi kepentingan 200 juta lebih anak bangsa, jika tidak maka pemerintahan tersebut tergolong fajir dan lalim.
Para hadirin Jama’ah Jum’ah Rohimakumulla...
Ingatlah sejarah bangsa kita, dari keempat model jihad tersebut, Rais Akbar NU, Hadlratus-Syaikh KH.Hasyim Asy’ari merupakan ulama yang pernah menterjemahkan makna “jihad” secara kontekstual di bumi Indonesia. Tatkala serdadu sekutu yang dipelopori Inggris datang di Surabaya pada bulan November 1945, beliau secara tegas mengeluarkan resolusi jihad guna memerangi sekutu. Perang yang dimaksud Hadlratus-Syaikh sama sekali tidak dimaksudkan membela ‘agama” an-sich, tetapi guna membela tanah air yang disitu melindungi semua komunitas, baik muslim, kristen, hindu, budha, konghuchu, aliran kepercayaan maupun lainnya.
Hal yang menarik dan perlu dicermati adalah rumusan makna jihad sebagai upaya mengayomi dan melindungi orang-orang yang berhak mendapatkan perlindungan, baik muslim atau non-muslim. Dalam konteks kekinian, rumusan jihad ini akan mendapatkan relevansinya dan terasa membumi ketika seseorang melakukan langkah-langkah aktualisasi berikut -- sebagaimana yang dirumuskan para ulama klasik:
1. al-Ith’am (jaminan pangan)
Jihad dengan mengupayakan masyarakat sekeliling agar mendapatkan hak kelangsungan hidup, seperti sembako, dengan harga terjangkau, santunan bagi masyarakat terlantar, subsidi bagi yang tidak mampu, dan lainnya.
2. al-Iksa’ (jaminan sandang)
Jihad dengan memperjuangkan agar masyarakat mampu memperoleh kebutuhan sandang secara cukup, seperti harga tekstil terjangkau, bahan baku tekstil tercukupi, tersedianya pakaian yang sesuai dengan kemampuan masyarakat, dan lainnya.
3. al-Iskan (jaminan pangan)
Jihad dengan mengusahakan agar masyarakat mampu mendapatkan kebutuhan tempat tinggal, seperti pengadaan rumah sederhana dengan harga terjangkau, melindungi masyarakat dari jerat kredit memberatkan dari para pengembang real estate, dan lainnya.
4. Tsaman al-dawa’ (jaminan obat-obatan)
Jihad dengan mengupayakan agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya atas obat-obatan. Masyarakat diberi kesadaran bahwa tindakan preventif perlu dilakukan agar diri kita terhindar dari sakit dan ketergantungan kepada obat-obatan, seperti: memasyarakatkan obat generik, sosialisasi gaya hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan, subsidi obat murah bagi masyarakat tidak mampu, dan lainnya.
5. Ujrah al-Tamridl (jaminan berobat)
Jihad dengan mengusahakan agar orang-orang yang jatuh sakit tidak terbebani oleh ongkos berobat yang tidak terjangkau. Masyarakat yang terserang penyakit harus mendapatkan layanan yang cukup hingga sembuh. Jihad ini pada tataran aplikasi dapat berbentuk subsidi bagi penderita penyakit, pengadaan puskesmas dengan layanan yang baik dan murah, pengobatan gratis bagi yang tidak mampu, dan lainnya.
Lima kebutuhan dasar (mabadi’ khaira ummah) ini adalah orientasi perjuangan Nabi Muhammad saw ketika berada di Madinah. Lima dasar ini jika benar-benar realisasinya akan melahirkan muslim militan dan fundamentalis, yaitu orang Islam yang berhati-hati dalam menjalankan ajaran Islam.
Akhirnya, kita memang harus benar-benar memahami makna “jihad”. Jihad merupakan upaya pencurahan tenaga secara fisik yang diproyeksikan untuk mengimplementasikan pesan-pesan Tuhan di muka bumi guna mengakurasikan tugas manusia sebagai khalifah-Nya. Berperang dengan angkat senjata hanyalah salah satu dari ribuan macam mode jihad, itupun disertai persyaratan yang harus dipenuhi secara ketat dan syar’i dalam berperang.
Langganan:
Postingan (Atom)