| Ditulis Oleh: Munzir Almusawa | |
| Saturday, 10 July 2010 | |
|
قال رسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
( صحيح البخاري )Sabda Rasulullah saw : “Shalatlah kalian sebagaimana kalian lihat aku melakukan shalat” (Shahih Bukhari)
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ
الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ
الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا
لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا
الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ
Limpahan Puji Kehadirat Allah subhanahu wata'ala, Yang Maha Tunggal
mengatur segala kejadian sepanjang waktu dan zaman, Maha Mengatur jumlah
nafas hamba-hamba Nya, di beri izin untuk izin tinggal hidup di atas
bumi Nya, di dalam jasad yang milik Nya, yang di cipta untuk Nya,
diberikan kepada Ruh kepada hamba-hamba Nya ini, alat-alat multi
sempurna untuk melewati kehidupan yang sementara dan fana menuju
kehidupan yang kekal dan abadi, di berikanlah panca indra dan di
berikanlah permukaan bumi beserta isinya, tiada lain agar hamba Nya
meniti jalan menuju keridhaan Nya, dan hamba Nya menuju Cinta Nya, agar
hamba Nya mencapai kasih sayang Ilahi, berlomba-lomba untuk dekat
kehadirat Allah,Allah subhanahu wata'ala berfirman : “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah bukakan bagi Nya limpahan Rizqi dan penyelesaian dari apa-apa yang menyulitkannya, dan ia di berikan suatu hal yang mengembirakan dan mengagetkan, berupa kegembiraan dari Allah bagi hamba - hamba yang bertaqwa” Seraya berfirman : “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah jadikan permasalahan Nya lebih mudah” Seraya berfirman : “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah hapus dosa – dosanya dan Allah lipat gandakan jumlah pahala yang menjadi miliknya” Demikianlah perbuatan Allah pada hamba – hamba Nya yang bertaqwa, siapa mereka ? Mereka yang berusaha menjauhi dosa semampunya, dan berusaha menjalani perintah Allah semampunya, dan tentunya merekalah para pengikut Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Tiada seseorang di sebut Taqwa kecuali pengikut Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Imam Muttaqiin (Pemimpin orang – orang yang bertaqwa) Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Semoga Allah mengelompokanku dan kalian di dalam kelompok orang – orang yang bertaqwa, yang selalu di limpahkan rizqi dengan keluasan rizqi yang dhahir dan rizqi yang bathin dengan datangnya rizqi yang terkirakan dan yang tidak terkirakan dan juga penyelesaian atas segala kesulitan dan terhapus dari segala dosa dan di lipat gandakan pahala. Ya Allah … Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, Seraya berfirman : “Barang siapa yang mendambakan balasan di dunia, sungguh Allah di sisinyalah balasan dunia dan akhirat, dan sungguh Allah itu Maha mendengar dan Maha melihat” Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, Didalam perkumpulan yang luhur ini, di bulan agung ini, di malam-malam mulia dan suci ini, di bulan Rajab yang di namai bulan mulia dari pada satu bulan haram, bulan yang di muliakan oleh Allah, dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam memperbanyak ibadah di bulan ini, dan para imam-imam kita dan para Sahabat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kita mereka memperbanyak Istighfar di bulan Rajab dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam memperbanyak puasa di bulan Rajab, karena inilah salah satu di bulan haram, karena bulan haram adalah bulan yang di muliakan oleh Allah dan Rasul Nya. Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, Aku dan kalian sebagai tamu Allah di bulan Rajab ini, sampai dan hadir di majelis dzikir dan Majelis Ta’lim dan Shalawat ini, di majelis Dakwah ini tentunya dengan jamuan yang lebih karena kita sudah berada di majelis ini sebagai tamu Allah, juga sebagai tamu Allah di bulan Rajab dan pada hakikatnya manusia itu adalah tamu Allah pada setiap detik hidupnya, selama ia masih hidup ia adalah tamu Allah, ia di jamu oleh Allah, maka fahamilah Shahibul bait, fahamilah siapa yang kita kunjungi yaitu Rabbul’alamin dalam setiap nafas kita karena setiap nafas kita hakikatnya kita tamu Ilahi di bumi Nya, karena kita di bumi yang milik Allah, kita hidup dengan jasad yang kita tidak membeli dan tidak menciptanya semua dari Allah, maka kita adalah tamu, dan tamu termuliakan bagi yang memahaminya. Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, Kalau kita tau siapa yang sedang kita kunjungi dalam kehidupan ini, yaitu Rabbul’alamin subhanahu wata'ala, yang kita kunjungi dalam setiap nafas kita, maka kita akan memahami bagaimana adab kesopanan kita berada dihadapan Tuan Rumah Maha Raja alam semesta ini. Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, Tentunya kalau kita faham kalau kita ini berada di suatu Istana kemegahan Rabbul’alamin di dalam kerajaan Allah subhanahu wata'ala, hendaknya kita membenahi sikap kita dengan Sang pemilik jasad kita dan Sang Pemilik bumi kita dan Sang pemilik kehidupan kita dan Sang pemilik dunia dan akhirat kita, dan betapa beruntungnya jiwa yang selalu berpadu, pemikirannya dengan rahasia keluhuran Ilahi. Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, Allah telah berfirman : “diantara orang – orang itu ada yang menghendaki balasan di dunia saja atas amalan pahala ibadahnya namun Allah memiliki balasan bukan hanya diakhirat saja tapi di dunia dan di akhirat” demikian Allah menjelaskan di dalam firman Surat Annisa : “Dan Allah subhanahu wata'ala itu Maha Mendengar dan Maha Melihat” Fahamlah kita jangan meminta akhirat saja, jangan minta dunia saja, minta dunia dan akhirat, karena Allah telah mengatakannya bahwa balasan di dunia dan akhirat milik Ku. Allah Maha Mendengar, Maha melihat, Maha Mendengar dengan pendengaran yang bukan dengan telinga seperti makhluk, makhluk hanya mendengar suara, tetapi Allah mendengar getaran perasaan, Allah melihat getaran lintasan pemikiran. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Dan setiap waktu dan saat Allah selalu mendengar dan melihat. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, namun tabir kegelapan dosa didalam diri kita sering menutupi kita seakan-akan jauh dari Allah, seperti orang yang berada di dekat temannya namun ia menutup matanya, maka ia tidak melihat temannya, padahal temannya sudah di hadapannya, “Allah itu lebih dekat kepada kita dari pada urat leher kita” Maksudnya antara ruh dan jasad kita Allah lebih dekat lagi dari itu, Allah lebih mampu dari kedekatan jasad dengan ruh, karena Allah Yang Maha mampu memisahkan ruh dengan jasad, Allah yang Maha Menentukan setiap nafas kita, Allah Maha dekat bukan dengan sentuhan dan Allah juga jauh bukan tanpa perhitungan jarak tapi dengan kedekatan jiwa, karena jarak tidak bisa menempuh dan mencapai Rabbul’alamin, karena jarak hanya bisa mencapai alam cipta Allah, jarak dan tempat tidak bisa menjangkau Rabbul’alamin, pencipta semua waktu dan tempat. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Demikian agungnya Sang Maha Raja langit dan bumi dan Sang Maha Lembut, Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam melintas bersama para Sahabatnya lalu lewatlah seorang anak kecil, lantas Rasul shallallahu 'alaihi wasallam memanggil (berteriak mengangkat suara) “apakah anak ini mempunya ibu?” Maka keluarlah ibunya dan menangis mendekapnya dan menciuminya seraya berkata “Ibni ibni…” Maka para sahabat menangis, maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berkata : (apa yang membuat kalian menangis?) Para Sahabat berkata : “Cinta ibu itu terhadap anaknya besar ya Rasulullah, kami terharu” Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Allah lebih berkasih sayang kepada hamba – hamba Nya dari ibu itu kepada anaknya” Saudara saudariku yang ku muliakan, Diriwayatkan di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy mensyarahkan makna hadits ini bahwa : Yang di maksud di dalam hadits ini oleh Rasul shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang wafat dalam keadaan bertaubat dari dosa – dosa besar, mereka yang bertaubat dalam keadaan Iman dan sempat bertaubat dari dosa – dosa besar, maka meraka itu tidak akan menyentuh api Neraka karena kelanjutan dari Hadits ini adalah (di jelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar) Rasul bertanya kepada para Sahabat, ada kelanjutan riwayat lain : “apakan kiranya si ibu yang sedang memeluk anaknya itu, mau melemparkan anaknya ke api ?” Para Sahabat berkata : Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menjawab : “Allah lebih menyayangi hamba Nya dari pada ibu itu terhadap anaknya” Menunjukkan orang yang wafat dengan iman dan sempat bertaubat dari dosa – dosa besar tidak akan di sentuhkan dari pada api neraka oleh Allah subhanahu wata'ala. Ketika di riwayatkan di dalam riwayat Imam Thabrani dan riwayat lainnya di syarahkan oleh Al Imam Ibn Hajar di cantumkan di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari tentang hadits ini yang terkait dengan hadits ini bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam lewat di dekat wanita, seorang wanita ibu – ibu yang berkata (sedang menyalahkan api unggun / kayu bakar sedang dinyalakan) “Wahai Rasulullah….” Rasul berkata : “Labbaik wa sa’daik” iya apa yang bisa aku bantu Kata Rasul “Apakah betul Allah melempar hambanya seperti aku melempar kayu ini ke kayu bakar????, hambanya yang beriman” Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam pun menunduk dan mengalirkan air mata menangis Seraya bersabda : “Demi Allah, tiadalah Allah menarukan hambanya di dalam api kecuali mereka yang berat dan malas mengucap Laailahailallah disaat wafatnya” Hadirin hadirat demikian kelembutan Allah subhanahu wata'ala yang jauh lebih lemah lembut kepada kita dari pada ibunda kita. Saudara saudariku yang kumuliakan, jika kita memahami cinta Nya kepada kita, kita akan tenang di dunia dan akhirat, dan akan semakin tenang dengan cinta Rabbul’alamin subhanahu wata'ala, namun Allah subhanahu wata'ala juga berfirman : “barang kali kalian menyukai sesuatu tapi itu sebenarnya adalah buruk bagi kalian, barang kali kalian membenci sesuatu tapi itu baik bagi kalian, Allah Maha Mengetahui dan kalian tidak mengetahui” Saudara saudariku yang ku muliakan, Oleh sebab itu jangan buru – buru memvonis Allah subhanahu wata'ala dalam segala kejadian yang terjadi pada diri kita, saya mencari pekerjaan tidak dapat – dapat, sudah do’a sudah shalat Tahajjud, orang lain tidak shalat, tidak beriman malah cepat dapat pekerjaan, barang kali satu dua tahun, atau satu dua bulan penundaan akan membuat Allah melimpahkan yang jauh lebih luas di masa mendatang padamu, jangan sempat kita terjebak kejadian saat ini, karena kita tidak tau kejadian di hari esok. Saudara saudariku yang kumuliakan, Di riwayatkan di dalam Shahih Bukhari jika salah seorang bersedekah, ia mengumpulkan uang dan ingin mendapatkan Sedekah yang “shadaqah sirr” pahala Sedekah secara sembunyi – sembunyi, tidak di ketahui orang lain, ia pun mengumpulkan uang, lalu malam – malam ia menutup wajahnya dengan kain dia mencari orang yang berhak. Lalu ia lihat ada seorang yang termenung di malam hari, diam saja, duduk saja, tidak bicara, tidak apa duduk saja di pinggir jalan, “ini orang yang tidak mampu, tengah malam masih belum tidur, masih duduk di sini” maka di lemparkannya uang itu pada orang itu dan ia pun pergi melarikan diri supaya orangnya tidak tau dia yang memberi, maka keesokan harinya dia sudah gembira, sudah sedekah dengan sedekah sembunyi – sembunyi, esok harinya dapat kabar gempar kampung karena seorang pencuri dapat harta di beri orang yang tidak di kenal, dia berkata : Wahai Allah Bagi Mu segala puji, aku mau sedekah sembunyi – sembunyi, ternyata yang ku beri pencuri, pencuri sedang menunggu kesempatan untuk mencuri, menanti waktu untuk mencuri, di kira dia seorang Fuqara padahal ia pencuri, ia berkata “berarti aku tidak akan berhenti, aku akan lanjut lagi” ia pun mengumpulkan uang lagi, sudah terkumpul ia keluar lagi di malam hari. Lantas ia melihat seorang tua renta, yang berjalan tertatih – tatih dengan tongkatnya, pelan – pelan jalannya tidak ada yang menemaninya, tidak ada yang mendampinginya, “ini pasti orang susah” dia lemparkan uang itu dalam sebuah kantong kepada orang tua itu dan dia pun lari pergi, keesokan harinya gempar orang terkaya di kampung itu, yang paling kikir dapat sedekah sembunyi – sembunyi semalam, maka ia pun berkata : Wahai Allah Bagi Mu segala puji, aku jadi memberi orang yang paling kaya, yang paling kikir, tidak berguna sedekahku, yang pertama di berikan pada pencuri yang ke dua ternyata salah beri juga, di berikan kepada orang yang kaya dan paling kikir. Lantas dia tidak kapok, tapi ketiga kalinya dia berbuat dia mencari wanita saja, dia lihat “nah ini wanita sedang duduk” maka di berikan padanya harta itu dan keesokan harinya, gempar lagi kampung itu, seorang pelacur mendapatkan sedekah yang sembunyi – sembunyi, ia katakan “Yaa Rabb cukup 3 kali” Wahai Allah sudah cukup ini, pencuri yang kuberi, yang kedua orang kaya paling kikir yang ketiga pelacur, sudah aku tidak mau bersedekah lagi. Maka Allah subhanahu wata'ala tunjukan beberapa tahun kemudian, bahwa Allah subhanahu wata'ala membukakan kemuliaan dari uang halal yang ia berikan itu jauh lebih dari pada maksud yang dia kehendaki, ia inginkan beri kepada orang Fuqara tapi Allah sampaikan uang Nya pada pencuri, pencuri biasa makan uang haram apakah ia terus mencuri, malam itu pencuri itu dapat uang halal darinya, karena ia ingin sedekah sembunyi – sembunyi, hati – hati hadirin hadirat karena harta yang haram itu mempengaruhi tubuh kita, harta yang halal juga mempengaruhi, kalau harta yang halal mempengaruhi kita untuk ingin beribadah, maka pencuri itu mendapatkan itu dia bersyukur, “Subhanallah, aku selama ini terus menerus mencuri sekarang Allah beri” ia pun Taubat, tidak lama orang ini yang penyedekah pertama setelah sekian tahun dia dengar kabar ada seorang wali Allah yang wafat maka ia mendatangi jenazahnya, “ini kalau tidak salah ini yang dulu ku beri, dulu pencuri” dia berkata “ini orang asal muasalnya dimana” “dulu pencuri dia, gara – gara ia dapat uang di tengah malam, di beri oleh seorang penyedekah yang tidak ia kenal dia Taubat sampai dia menjadi Wali Allah subhanahu wata'ala”, dia berkata “Subhanallah” Allah disampaikan derajatnya menjadi Wali Allah dari harta orang ini karena sedekahnya sembunyi – sembunyi dan ikhlas niatnya walaupun nyampainya kepada pencuri. Yang kedua maka dia pun berkata, “Wahai Allah, selesai janjiku dari yang pertama yaitu pencuri lalu bagaimana dengan orang tua yang kikir” orang tua yang kikir itu tidak berapa lama ia membangun suatu rumah untuk Sedekah untuk yatim dan anak – anak miskin dan Fuqara, Kenapa ? karena ia jadi Taubat Ia ingat “aku ini orang kaya disedekahi orang, karna apa ? karena aku kikir” akhirnya ia pun bertaubat kepada Allah, ia bangun rumah Sedekah ia wakafkan, pahalanya orang ini dapat pada penyedekah pertama, demikian Dahsyatnya rahasia kemuliannya, dan ia pun berkata “Allah aku memahami yang ke dua, lalu bagaimana dengan yang ketiga” Tidak ada jawaban, sudah hampir 30 tahun, lalu ia mendengar dua orang ulama, adik kakak, dua – duanya ulama yang Shaleh, dua – duanya pemuda, maka ia berkata “aduh aku ingin kenal dengan dua pemuda ini” sulit di jumpai, di ikuti muridnya, untuk berjumpa sulit, hebat sekali ini adik kakak ini, dua – duanya ulama, dua – duanya Shaleh, dua – duanya berhasil dan sukses, maka ia Tanya “ini asal muasalnya anak ini ulama ini dari mana ? dua pemuda ini” “ini dulu ibunya pelacur tapi gara – gara di beri sedekah oleh seorang yang sedekah sembunyi – sembunyi, Taubat lantas kemudian dia pakai uang itu untuk menyekolahkan dua anaknya ini untuk menjadi ulama, sampai menjadi ulama besar” Hadirin hadirat maka orang ini sujud kepada Allah, Rabbiy Kau tidak kecewakan hamba – hamba Mu, demikian kasih sayang Ilahi subhanahu wata'ala, ribuan orang yang bertaubat dari kedua anak itu mendapatkan pahalanya kepada si pemberi yang pertama, walaupun awalnya terlihat buruk namun akhirnya tapi Allah buat sedemikian indah. Hadirin hadirat kita kembali kepada Hadits Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang tadi kita baca :
قال رسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي (صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw : “Shalatlah kalian sebagaimana kalian lihat aku melakukan shalat” (Shahih Bukhari)Apa makna dari hadits ini ? Sebenarnya hadits ini sering di bahas banyak oleh para ulama kita dan juga mereka banyak yang bertentangan di dalam permasalahan akidah dengan kita, hingga mereka mengakatakan “jangan kamu shalat kalau kamu, kecuali kamu tau hadits – hadits shahihnya” hal itu betul, namun tentunya kita mempunyai guru dan kita mempunya Madzhab, dan imam madzhab dari guru lebih berhak di panut dari pada melihat hanya dari buku atau dari internet saja, orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya, maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah. ini di Jakarta banyak kalau di Jakarta ustadz dan guru dalam tajwid, tauhid, fiqih, syariah, tasawwuf dan lainnya Jakarta penuh Alhamdulillah dengan ulama, namun saudara saudari kita yang diluar negri, diluar kota yang juga menyaksikan acara ini di streaming website siaran langsung www.majelisrasulullah.org barangkali sebagian diantaranya yang sulit menemui guru maka carilah guru walaupun diluar kota wilayahmu, paling tidak jumpai sebulan sekali, dua minggu sekali, tiga bulan sekali ada masalah – masalah tanyakan yang kau bacakan dari buku – buku yang kau tidak ngerti tanyakan, kalau tidak jumpa maka lewat telepon, lewat sms, lewat email gunakan itu semua untuk perantara agar kita tidak putus hubungan kita dengan Allah subhanahu wata'ala. Karena hadits ini Rasul shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan :
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalat sebagaimana kalian lihat aku shalat bukan shalat seperti shalatku”Kalau shalat seperti shalatku tidak ada satu pun yang mampu karena apa shalat seperti Rasul shallallahu 'alaihi wasallam tentunya siapa yang mampu karena manusia tentunya terbatas ia kalau jasad gerakannya bisa kita ikuti seperti gerakan perbuatannya Rasul shallallahu 'alaihi wasallam apakah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam shalat hanya dengan jasad? tentunya shalat ada hakikatnya dan ada dhahirnya, dhahirnya jasadnya, bathinnya adalah ruh dan sanubarinya tentunya ikut shalat. Namun ketika Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” maka shalatlah kalian semampu kalian untuk membenahi gerak geriknya seperti yang dilakukan oleh Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, ada yang rukunnya ada yang sunnahnya ada yang sunnah muakkadah nya, hal seperti itu meski kita ketahui kemudian melangkah menuju kedalaman makna hakikatnya yaitu rahasia hati dan ruh yang turut shalat bersama shalat kita, hati dan ruh kalau sudah ikut shalat dengan jasad kita maka jasad selesai shalat hati dan ruhnya tidak keluar dari shalatnya, karena terus dekat dengan Allah subhanahu wata'ala. Di jelaskan oleh para imam kita para salafus shaleh ketika ditanyakan apakah hati itu ada bersujud kepada Allah subhanahu wata'ala, apakah hati itu bersujud kepada Allah subhanahu wata'ala, maksudnya disaat hati itu tunduk 100% kepada Allah maka menjawablah gurunya, “hati itu jika sudah sujud tidak akan pernah lagi mengangkat berdiri dari sujudnya” beda dengan jasad, kalau jasad ada lelahnya kalau hati sudah kenal sujud pada Allah tidak akan mau lagi berubah posisi untuk kecuali terus sujud dan tunduk kepada Allah dengan makna sujud disini bukan sujud dengan gerakan, maksudnya sujud itu hatinya tapi hatinya tunduk kepada Allah subhanahu wata'ala, kalau sudah hatinya tunduk pada Allah subhanahu wata'ala ia akan terus ketagihan dan tidak mau lagi untuk mengenal daripada rahasia kelembutan yang selain dari Allah subhanahu wata'ala, sudah asyik dengan Allah subhanahu wata'ala akan terus sujud kepada Allah subhanahu wata'ala merendahkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala ia sudah menikmati samuderanya didalam merendahkan diri dihadirat penciptanya, ia sudah rasakan lezatnya, ia tidak merasakan lezat dengan mahkluk – mahkluk Nya. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Inilah yang ingin saya sampaikan dari pensyarahan hadits ini bahwa kalau secara jasadiyah kita punya banyak guru dan pengetahuan ada buku tuntunan shalat juga ada itu sudah cukup didalam dasar – dasar shalat kita yang benar rukun shalatnya, syarat sah nya dan yang lainnya itu sudah ada rukun wudhu dalam buku tuntunan shalat itu tidak cukup untuk dasar untuk selanjutnya ada guru yang bisa ditanyakan tapi yang perlu kita tekankan dalam majelis ini adalah yang jarang diperhatikan orang adalah shalat hati dan ruhnya untuk di ikut sertakan disaat kita shalat, disaat kita shalat hati dan ruh kita ikut shalat, jangan sampai hati dan ruh kita diluar shalat saat kita shalat layaknya selesai shalat jasad kita, hati dan ruh kita tetap shalat kepada Allah subhanahu wata'ala namun malah kita sebaliknya jasad kita shalat ruh dan hati kita pun tidak shalat kepada Allah subhanahu wata'ala, orang yang shalat hati dan ruhnya kepada Allah subhanahu wata'ala ia terbuka baginya rahasia kemuliaan shalat ia sedang berhadapan dengan Rabbul alamin ketika ia takbiratul ihram “Allahu Akbar” ia sudah berada di hadirat Allah subhanahu wata'ala dengan ruh dan sanubarinya walau jasadnya hanya menghadap kiblat saja, jasadnya bergerak dengan ucapan dan dzikir dan doa yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang itu didalami oleh ruh dan sanubarinya setiap kalimat huruf dan ucapannya sehingga ia mencapai rahasia – rahasia keluhuran yang terus semakin luhur yang ada awalnya tapi tiada pernah ada akhirnya rahasia keluhuran kehidupan yang membuat kita tenang didunia dan di akhirat maka warisilah shalatnya Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Sebagaimana sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam : “shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” kita mempunyai sanad dari hadits ini, sanad yang bersambung pada Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w pria pertama, pemuda pertama yang melihat shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mulai melakukan shalat sebelum beliau hijrah, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam melakukan Shalat yang pertama kali melihatnya Sayyidatuna Khadijah radhiyallahu'anhum istrinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “ini Rasul berbuat seperti ini, aneh bergerak seperti ini, ada apa ini suami ku berbuat seperti ini” yang kedua yang melihatnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w dan kemudian dilanjutkan para kerabat masuklah islam Sayyidatuna Khadijah dan menyusul Sayyidina Ali lalu menyusul Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq radhiyallahu'anhum. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, kita mempunyai sanad tentang hadits :
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
kepada Sayyidina Ali bin abi Thalib dari guru kita, dari guru mulia
kita, dari guru beliau sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw
yang memandang shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sanad
kemuliaan shalat ini saya ijazahkan kepada hadirin hadirat hingga setiap
kali shalat kita sudah bersambung sanadnya dengan shalatnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam secara ruhiyah, tinggalah secara sanubarimu
dan jasadmu ikuti dan pelajari dan dalami tapi secara ruhiyah shalat
kita silsilahnya rantainya sudah bersambung dengan shalatnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” Sayyidina Ali melihat shalat beliau para sahabat melihat lalu para tabi’iin melihat shalatnya Sayyidina Ali, shalatnya para sahabat demikian para tabi’ tabi’iin demikian selanjutnya sampai saat ini melihat gurunya melakukan shalat, seperti itu shalatnya, seperti itu rukunya, seperti itu sujudnya dan gurunya melihat gurunya demikian sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat” Sanadnya sampai kepada kita, apa itu sanad? Sanad adalah silsilah atau rantai yang menyambungkan kita dengan yang sebelum kita, hubungan, sanad adalah hubungan kalau secara bahasa sanad adalah sesuatu yang terkait kepada sesuatu yang lain atau sesuatu yang bertumpu pada sesuatu yang lain, tapi didalam maknanya ini secara istilahi adalah bersambungnya ikatan bathin kita, bersambungnya ikatan perkenalan kita dengan orang lain, sebagian besar adalah guru-guru kita yaitu orang yang dijadikan guru sanadnya atau hadits, sanad hadits misalnya mengambil dari fulan, dari fulan, dari fulan itu salah satu contoh sanad dan sanad kita sanad keguruan dari guru saya, guru saya dari gurunya, dari gurunya, dari gurunya, sampai Rasul shallallahu 'alaihi wasallam atau dari saya bermadzhabkan syafi’i karena guru saya bermadzhab syafi’i, saya ikut guru saya, guru saya ikut guru nya mahdzabnya syafi’i terus sampai ke imam syafi’i itu sanad namanya. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Itu hubungan ruh, hubungan sanubari kalau hubungan jasad bersalaman selesai itu lepas, tapi hubungan ruh bersalaman kalau sudah berpadu ruh akan bersama didunia dan diakhirat. Demikian sabda Rasul shallallahu 'alaihi wasallam : Demikian Shahih bukhari “Ruh adalah pasukan, bagaikan pasukan yang berkelompok – kelompok, jika sudah saling berkenalan, saling menyayangi menyukai, maka ruhnya pun bersama, jika sudah saling berselisih maka ruhnya pun berpisah” nah yang bersama ini akan bersama lagi di hari kiamat, yang berpisah disini akan berpisah lagi di hari kiamat kelak, nah… sanad dan ijazah silsilah ini menyambungkan kita kepada guru – guru kita yang terdahulu supaya kita bersama mereka walaupun tidak sehidup sezaman dengan para imam - imam dan dengan para sahabat dan dengan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam tapi ruh kita, kita sambungkan dengan mencintai mereka dengan mengikat sanad ini kepada mereka sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, hingga kita tidak berpisah dengan beliau di akhirat nanti. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Demikian banyak rahasia keluhuran yang dilimpahkan Allah subhanahu wata'ala didalam shalat dan rahasia kemuliaan shalat itu muncul dibulan rajab ini awal muasalnya untuk kita yaitu dimalam isra’ wal mi’raj beberapa malam yang akan datang, dan insya Allah berkumpul di monas dalam perayaan isra’ wal mi’raj Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dimalam naiknya Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kehadiratullah dimalam itu kita berdzikir dengan ya Allah 1000 kali untuk memanggil Nama Rabbul’alamin, kenapa harus banyak – banyak ? karena Allah berfirman : “ingatlah kalian kepadaku maka aku akan ingat kepada kalian” Allah subhanahu wata'ala berfirman : “Perbanyaklah dzikir kepada Ku, perbanyaklah menyebut Nama Ku” Demikian Allah subhanahu wata'ala memerintahkan kita dan semakin kita banyak menyebut Nama Allah maka kita semakin dekat kepada Allah, maka kita menyebutnya, berdzikir sebanyak 1000 kali bersama – sama dalam dzikir agung tepat dimalam 27 rajab dimalam mi’rajnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menghadap Allah subhanahu wata'ala. Kita berniat di malam itu kita juga dibagikan rahasia kemuliaan yang Allah tumpahkan pada Nabi dan para auliya dan shalihin dan shadiqin dari rahasia kemuliaan yang Allah limpah ruahkan dimalam mi’raj kita juga kebagian karena berdzikir kepada Allah. Jakarta adalah ibu kota Negara muslimin terbesar didunia, Indonesia adalah Negeri muslimin terbesar didunia dan Jakarta adalah ibu kotanya dan Monas adalah jantungnya ibu kota, pertengahannya ibu kota ini dan ditempat itu kita berkumpul Alhamdulillah jika satu, dua orang, tapi Alhamdulillah semoga diatas satu juta yang berkumpul, jantung ibu kota Negara muslimin terbesar dimuka bumi berdzikir dengan dzikir Yaa Allahu Yaa Allah 1000 kali semoga cahaya dzikir itu membias kepada sisa kehidupan kita didunia dan diakhirat, selalu dalam keluhuran dan semoga cahayanya juga membias menerangi sekitar khususnya ibu kota dan juga bangsa kita dan seluruh barat dan timur yang kesemuanya berada didalam satu rantai dengan kita karena bersama sama muslimin muslimat dan ini negeri muslim terbesar didunia dan inilah ibu kotanya dan inilah jantung ibu kotanya yaitu Monas nanti tanggal 9 juli malam sabtu depan. Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausiyah ada dua hal yang ingin saya sampaikan : Yang pertama adalah para saudara saudari yang ingin menjadi panitia atau crew di acara event besar daftarkan dirinya ke ustadz syukran atau ustadz Muhammad Qalby atau saudari aisyah najmatunnisa atau saudari maya untuk kaum wanita karena apa ? karena kita kekurangan crew, terus terang saja kita kekurangan crew untuk event besar kalau untuk event acara setiap malam sudah cukup tapi untuk event besar crew kita 360 orang, 1 juta yang mau diatur gimana caranya, kalau 500.00, 600.00, 100.000 juga tidak keatur 360 orang tapi Alhamdulillah acara aman, tertib dan terkendali, Alhamdulillah dengan keberkahan sakinah dari Allah subhanahu wata'ala, jadi kita kekurangan crew hadirin hadirat yang punya waktu itu tugasnya tidak panjang – panjang dari kira kira 2, 3 jam sebelum acara sampai kira kira 2, 3 jam selepas acara selesai setelah itu cuman ada pertemuan barang kali nanti malam kamis atau malam rabu di atur sama ustad syukron ada pertemuan nanti dengan saya crew yang mendaftarkan diri mudah mudahan bisa menjadi terlibat didalam pembenahan acara agung ini, supaya lebih aman, lebih tertib, dan lebih terkendali demikian yang pertama yang mau jadi crew rijal dan nisa, kaum wanita dan kaum pria. Yang kedua pengumuman bahwa saya masih hidup ini saudara saudariku diluar menyebar omongan sms Habib Munzir wafat, insya Allah wafat semua kesusahannya. . . . (amiin) Hadirin hadirat muncul orang yang iseng tapi akhirnya nyebar, nyebarnya sudah sampai kemana mana, saya dengar ustad Yusuf Mansyur sudah shalat ghaib di bandung, juga di banyuwangi sudah banyak yang shalat ghaib untuk saya, pengumuman saya masih hidup Alhamdulillah hadirin hadirat yang dimuliakan Allah saya bicara sampaikan kalau ada yang mengatakan saya wafat Alhamdulillah saya lihat sendiri Habib Munzir masih hidup juga yang di internet ini bukan siaran rekaman, ini siaran langsung lihat yang di Kuala lumpur, yang di jawa timur, yang di Banjarmasin yang dimana semuanya lihat saya sehat wal’afiat Alhamdulillah, malam selasa kemarin hanya sedikit demam, meriang dan lain sebagainya tapi malam ini dah sembuh, siap insya Allah untuk menjalankan tugas kita masing – masing membenahi bumi Jakarta menjadi kota Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kota kedamaian, kota dzikir, kota aman, kota tenang bukan kota narkoba, bukan kota miras, bukan kota zina, bukan kota kesulitan tapi kota dzikir, kota yang tenang dengan kedamaian amin Allahuma amiin. Jadi pengumuman ini disampaikan saya maafkan orang yang melakukan itu dah biasa ini kalau mau ada event – event acara besar pasti ada fitnah aja bukan pasti lebih sering ada fitnah, ntar dibilang munzir gulam ahmad, dibilang pimpinan musyrik, dibilang majelis murtad, macam - macam cara mengucapkan fitnah itu hanya sekedar untuk menggagalkan event – event acara besar kita menggoyang hati jamaah, ini tidak mau tau dibilang sudah wafat orangnya, sudah pada shalat jenazah sebagian shalat ghaib. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Maka cara – cara seperti ini mungkin bisa berhasil kepada orang – orang yang niatnya tidak baik tapi kalau seandainya untuk niat yang baik Allah sudah janji : “sungguh hamba – hamba Ku yang betul – betul ingin dekat pada Ku dan ikhlas dalam niatnya kau tidak punya kekuatan pada mereka wahai syaithan” kata Allah subhanahu wata'ala, maka perbuatan mereka slalu membuat majunya Majelis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, makin banyak yang fitnah, makin maju Majelis Rasul shallallahu 'alaihi wasallam. Hadirin hadirat, bukan saya mengharapkan banyak yang fitnah, namun bagi para pemfitnah perbuatan kalian justru membuat perjuangan dakwah kami semakin maju bukan semakin mundur demi kemuliaan Allah subhanahu wata'ala yang berfirman : “jika kalian menolong Allah, Allah akan menolong kalian dan menguatkan langkah kalian” niat kita ikhlas untuk membangun generasi muda kita kembali pada keluhuran, dan kemuliaan maka Allah subhanahu wata'ala yang akan membantunya langsung dan menguatkan langkah kita. Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Kita doakan para pendukung dakwah kita untuk diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wata'ala. Bapak Joni disini semoga dilimpahi keberkahan oleh Allah dan Rahmat para Habaib minal akramin semuanya dan juga Bapak komesaris besar Bapak Purwolelono beliau ini bareskrim mabes polri memberantas korupsi jadi banyak musuhnya, banyak yang tidak suka semoga Allah singkirkan segala kesulitannya, segala permasalahannya kalau sudah jujur banyak musuhnya, banyak yang tidak suka banyak yang fitnah dan lain sebagainnya, Allah cabut seluruh kesulitannya Allah gantikan dengan kemudahan amiin Allahuma Amiiin agar bisa terus tenang konsentrasi dalam tugasnya dan dalam perjuangannya bersama kita mensukseskan gerakan dakwah kedamaian ini. Demikian hadirin hadirat yang saya sampaikan salam untuk semua saudara saudari ku ini serius ni masalah karena sudah masuk lebih 2000 sms ke contact person yang menelpon dan menanyakan ada yang nangis tentang kemangkatan saya katanya, ada yang shalat ghaib nanti saya mau tegur ustad yusuf mansyur kok sembarangan shalat ghaib saja tidak pake telepon tidak pake apa sembarangan shalat ghaib di bandung, ada – ada aja ustad Yusuf nih karena sering sms an dengan saya tapi barangkali saya ganti nomer beliau tidak tau nomer saya yang baru udah shalat ghaib disana belum jelas kabar muncul itu Subhanallah, dibanyuwangi udah shalat ghaib, kan lucu, jadi nanti kalau saya mau wafat saya kabari dulu supaya ada pengumuman. Selepas ini kita baca qasidah penutup mengingat perjuangan dakwah Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan setelah itu baru doa penutup dan kalimat talqin, demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, sampaikan pada teman – teman mu tenang aja semoga kita semua panjang umur, semua dilimpahi keberkahan, semua dilimpahi kedamaian, semua dilimpahi kemakmuran, semakin hari semakin indah, hidup kita indah, wafat kita indah, bangkit kita di yaumil qiyamah juga indah, kita berdzikir memanggil Nama Allah subhanahu wata'ala yang Maha luhur, bermunajat demi kesuksesan seluruh hajat kita dunia dan akhirat, dan kesuksesan acara kita tanggal 9 juli.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..
ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله... لاَإلهَ إلَّاالله... لاَإلهَ إلَّاالله...
Seluruh hajatmu, seluruh niatmu, tenggelamkan dalam keagungan لاَإلهَ إلَّاالله
لاَإلهَ إلَّاالله... لاَإلهَ إلَّاالله... لاَإلهَ إلَّاالله...
لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
|
http://malaysfreecommunities.webs.com/allah%20muhammad.JPG
Jumat, 23 November 2012
shalatnya rasullulah saw
NABI saw Mi'raj ke langit
| Ditulis Oleh: Munzir Almusawa | |
| Friday, 25 June 2010 | |
|
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:
( صحيح البخاري )لَمَّا عُرِجَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلَى السَّمَاءِ، قَالَ رسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتَيْتُ عَلَى نَهَرٍ، حَافَتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ، مُجَوَّفًا فَقُلْتُ مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ..؟، قَالَ هَذَا الْكَوْثَرُ Dari Anas ra berkata : " Ketika nabi saw diangkat untuk Mikraj ke Langit, bersabda Rasulullah saw : aku telah mengunjungi sebuah sungai, yg dikelililingi kubah kubah Mutiara yg berongga rongga” ". ( Shahih Al Bukhari )
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ
الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ
الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا
لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا
الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ
Limpahan Puji Kehadirat Allah Maha Raja Tunggal dan Abadi, Maha
Melimpahkan keindahan Dzat Nya, yang merupakan isyarat dengan penciptaan
alam semesta, merupakan lambang yang menyeru hamba Nya untuk mendekat,
kepada keridhaan, kepada pengampunan, kepada kesucian, kepada keluhuran,
kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, dari yang Maha Tunggal Menguasai
kerajaan dunia dan akhirat, Allah Maha penguasa dan Maha menguasai
setiap kejadian, Maha Menawarkan kedekatan dan Cinta Nya kepada
hamba-hamba Nya, dan Maha Menghibur hamba agar jangan risau ingin dekat
dan putus asa dari Rahmat Nya, Dialah Allah, Yang telah menyeru para
pendosa dengan Firman Nya :“Katakanlah Wahai hamba-hamba Ku, yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, sungguh Allah Maha Mengampuni semua dosa, dan sungguh Allah Maha pengampun dan berkasih sayang” (QS Azzumar 53) Diriwayatkan oleh Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Qadhi’iyad didalam kitabnya Assyifa, menukilkan riwayat ayat ini adalah : Ketika Sang pembunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu'anhu pamannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu Wahsyi seorang budak yang memang sengaja membunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib radhiyallahu'anhum di dalam perang Uhud, di saat perang Uhud itu Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib di tombak dari kejauhan dari belakang tubuhnya hingga wafat dan Wahsyi tidak cukup hanya dengan itu, Wahsyi membelah dada Sayyidina Hamzah, mengeluarkan jantungnya, memotong hidung dan telinga dan bibir dan mencungkil ke dua matanya lantas di bawakan kepada Hindun. Hadirin Hadirat, inilah dosanya Wahsyi orang yang telah membunuh pamannya Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mengeluarkan jantungnya dari dadanya, jenazah itu di robek dan di keluarkan jantungnya, di cungkil ke dua mata, bibir, hidung dan kedua telinganya dan di bawakan untuk tuannya. Lalu di saat itu, disaat Fatah Makkah, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke Makkah dengan 100 ribu muslimin muslimat, Wahsyi melarikan diri, ia menjauhkan diri sampai kepantai, Istrinya datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : “Wahai Rasul, suamiku mempunyai dosa yang sangat besar, kalau ia masuk Islam dan bertaubat, apakah suamiku di ampuni ?” Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berkata “Allah memaafkan semua yang terdahulu jika orang mau bertaubat, masuk Islam Taubat sudah tidak ada lagi dosa” Maka Istrinya pun menemui Suaminya di pantai, berkata Rasul shallallahu 'alaihi wasallam “Allah akan mengampuni semua yang Lalu kalau kau mau bertaubat dan masuk Islam” Wahsyi berkata pada Istrinya : “kamu tahu bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam tahu kamu istri saya?” maka berkata Istrinya : “tidak ku sampaikan” “katakan dulu, mustahil aku diampuni” Maka Istrinya balik lagi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : “Ya Rasulullah, apakah betul semua dosa akan di ampuni??? suamiku ketakutan” Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berkata : “sudah kusampaikan beberapa waktu yang lalu, Allah memaafkan apa-apa yang terdahulu” Maka Istrinya berkata : “Ya Rasulullah, suamiku adalah Wahsyi yang telah membunuh pamanmu, merobek dadanya, mengeluarkan jantungnya, mencungkil kedua matanya, dan memotong bibir, hidung dan kedua telinganya” Berubah wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau terdiam dan tidak menjawab, menunduk, Turunlah ayat : “Katakan Wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa, jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, Allah mengampuni semua dosa” Rasul menyampaikannya kepada para Shahabat dan kepada Istrinya dan Istrinya menyampaikan kepada Suaminya datanglah Wahsyi masuk Islam, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berkata “kau wahsyi yang telah membunuh pamanku? Hamzah bin Abdul Muthallib” “Betul wahai Rasul, aku telah berbuat ini dan itu” “kumaafkan kesalahanmu, namun satu hal, jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini” “kenapa wahai Rasulullah, bukankah kau sudah memaafkan aku?” “aku sudah memaafkanmu, tapi kalau aku lihat wajahmu aku terbayang wajah Hamzah bin Abdul Muthallib yang rusak di hancurkan olehmu saat itu, aku teringat wajah Hamzah, makanya jangan muncul di hadapanku lagi” Wahsyi kemudian terus kecewa di dalam hatinya sampai munculnya Musailamah Al Kaddzab musuhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata “nah ini tombak yang kugunakan untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib akan kugunakan juga untuk membunuh Musailamah Al Kadzab, barangkali sedikit bisa menebus dari pada kesalahan ku yang lalu”, namun kita lihat Sang Maha Lembut Rabbul’alamin berbuat kepada orang yang demikian, Wahsyi, Allah menjawab keputus asaannya dengan kasih sayang Allah yang berkata pada istrinya “mustahil aku di ampuni karena aku sudah berbuat dosa yang sangat besar, membunuh pamannya Rasul shallallahu 'alaihi wasallam” namun justru Allah memanggilnya untuk kembali kepada cintanya, “jangan putus asa dari kasih sayang Allah” kenalilah Tuhan mu yang Maha Lembut dan Maha Berkasih sayang, tiada yang lebih lembut dari Nya, tiada yang lebih santun dari Nya, Tiada yang lebih menerima dari Nya, tiada yang lebih mengerti dan memahami keadaan kita kecuali Allah Yang Mencipta kita dari tiada, Yang Mengetahui setiap Detik hari-hari kita yang lalu dan yang akan datang, yang memberi kita dengan pemberian tidak bisa di beri oleh makhluk satu sama lain, yang paling berkasih sayang lebih dari semua yang mencintai kita, Dialah Allah, yang telah mengutus hamba yang paling di Cintai Nya, Yang mempunyai sifat yang sangat lemah lembut Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Shahibul Akhlak Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Shahibul Isro’ Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Shahibul Mi’raj Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Pemimpin kita dan idola kita yang berlemah lembut dan tiada manusia yang lebih lembut dari Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam : “Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, sebaik baiknya manusia, budi pekerti dan tubuhnya” dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam telah disampaikan oleh Allah subhanahu wata'ala: “Sungguh engkau mempunyai akhlak yang agung”(QS Nun 4) Dan firman Allah swt pula : “Telah datang kepada kalian utusan dari bangsa kalian, berlemah lembut dan sangat peduli atas musibah yang menimpa kalian dan sangat berlemah lembut kepada hamba-hamba Allah yang beriman dialah Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam” (QS Attaubah 128) Orang yang paling mencintai kita dari semua orang yang cinta pada kita Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, hadirin hadirat malam-malam agung ini, mengingat dan mengundang ruh dan jiwa kita mengingat peristiwa Mi’raj Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang naik ke langit dengan undangan tunggal dari Rabbul’alamin, tidak mengundang siapapun selain Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk datang menghadap, hingga Beliau shallallahu 'alaihi wasallam diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari: “Datang kepadaku Jibril a.s dengan dua lainnya, lantas ia membelah dadaku dan mencuci dadaku dari mulai urat leherku sampai perutku lantas kemudian membawa Baki dari emas dan menuangkan Iman dan Hikmah kedalam sanubariku, lalu mengembalikan posisi tubuhku seperti semula, lalu membawaku Mi’raj menuju Masjidil Aqsha dan di Masjidil Aqshalah aku bertemu para Nabi dan Rasul lantas kemudian aku mulai naik melintas langit dunia” kita fahami langit di dunia luasnya sudah tidak terhingga, manusia belum mencapai ujung batasnya karna terdapat padanya triliunan Galaksi dan belum terhitung triliunan lainya yang jarak Galaksi terdekatnya yaitu Andromeda sudah dua juta tahun kecepatan cahaya, bagaimana Galaksi yang terjauh dan itu semua baru dilangit dunia, karena Allah berfirman : “kami jadikan di langit dunia itu bintang-bintang yang bercahaya, menunjukan semua planet-plenet itu baru di langit yang pertama” (QS Al Mulk 5) Dan Rasul menembus batas langit yang pertama itu, bukan Galaksi yang terdekat tapi ke ujungnya, bersama Jibril As dalam beberapa kejap saja, jauh lebih cepat dari kecepatan cahaya, kalau kecepatan cahaya butuh waktu dua juta tahun menuju Galaksi yang terdekat (Andromeda), bagaimana Galaksi yang miliaran lainnya, gugusan-gugusan bintang yang berjumlah Miliyaran di angkasa ini kesemua jarak itu di tempuh dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari kecepatan cahaya, sampailah ke batas langit pertama, Jibril memerintahkan pintu langit di buka untuk Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka berkata para malaikat penjaga pintu langit “Siapa yang bersamamu wahai Jibril” Jibril berkata : “Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam” “apakah ia sudah waktunya di utus dan bangkit?” Berkata Jibril : “Betul” Maka Malaikatpun membuka pintu langit pertama dan berkata “Selamat datang untuknya, semulia-mulia datang kelangit pertama telah datang” Fahamlah kita dari ucapan ini, tidak ada satupun makhluk yang lebih mulia menginjak langit pertama melebihi Sayyidina Muahmmad shallallahu 'alaihi wasallam. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari : “Selamat datang untuknya, semulia-mulia yang datang telah datang kelangit pertama” Hadirin hadirat disaat itu berjumpa dengan Nabiyallah Adam a.s, yang mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dengan ucapan “selamat datang wahai Nabi Yang Shaleh wahai keturunanku yang Shaleh” Maka saat itu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam melihat dikanan Nabi Adam jika dia melihat kekanan dia tertawa dan tersenyum jika dia melihat kekiri dia menangis, Maka berkatalah Rasul kepada Jibril : “wahai Jibril kenapa Nabi Adam ini kalau melihat kekanan dia tersenyum, kalau lihat kekiri dia menangis?” Berkatalah Jibril : “Kalau ia melihat kekanan, dia melihat arwah keturunannya yang Shaleh, kalau ia melihat kekiri ia melihat arwah keturunannya kufur dan jahat sehingga menangis jika melihat kekiri lantas beliau tidak melihat ke kanan semua manusia yang ada di permukaan bumi ini dan bangsa seluruh bangsa, afrika, amerika, Cina, Jepang, Arab dan seluruh bangsa yang ada di muka bumi ” Ruh keturunannya yg beriman dan shalih itu membuat Nabi Adam a.s tersenyum pada mereka, wafat dalam keshalehan dan menangis melihat keturunannya yang wafat didalam hal yang mungkar. Hadirin hadirat lalu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menembus langit yang ke dua dan bertemu dengan Nabi Isa bin Maryam a.s dan di sambut oleh Nabi Isa a.s demikian didalam Shahih Bukhari dengan ucapannya : Tiadalah malaikat membukakan pintu kecuali bertanya “siapa yang bersamamu wahai Jibril hingga kau perintahkan membukakan pintu langit ke dua” Jibril berkata :“Yang bersamaku Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam” Maka iapun berkata : “Selamat datang untuk Sang Nabi, semulia mulia yang datang di langit ke dua telah datang” Dibukalah pintu-pintu langit ke dua untuk menyambut Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan mereka pun menyambut gembira, para malaikat berdesakan menyambut kedatangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Demikian Riwayat Shahih Bukhari. Lalu dia menembus langit yang ketiga Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dan berkatalah Jibril “Bukakan seluruh pintu langit” Berkatalah Malaikat langit ke tiga : “Siapa Yang bersamamu wahai Jibril, sampai aku harus membukakan pintu langit ketiga ini” Jibril berkata : “Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam” maka berkata para malaikat dengan ucapan yang sama “apakah sudah di utus?” dijawab oleh Jibril as : “Sudah” “Selamat datang untuknya semulia-mulia yang datang di pintu langit ke tiga” Pintu langit ketiga dibuka dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bertemu dengan Nabiyallah Yusuf a.s., Lantas Beliau naik kelangit ke empat dengan sambutan yang sama di buka pintu langit ke empat untuk Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, disambut oleh para Malaikat dan para Nabi, di sambut di langit ke empat Oleh Nabi Idris a.s lantas di langit ke lima di sambut pula oleh para Nabi di langit keenam di sambut Oleh Nabiyallah Musa a.s, dalam satu Riwayat di dalam Shahih Bukhari didalam riwayat lainnya oleh Nabiyallah Ibrahim juga dalam Shahih Bukhari teriwayatkan, dalam langit ke tujuh berjumpa dengan Nabiyallah Musa dalam Riwayat lainnya Nabiyallah Ibahim a.s, lantas Rasul berkata setelah itu aku di naikkan ke Baitul Ma’mur yang tempatnya tepat berada diatas Ka’bah, lantas aku berkata pada Jibril, “apa ini wahai Jibril?” Jibril berkata : “ini Baitul Ma’mur, 70 ribu malaikat shalat setiap harinya dan keluar dari Baitul Ma’mur 70 ribu dan tidak pernah kembali lagi terus keluar 70 ribu tepat diatas ka’bah al Musyarrafah tempatnya” Hadirin hadirat lantas Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dinaikan lagi sampai mendengar lauhul mahfud (ketentuan takdir) sampai ia mendengar yaitu keputusan-keputusan Allah subhanahu wata'ala lantas setelah itu di perintah untuk menghadap langsung kepada Allah subhanahu wata'ala, Jibril berhenti tidak meneruskan menemani lagi, karena dalam riwayat yang lainya Jibril berkata : “aku tidak mampu terus menghadap kepada Allah karena tidak di izinkan untuk menghadap, hanya engkau yang di izinkan untuk menghadap, kalau aku naik aku akan hancur terbakar dengan cahaya hijab, dari hijabnya Allah subhanahu wata'ala, cahaya dari 70 ribu tabir cahaya yang menutupi makhluk dengan Al Khaliq, jika sampai aku ke hijab itu aku akan terbakar” kata Jibril. 70 ribu tabir terbuka untuk Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari berjumpa dengan Allah subhanahu wata'ala, dan Allah subhanahu wata'ala telah berfirman : “saat itu sangat dekat dia dengan Allah subhanahu wata'ala” (QS Annajm 8-9) Diriwayatkah didalam Assyifa oleh Hujjatul Islam Al Qadhi’iyad alaihi rahmatullah bahwa di saat itu Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan : “saat aku naik menuju Mi’raj aku melihat dilangit itu para malaikat gemuruh dengan dzikir dan tasbih dan warna dan bentuk yang belum pernah aku lihat di permukaan bumi ada warna seperti itu dan bentuk seperti itu dan kulihat hamparan surga itu bentangan tanahnya adalah Misk yang di keringkan, minyak wangi yang mengering dari indahnya di campur dengan berlian dan juga mutiara dan kemudian aku sampai ketika menembus Muntahal khalai’iq (batas akhir seluruh Makhluk) tidak lagi kudengar satu suarapun, sepi dan senyap, tidak ada lagi bentuk dan warna warni dan saat itu akupun mendengar satu suara : b>“mendekat mendekat wahai Muhammad, tenangkan dirimu dari ketakutanmu wahai Muhammad” maka beliau pun bersujud lalu berkata : Attahiyyatul Mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatu lillah“ (Rahasia keluhuran, kebahagiaan, kemuliaan, keberkahan, milik Allah dan untuk Allah subhanahu wata'ala) maka aku mendengar jawaban kata Rasul : Assalaamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh”, (Salam sejahtera wahai Nabi dan Rahmatnya Allah, dan keberkahannya) Maka aku menjawab : “Assalaamu alaina, wa alaa ibaadillahisshaalihiin” (Salam sejahtera bagi kami (yaitu aku dan ummatku), dan hamba hamba yg shali (yaitu para nabi dan malaikat) Beliau tidak mau mengambil rahasia salam sejahtera dari Allah sendiri, tapi ingin menyertakan Ummat Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dengan ucapan : “salam sejahtera untuk kami dan para hamba Allah yang Shaleh yaitu para malaikat dan para Rasul dan Nabi” Demikian sebagian ulama menjelaskan. Hadirin hadirat maka di wajibkannya 50 waktu shalat, lantas beliau turun berjumpa dengan Nabiyallah Musa As, “apa yang dikatakan Tuhanmu?” “aku di berikan hadiah untuk membawa shalat 50 waktu” “baliklah..!, bani Israil tidak mampu melakukan 50 waktu apalagi ummatmu, Ummatmu lebih pendek usianya, lebih lemah, lebih tidak berdaya, balik lagi minta kekurangan” maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kembali di kurangi 10 waktu, ketika meminta kekurangan seraya berkata : “Wahai Allah sungguh Ummatku sudah sangat lemah dibanding ummat-ummat sebelumnya” Maka Allah subhanahu wata'ala menguranginya 10 menjadi 40 waktu, Dia turun pada Nabiyallah Musa, Musa a.s berkata : “apa yang kau dapat, di kurangi berapa?” Rasul saw menjawab : “sepuluh” “balik lagi, 40 waktu tidak mampu ummatmu, minta dikurangi lagi, minta keringanan” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam balik lagi pada Allah, dikurangkan lagi 10 hingga demikian sampai 5 waktu yaitu beliau bulak balik demi minta keringanan. Didalam salah satu riwayat Nabiyallah Musa a.s itu ketika beliau a.s diriwayatkan didalam riwayat yang tsiqah (riwayat yang kuat), saat beliau mendengar firman Allah Swt di bukit Tursina maka itu bukan di langit, tapi di bukit Tursina saat ia mendengar firman Allah Swt di bukit Tursina, ia pun turun di bukit tursina ia menutup telingannya dari semua suara benda dan hewan karena ia tidak tahan mendengar buruknya suara benda dan hewan karena telah mendengar suara yang sangat begitu lembut dan indah mewakili firmannya Allah Swt tidak kuat mendengar suara air, suara burung, suara manusia, suara hewan menyakiti telinga Musa a.s, itu Nabiyallah Musa a.s di dunia maka bercahaya terlihat diwajah Nabiyallah Musa dilihat oleh istri dan anak-anaknya demikian terang benderang wajahmu Nabiyallah Musa As berkata : aku tadi mendapat firman Allah Swt, maka ketika di malam isra’ wal mi’raj beliau Musa a.s melihat Rasul Saw kembali kehadapan Allah Swt dengan wajah yang terang benderang bias dari cahaya Rabbul’alamin subhanahu wata'ala, Nabiyallah Musa a.s bahkan mencari alasan supaya Muhammad kembali lagi ke atas supaya bisa balik lagi, jumpa lagi, melihat lagi cahaya keindahan Allah, wajah Beliau bagaikan cermin yang mencerminkan cahaya keagungan Ilahi, balik lagi keatas, balik lagi hingga berkali kali Nabi Musa a. bisa menikmati bias dari cahaya keindahan Rabbul’alamin yang terlihat di wajah Sayyidina Muhammad Saw dan setelah itu Nabiyallah Musa pun ketika Rasul berkata : “sudah cukup 5 waktu tadi sudah di beri pahala 50 waktu oleh Allah subhanahu wata'ala” kembali lagi, Rasul berkata : “aku sudah malu, karna Allah Swt sudah berfirman : “ Aku sudah lewatkan dan sudah jalankan fardhu Ku untuk hamba-hamba Ku”(Shahih Bukhari) yaitu Allah Swt telah menentukannya dan tidak lagi merubahnya 5 waktu, Allah Maha tahu shalat itu 5 waktu bukan 50 waktu, namun Allah ingin memberi isyarat kepada sang Nabi dan kepada ummat beliau yaitu kita berapa besarnya rindu kita kepada Allah Swt, berapa besarnya rindu Allah pada kita, Allah meminta 50 kali kita menghadap, kita 5 kali saja ada yang masih malas dan keberatan, berapa cinta Allah kepada kita, berapa cinta kita kepada Allah, Allah minta 50 kali, karena kita lemah kita diberi 5 kali tapi sama dengan 50 waktu seakan akan 50 kali menghadap Allah, inilah cinta nya Rabbul’alamin kepada mu. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, bahkan ketika Rasul saw turun melihat Musa a.s menangis lalu berkata : “wahai jibril kenapa ia menangis” Jibril a.s berkata : “karena ia menangisi, ia telah menyeru kepada Allah subhanahu wata'ala , inilah Nabi yang paling mulia melebihi ummatnya yang lebih banyak dari ummatku dan yang masuk surga dari ummatnya lebih banyak dari ummat ku” maka menangis Nabiyallah Musa a.s berpisah dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kembali membawakan kepada kita hadiah Ilahiyah berupa 5 waktu yang luhur, 5 waktu suci untuk menghadap Ilahi, jiwa dengan jiwa, ruh dengan ruh, sanubari menghadap Allah subhanahu wata'ala dengan saat ruh menghadap Allah subhanahu wata'ala walaupun jasad kita di bumi tapi ruh dan jiwa kita dan sanubari kita saat mulai kita takbiratul ihram hingga selesai shalat yaitu salam, mulai takbiratul ihram hingga salam saat itu kau terbuka hijab antara kau dengan Allah subhanahu wata'ala berhadapan dengan Rabbul’alamin, sebagaimana hadits Rasul shallallahu 'alaihi wasallam diriwayatkan didalam Shahih Bukhari : “barang siapa yang melakukan shalat sungguh ia sedang berbicara dan bercakap cakap dan menghadap Allah subhanahu wata'ala” Inniy wajjahtu wajhiya lilladziy fatharassamaawaati wal ardhi….dst “ sungguh kuhadapkan jiwaku, hatiku, wajah hati ku, kepada yang menciptakan langit dan bumi yaitu Allah subhanahu wata'ala..” Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Demikian rahasia keluhuran didalam mi’raj sekilas kita buka namun masih lagi banyak bagaikan samudera yang sangat luas yang tidak bisa diceritakan dengan lisan diantaranya adalah ucapan para penyair bahwa ketika Nabi Musa a.s menghadap Allah Swt di Bukit Tursina, maka disaat itu perintahkan kepada Musa : “lepas kedua sandal mu wahai Musa kau berada di lembah yang suci” (QS Thaahaa 12) maka disaat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam Mi’raj naik ke hadhratullah tidak di perintah membuka kedua sandalnya, maka berkata para penyair dalam syairnya manakah yang lebih mulia sandal atau Jibril a.s, jibril tidak biasa naik kehadhratullah sandalnya Rasulullah naik ke hadhratullah subhanahu wata'ala, tentu jibril a.s lebih mulia dari sandal, sandal hanya terbuat dari kulit kambing tapi karena sandal terikat dengan kaki Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam walaupun terbuat dari kulit kambing karena terikat dengan kaki Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, demikian pakaian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam naik ke hadirat Allah shallallahu 'alaihi wasallam, tidak diperintah membuka kedua sandalnya sebagai tanda bahwa orang-orang yang terikat hatinya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat dekat dengan Allah subhanahu wata'ala, Allah tidak perintahkan semua yang bersama Rasul untuk berpisah, bahkan sandalnya pun tidak diperintahkan dibuka menunjukkan lebih lagi hatinya yang terikat cinta pada Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mereka mendapatkan rahasia kemuliaan isra’ wal mi’raj, seluruh ummat beliau buktinya, saat kita shalat kita mengulang kembali kalimat percakapan Allah dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam : yaitu : attahiyyatul Mubaarakaatu….dst. kalimat itu kalimat percakapan antara Allah dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kau ucapkan didalam shalat, setiap shalat kita mengucapkannya, rahasia keluhuran isra’ wal mi’raj tumpah pada kita 5 kali setiap harinya ingin lebih lakukan lagi, ada shalat dhuha, ada shalat witir, ada shalat tahajjud, ada shalat shalat luhur lainnya. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, demikian rahasia sekilas dari rahasia keluhuran shalat, tidaklah seseorang melewati hari-harinya di dalam shalat kecuali ia telah dalam keluhuran, diriwayatkan didalam shahih bukhari, sebagaimana hadits yang kita baca tadi, bahwa ketika Rasul shallallahu 'alaihi wasallam mi’rajh berkata Sayyidina Anas bin Malik ia melihat kubah-kubah yang terbuat dari mutiara yang ada danau disampingnya, kubah-kubah yang terbuat dari mutiara yang berlubang lubang dengan keindahan, maksudnya, berlubang lubang dengan indah mutiara mutiara itu, memberikan Tanya kepada jibril, “apa itu jibril ?” berkata jibril “itu telaga al Kautsar” itu telaga yang sangat indah Rasul berkata, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari atau riwayat lainnya bahwa jumlah cangkirnya sebanyak bintang di langit, cangkir-cangkir yang berada di telaga al-kautsar milik Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang Allah firmankan: “Sungguh kami memberi kepadamu wahai Muhammad telaga al-kautsar, maka shalatlah kepada Allah, perbanyaklah doa dan berkurbanlah, dan orang-orang yang ingin mencelakaimu lah yang akan celaka dan terputus keturunanya” (QS Al Kautsar) tiga ayat yang demikian singkat tapi mensiratkan betapa mulianya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang diberikan oleh Allah telaga al kautsar, didalam riwayat yang tsiqah (riwayat yang kuat) jika pecah salah satu pecahan kecil dari cangkir yang ada di telaga al kautsar jatuh kepermukaan bumi pecahan kecil itu lebih mahal dari seluruh perhiasan yang ada di muka bumi. Hadirin hadirat bagaimana satu cangkir sempurna hati para sahabat dan para pecinta Rasul shallallahu 'alaihi wasallam mereka meminta kepada Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, ya Rasulullah saat kami nanti di telaga al kautsar, saat itu kami tidak mau meminum dari gelasnya, lalu bagaimana? ingin meminum langsung dari telapak tanganmu ya Rasulullah, telapak tangan mu lebih mulia dari seluruh cangkir yang ada di telaga al kautsar. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, demikian para sahabat Rasul, radhiyallahu'anhum, berkata Rasul shallallahu 'alaihi wasallam di akhir masa hidupnya seraya bersabda : “akan kalian lihat nanti setelah aku wafat hal-hal yang tidak menyenangkan, bersabarlah sampai kalian berjumpa dengan ku di telaga haudh” (Shahih Bukhari) para pecinta Rasul shallallahu 'alaihi wasallam ditunggu oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di telaga haudh, semoga aku dan kalian dikumpulkan oleh Allah ditelaga haudh, ditelaga al kautsar bersama Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, bersama para muhaajiriin dan anshar, ahlul badr, ahlul uhud. Rabbiy kami bermunajat memanggil nama Mu yang Maha luhur, yang Maha membuka rahasia keluhuran dunia dan akhirat, yang Maha memiliki rahasia kebahagiaan dunia dan akhirat, Maha memiliki kunci kunci kemudahan dunia dan akhirat, yang Maha memiliki cahaya kebahagiaan, keluhuran, pengampunan, dan kasih sayang, wahai yang berkasih saying kepada kami lebih dari semua yang mencintai kami, wahai yang Maha baik kepada kami lebih dari semua yang baik kepada kami. Masing-masing hadirin mempunyai hajjat, mempunyai doa, mempunyai kebutuhan, ada yang terjebak hutang, ada yang terjebak masalah, ada yang terjebak kesedihan, ada yang terjebak kesusahan, ada yang igin bekerja belum bekerja, ada yang ingin punya keturunan belum punya keturunan, ada yang ingin menikah belum menikah, masing masing dengan hajjatnya, Rabbiy Engkau Maha melihat saat ini kepada segenap sanubari kami, (Firman Allah swt) : “apakah mereka mengira tidak ada satupun yang Melihat” (QS Al Balad.7) melihat mereka apakah mereka tidak mengira bahwa Allah Swt yang Maha Tunggal selalu melihat mereka, “Bukankah telah kami berikan pada mereka penglihatan, kami berikan pada mereka ucapan, kami berikan pada mereka dua jalan (kebaikan dan keburukan) (QS Al Balad 8,9,10), mana yang ingin mereka pilih didalam kedekatan kasih sayang atau dalam kemurkaan Ku, semoga aku dan kalian dan semua keluarga, dan keturunan kita disatukan oleh Allah dan dipastikan oleh Allah didalam orang orang yang diridhoi Allah, orang orang yang dimuliakan Allah, orang orang yang dilimpahkan rahmat oleh Allah setiap waktu dan saat. Rabbiy bimbing kami, maafkan dosa dosa kami, tidak kami bangkit dari tempat ini kecuali kau sudah menghapus seluruh dosa dosa kami, dan dosa ayah bunda kami, dan dosa kerabat dan saudara kami, suami kami dan istri kami, anak anak kami dan keluarga kami yang masih mempunyai dosa dan belum terampuni hingga malam ini ampunkan seluruh dosa mereka ya Rahman ya Rahim. Mereka yang telah wafat dari ayah bunda, dari keluarga atau teman atau kerabat yang barangkali hingga malam ini masih terhimpit di alam kubur, bebaskan dari segala kesusahan ya Allah, dan mereka yang didalam kemuliaan didalam kubur, tambahkan kemuliaannya, dan mereka yang masih hidup Rabbiy linpahkan Rahmat dan keluhuran untuk mereka dan untuk kami semua. Wahai Nama yang mengawali segala-galanya dari tiada menjadi ada maka adakanlah segala apa yang kami minta, Wahai yang Maha mampu memberi melebihi semua yang mampu memberi, Wahai yang telah berfirman kepada kami (dalam hadits qudsiy) : “Wahai hamba-hamba Ku, jika berkumpul dari kalian seluruh jin dan manusia yang pertama dan yang terakhir di suatu lapangan yang multi luas, dan masing-masing kalian mempunya hajat dan meminta kepada Ku, (ada yang minta 1000 Surga, ada yang minta 1000 Arsy dengan masing-masing permintaannya) kuberikan semua yang kalian minta, tidak berkurang dari yang kumiliki, kecuali seperti jarum yang terangkat dari tengah lautan samudera” (Shahih Muslim) Wahai Allah Yang Maha Luhur, limpahkanlah kami lebih dari apa yang kami minta, limpahkan permintaan kami lebih dari apa yang kami harapkan, ampuni semua dosa yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui, kami titipkan masa lalu kami dalam samudera pengampunan Mu, kami titipkan masa depan kami kepada samudera gerbang kebahagiaan Mu,
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..
Limpahkan kedamaian, ketenangan, kebahagiaan, kesejukan dunia dan akhirat,Kemakmuran Dunia dan akhirat,
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..
Kau terus memberi dan terus memberi, beribu-ribu anugerah Kau beri dalam sekali kami memanggil Nama Mu
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..
Wahsyi yang telah membunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib,
menghancurkan badannya dan menghancurkan wajahnya, lari karna putus asa
dari Mu ya Allah, Kau memanggilnya kembali dari kasih sayang Mu, jangan
putus asa dari kasih sayang Mu, alangkah indahnya Engkau
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..
ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
|
perang tabuk di bulan rajab
| Ditulis Oleh: Munzir Almusawa | |
| Tuesday, 05 June 2012 | |
|
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَقُولُ، عِنْدَ الْكَرْبِ: لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ
الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ، وَرَبُّ
الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ،
(صحيح البخاري)Dari Ibn Abbas Ra: Sungguh Rasulullah SAW berdoa ketika dalam kesulitan: Laa ilaaha illallahul adhiimul haliim, Laa ilaaha illallah rabbul arsyi adhiim, laa ilaaha illallah, rabbbussamawati, wa rabbul ardhi, wa rabbul arsyil adhiim (Tiada Tuhan Selain Allah, Maha Agung dan Maha Berlemah Lembut, Tiada Tuhan Selain Allah Pemilik Arsy yang agung, Tiada Tuhan Selain Allah, Pemilik seluruh langit dan Bumi dan pemilik Arsy yang Mulia ) (Shahih Bukhari) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ
اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ
اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا
لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا
الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ
قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ
وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur,
Yang Maha melimpahkan rahasia keberkahan di bulan-bulan tertentu yang
terlimpah keluhuran yang lebih, keluhuran Allah subhanahu wata’ala tidak
pernah terbenam bagi hamba-hambaNya, berbeda dengan matahari yang
timbul dan tenggelam, berbeda pula dengan bulan yang muncul dan sirna,
berbeda dengan air di lautan yang terkadang pasang dan surut, berbeda
dengan bumi yang mana ada permukaan datar dan ada yang rendah dan ada
pula yang tinggi, berbeda dengan semua makhluk yang ada, sebagaimana
firmanNya :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
(الشورى : 11 )“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” ( QS. As Syuuraa : 11) Allah subhanahu wata’ala melimpahkan keluhuran kepada hamba-hambaNya, dan mereka yang mendapatkan keluhuran adalah keturunan nabiyullah Adam As yang telah disetujui oleh Allah untuk masuk ke dalam samudera cahaya لا إله إلا الله , samudera cahaya itu menerangi jiwa hamba-hambaNya sehingga sirnalah sifat-sifat yang hina dan terbitlah sifat-sifat yang luhur dan mulia, cahaya itu membenahi jiwa seseorang sehingga setiap ucapan, penglihatan , pendengaran dan segala sesuatu yang berada di sekitarnya akan terang benderang dengan cahaya لا إله إلا الله , dan yang telah disabdakan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam :
إِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلهَ إِلَّا الله
“ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan api neraka terhadap orang yang mengucapkan لا إله إلا الله “ Gejolak api neraka diharamkan oleh Allah untuk menyentuh orang-orang yang mengucapkan kalimah tauhid ( لا إ له إلا الله ) murni dari dasar sanubarinya. Oleh karena itulah dengan keagungan kalimah tauhid ini berpijarlah kemuliaannya di bulan yang mulia ini, kalimat yang dirangkum dalam suatu rangkuman luhur yaitu berupa ibadah shalat yang dihadiahkan oleh Allah kepada kita di bulan Rajab, dan juga sebagai undangan tunggal untuk satu-satunya makhluk yang mewarisi cahaya kalimah لا إ له إلا الله , makhluk yang paling terang benderang dengan cahaya لا إ له إلا الله , dan satu-satunya makhluk yang terpilih sebagai pemimpin makhluk-makhluk yang terang benderang dengan cahaya لا إ له إلا الله , beliaulah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itu kita akan membaca hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkannya kepada ummatnya, dan ucapan ini pun hampir selalu kita baca di setiap akhir majelis, namun sebagian ada yang bertanya : “Mengapa yang diucapkan bukan لا إ له إلا الله محمد رسول الله , riwayat dari mana kalimat-kalimat tersebut, mengapa kalimat itu banyak diulang-ulang di Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?”, karena banyaknya pertanyaan akan hal itu , maka hal itu perlu kita jawab agar mereka yang hadir di majelis-majelis mengetahui dan meyakini bahwa hal-hal yang kita amalkan kesemuanya sejalan dengan apa yang diperbuat oleh guru mulia ketika, dan telah mengajari kita untuk memperbanyak mengucapkan kalimat-kalima itu dan diulang sebnayak 3 kali, dan hal tersebut bukan hanya sekedar ajaran dari guru mulia saja atau sanadnya terputus sampai pada beliau saja, akan tetapi sanad tersebut bersambung hingga kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ucapan tersebut bukanlah ucapan yang dibuat-buat oleh Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketahuilah bahwa hal ini telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana diriwayatkan oleh sayyidina Abdullah bin Abbas Radiyallahu ‘anhuma :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ
يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ
، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ، لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ
الْكَرِيمِ
“ Dari sayyidina Ibn Abbas Ra, sesungguhnya nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dalam kesedihan mengucapkan : “
Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung dan Maha
Pengampun, Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, Tuhan Yang
menguasai ‘arsy, tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, Tuhan
Yang menguasai langit dan bumi, Tuhan Yang menguasai ‘arsy lagi Maha
Mulia” Kalimat ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di saat kita ditimpa musibah atau dalam kesulitan untuk membaca kalimat ini, sehingga dengan cahaya keluhuran لا إ له إلا الله maka musibah tersebut akan tertepis bagaikan debu yang tertiup angin dahsyat yaitu hembusan dari kalimat –kalimat luhur ini. Begitu juga hal yang perlu kita fahami dari kalimat ini adalah penjagaan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap kita, dimana di saat kita ditimpa musibah atau dalam kesulitan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bacaan atau doa yang dapat membuat kesusahan atau kesulitan kita hilang dan sirna. Sungguh betapa banyak kesulitan yang sirna dan dihilangkan oleh Allah sebab seseorang mengamalkan atau membaca kalimat ini. Kalimat ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan saat ini telah sampai kepada kita yang mana sanad keguruan kita bersambung kepada guru mulia dari guru-gurunya hingga sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itu pelajari dan amalkan dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bekal hidup kita agar kita selamat dari segala musibah. Akan tetapi kalimat-kalimat luhur ini, bagi mereka yang memiliki ketajaman pemahaman maka mereka tidak hanya meyakini bahwa kalimat ini hanya dapat menghapus musibah atau kesulitan di dunia, akan tetapi kalimat ini juga akan menghapus kesulitan atau permasalahan di akhirat, sebagaimana hadits yang tadi disebutkan bahwa seseorang yang mengucapkan لا إله إلا الله dari dasar hatinya maka Allah akan mengharamkannya dari api neraka. Namun masih banyak orang yang meremehkan keagungan kalimat ini, sehingga mereka merasa tidak perlu untuk mengulang-ulang kalimat ini, bahkan sampai-sampai melarang orang lain untuk banyak mengucapkan kalimat ini, dengan dalih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengucapakan kalimat tersebut secara bersama-sama dan beramai-ramai. Namun tentunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan kemuliaan kalimat-kalimat ini, maka di saat kaum muslimin ditimpa banyak musibah dan permasalahan, terjebak dalam berbagai macam pebuatan hina dan dosa, dan jauh dari perbuatan-perbuatan mulia, maka dalam keadaan seperti itu kemana mereka akan melarikan diri, jika bukan pada perkumpulan dzikir, untuk mencabut dan menepis setiap pemasalahan, kesusahan atau kesedihan yang menimpa mereka, dosa-dosa yang menindih mereka, yang yang mana hal itu juga memungkinkan timbulnya permasalahan atau musibah di masa depannya baik di dunia atau di akhirat, maka perkumpulan dalam dzikir mengucapkan لا إله إلا الله hampir tidak pernah ditinggalkan oleh para salafusshalih, sehingga di setiap akhir majelis selalu ditutup dengan mengucapkan kalimah talqin (لا إله إلا الله ), karena satu hal yang dirisaukan oleh para shalihin adalah jika seseorang telah tenggelam dalam perbuatan dosa maka di saat ia berada dalam keadaan sakaratul maut maka ia tidak dapat mengucapkan kalimat لا إله إلا الله atau bahkan lupa dengan kalimat tersebut, sehingga mereka para shalihin menjadikan dalam setiap perkumpulan selalu ada pengucapan kalimat-kalimat لا إله إلا الله . Al Imam Ibn Hajar berkata dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari dikarenakan keagungan kalimat لا إله إلا الله maka menjadi sesuatu yang disunnahkan untuk diulang-ulang, agar kalimat itu tertanam di hati kita, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ للهِ تِسْعَةُ وَتِسْعُوْنَ اِسْمًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“ Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa yang menghafalnya maka akan masuk surga” Hal ini bukan berarti cukup bagi kita hanya menghafal 99 nama Allah tanpa melakukan ibadah yang lainnya, namun maksud dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa seseorang yang menghafal nama-nama Allah maka berarti orang tersebut sering atau banyak menyebut nama-nama Allah sehingga ia menghafalnya. Ketika seeorang banyak menyebut dan mengingat nama-nama Allah, sebagaiman nama-nama Allah memiliki makna-makna yang berbeda, sehingga hal tersebut dapat menjadikan seseorang untuk banyak melakukan kebaikan dan meninggalkan perbuatan yang hina. Oleh sebab itu cahaya dari 99 nama Allah subhanahu wata’ala jika ada dalam setiap sanubari kita maka akan menjaga kita dari perbuatan-perbuatan hina, sehingga ketika akan wafat pun kalimat itulah yang memenuhi sanubari kita. Di bulan Rajab ini salah satu peristiwa yang perlu kita ingat adalah peristiwa perang Tabuk yang terjadi pada akhir bulan Jumadil Tsani dan awal Rajab, setahun setelah kejadian perang Mu’tah dimana ketika sayyidina Ja’far bin Abi Thalib, sayyidina Zaid bin Haritsah dan sayyidina Abdullah Ibn Rowahah Rdiyallahu ‘anhum wafat dalam perang Mu’tah. Maka setahun kemudian setelah kejadian itu, sampailah kabar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa pasukan Romawi akan masuk ke Jazirah Arab melewati wilayah Tabuk, dan ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam keadaan yang sulit, diriwayatkan dalam sirah Ibn Hisham bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan dan menyampaikan tausiah kepada para sahabat untuk bershadaqah, barangkali diantara mereka ada yang dapat membantu dengan hartanya, jika diantara mereka mempunyai tunggangan (onta,kuda atau keledai) lebih atau memiliki simpanan senjata yang banyak, mungkin memiliki simpanan makanan yang banyak atau yang lainnya untuk dijadikan sebagai persiapan untuk menuju Tabuk, karena perjalanan menuju Tabuk merupakan perjalanan terjauh dalam peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka sayyidina Utsman bin Affan Ra adalah orang pertama yang menanggapi dan menjawab apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di saat para sahabat yang lainnya terdiam, seraya berkata : “Wahai Rasulullah, dariku 1000/100 Dinar untuk persiapan perang Tabuk”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meneteskan air mata dan mengangkat tangannya seraya berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala :
اَللّهُمَّ ارْضَ عَنْ عُثْمَانَ فَإِنِّي عَنْهُ رَاضٍ
“ Ya Allah ridhailah Utsman, sesungguhnya aku telah ridha terhadapnya” Maka ketika itu keberangkatan menuju Tabuk segera dipersiapkan, yang mana tujuan dari perjalanan tersebut adalah untuk menahan pasukan Romawi yang akan menyerang Jazirah Arab melalui wilayah Tabuk, dimana Tabuk merupakan daerah pantai. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin menahan mereka agar tidak masuk ke wilayah muslimin, sehingga Rasulullah dan pasukan muslimin berangkat untuk menunggu pasukan Romawi di pantai Tabuk, yang mana keberangkatan itu terjadi pada akhir bulan Jumadil Tsani, dalam riwayat lain terjadi pada awal bulan Rajab. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw untuk tetap berada di Madinah Al Munawwarah, maka beliau pun menetap di Madinah meskipun ada perasaan kecewa dalam diri beliau, terlebih lagi dengan munculnya perkataan dari sebagian orang yang berkata bahwa sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah pemuda yang kuat dan memiliki kehebatan dalam peperangan namun diperintahkan untuk tidak ikut dalam peperangan akan tetapi hanya menetap di Madinah untuk menjaga kaum wanita dan anak-anak. Mendengar hal itu sayyidina Ali Kw langsung mengambil pedang, perisai dan peralatan perang yang lainnya kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Wahai Rasulullah, engkau akan berangkat untuk perang dan meninggalkan aku disini bersama para wanita dan anak-anak kecil”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُوْنَ مِنْ مُوْسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِيْ
“ Tidakkah engkau rela/senang jika engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku” Demikianlah cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menenangkan sayyidina Ali Kw yang penuh dengan semangat juang ini agar tidak kecewa atau merasa diremehkan karena tidak diikutsertakan dalam perang Tabuk dan tidak bisa ikut serta mendapatkan pahala jihad, terlebih beliau selalu ingin melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun Rasulullah mengetahui bahwa perang Tabuk bukanlah peperangan yang besar, oleh sebab itu beliau diperintahkan untuk tetap berada di Madinah Al Munawwarah untuk mentarbiyah (mendidik) jiwa, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Murabbi (pendidik) yang paling mulia dan agung dari semua murabbi. Maka merasa tenanglah sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw setelah mendengar perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau pun kembali ke Madinah Al Munawwarah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama pasukan muslimin terus bergerak menuju Tabuk. Dan saat itu ada salah seorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, izinkalah aku untuk tidak ikut dalam peperangan agar aku tidak terjebak dalam fitnah karena aku adalah orang yang sangat menyukai wanita cantik, dan di Tabuk banyak wanita cantik sehingga aku tidak tergoda oleh mereka, maka lebih baik aku tidak mengikuti peperangan”, namun sebaliknya dengan alasannya tersebut justru akan menjebaknya dalam fitnah karena memisahkan diri dari pasukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin. Karena Rasulullah shallallahu wasallam jika mendapatkan seseorang yang berhalangan untuk ikut perang dengan alasan yang dapat diterima maka pastilah beliau mengizinkannya dan Allah juga akan mengizinkannya, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dengan firmanNya. Begitupula ketika kaum munafik berkata kepada sebagian yang lainnya untuk tidak berangkat dalam peperangan itu karena cuaca yang sangat panas, kemudian Allah subhanahu wata’ala memfirmankan ucapan mereka dalam Al qur’an :
فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا
أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ
حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُوْنَ
( التوبة : 81 )“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas (nya)", jika mereka mengetahui.” ( QS. At Taubah : 81 ) Maka diantara orang-orang munafik itu ada yang bertobat dan ada juga yang tetap di tempatnya dan tidak mengikuti peperangan. Dan dalam sirah Ibn Hisham disebutkan bahwa ada diantara kaum munafik yang menginap di suatu tempat dan membicarakan keberangkatan ke Tabuk kemudian di pagi harinya didapati tubuh mereka telah hangus dan tidak seorang pun dari mereka yang masih hidup. Kemudian ada beberapa orang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ingin mengikuti perang tabuk namun tidak memiliki kendaraan, sedangkan semua tunggangan yang ada sudah ada yang menungganginya, maka Rasulullah tidak mengizinkan mereka dan bersumpah bahwa mereka tidak akan bisa ikut dalam perang Tabuk. Maka mereka merasa sangat sedih dan menangis, dan ketika itu datanglah beberapa orang yang membawa hewan tunggangan baru, kemudian Rasulullah mengkafarti sumpahnya dan mengizinkan mereka untuk ikut dalam perang Tabuk, dan ketika itu berubahlah wajah sang nabi menjadi cerah yang tadinya juga merasa sedih karena tidak bisa membawa mereka ikut serta dalam perang Tabuk. Di tengah perjalanan Abu Khaitsamah menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukan muslimin, dimana ketika itu beliau pergi ke luar Madinah dan setelah kembali ke Madinah beliau mendapati Madinah sepi dari para kaum lelaki, yang ada hanyalah kaum wanita dan anak-anak, dan di saat itu istri Abu Khaitsamah telah menyambut kepulangannya dengan menyirami tanah dengan air kemudian menutupinya dengan tikar agar terasa sejuk, dan juga telah menyiapkan makanan dan minuman untuk menyambut suaminya akan datang, maka setelah tiba di depan rumah ia berkata : “Disini akan kudapati tempat yang sejuk serta makanan dan minuman telah disiapkan, sedangkan di saat ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di bawah panas matahari dalam keadaan haus dan lapar, demi Allah aku tidak akan masuk ke dalam rumah ini”, kemudian ia berkata kepada istrinya : “siapkan untukku perbekalan untuk aku menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukan kaum muslimin”, kemudian beliau pun menyusul pasukan Rasulullah dan kaum muslimin menuju Tabuk. Di tengah perjalanan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukan sedang beristirahat, salah seorang berkata : “ Wahai Rasulullah, ada seseorang yang menunggangi kuda datang menuju kesini”, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “ (jadilah) orang yang datang itu adalah Abu Khaitsamah”, dan ternyata benar orang itu adalah beliau. Kemudian beliau meminta maaf akan keterlambatannya karena beliau tidak mengetahui hal tersebut, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun ridha dan mendoakannya dengan kebaikan. Beberapa saat terdengar ucapan diantara orang-orang yang ada dalam perjalanan ke Tabuk “mengapa si fulan tidak ikut”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas berkata : “Biarkanlah mereka, jika Allah menghendaki maka mereka akan berangkat dan jika Allah tidak menghendaki maka mereka tidak akan berangkat”. Setelah beberapa waktu dan mereka sedang beristirahat, terlihat dari kejauhan seseorang yang sedang berjalan kaki dengan membawa barang-barang di punggungya, maka salah seorang berkata : “Wahai Rasulullah, ada seseorang berjalan kaki menuju kesini”, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “(jadilah) orang yang datang itu adalah Abu Dzar Al Ghifari”, dan ternyata benar yang datang adalah sayyidna Abu Dzar, dimana keledai beliau sudah sangat lemah sehingga ia berjalan kaki dan memikul barang-barangnya serta menuntun keledainya, karena tidak ingin membebani keledainya yang sudah sangat tua dan lemah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
رَحِمَ اللهُ أَبَا ذَرِّ يَمْشِيْ وَحْدَهُ وَيَمُوْتُ وَحْدَهُ وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ
“ Semoga Allah melimpahkan rahmatNya untuk Abu Dzar yang
berjalan sendirian, dan akan wafat dalam keadaan sendirian, dan akan
dibangkitkan sendirian” Suatu hari ketika sedang bermalam di suatu tempat, tunggangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hilang, dan ketika itu banyak golongan orang munafik yang juga ikut dalam perang Tabuk yang mana mereka hanya menginginkan harta yang akan didapatkan dari pasukan Romawi jika kaum muslimin mengalahkan mereka, maka diantara orang munafik itu ada yang berkata : “Bukankah ia nabi dan mendapatkan wahyu dari langit, tapi mengapa hewan tunggangannya hilang namun ia tidak tau dimana tunggangannya berada”, dan ketika itu sayyidina Umarah yang mendengar ucapan tersebut lantas pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Aku tidak mengetahui sesutu kecuali sesuatu yang telah diberitaukan oleh Allah, dan ontaku saat ini terjebak di sebuah pepohonan di suatu tempat”. Maka Abu Umarah marah terhadap temannya yang munafik itu yang ikut satu tunggangan bersamanya, lalu Abu Umarh berkata kepadanya : “Mulai saat ini engkau jangan ikut bersamaku, kembali saja ke Madinah”. Kemudian perjalanan dilanjutkan, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhadapan dengan sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja Yohana, dimana raja itu beragama Nasrani dan menolak untuk masuk Islam namun tetap ingin menjalin hubungan baik dengan Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Jika engkau tidak ingin berperang karena kami akan menuju Tabuk, maka engkau harus membayar Jizyah (pajak bagi orang non muslim)”, sehingga masalah Jizyah ini oleh orang-orang yang ingin mengadu domba antara ummat Islam dan orang non muslim, dengan mengatakan bahwa kekejaman ummat Islam adalah mengharuskan kaum non muslim untuk membayar Jizyah, padahal Jizyah adalah sebagaimana pajak yang harus dibayar oleh orang-orang non muslim yang mampu, dan uang tersebut dipergunakan untuk membayar pasukan untuk menjaga mereka, dan jumlah Jizyah jauh lebih sedikit daripada zakat. Maka raja Yohana memilih untuk membayar Jizyah, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis perjanjian kepada raja Yohana, diantara perjanjian itu adalah adalah :
سُفُنُهُمْ وَسَيَّارَاتِهِمْ فِي اْلبَرِّ وَاْلبَحْرِ لَهُمْ ذِمَّةُ اللهِ وَذِمَّةُ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ
“ Kapal-kapal dan kendaraan/tunggangan mereka yang ada di
daratan atau di lautan berada dalamdzimmah ( jaminan) Allah dan Muhammad
rasulullah” Karena mereka telah membayar Jizyah, maka berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membayar para pasukan dari uang Jizyah yang mereka berikan untuk melindungi diri mereka dan harta mereka, sungguh indah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap orang-orang non muslim yang tidak memerangi Islam dan mau untuk membayar Jizyah. Sehingga disebutkan bahwa bagi mereka (non muslim) ada jaminan (penjagaan) Allah dan RasulNya. Kemudian di suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan sayyidina Khalid bin Walid untuk menemui raja Ukaidar di wilayah dekat dengan Tabuk, dan diberitahukan kepada beliau bahwa raja itu akan keluar dengan dua atau tiga orang saja, kemudian memerintah untuk menangkapnya. Lalu sayyidina Khalid bin Walid bersama beberapa pasukan keluar menuruni benteng dan mendekati istana raja Ukaidar, dan ketika itu beliau mendapati raja Ukaidar sedang keluar dan dalam keadaan kebingungan. Raja Ukaidar adalah orang yang suka menangkap kerbau-kerbau buas, tiba-tiba di saat itu kerbau-kerbau itu banyak yang keluar maka ia pun keluar dari istana dengan kebingungan, di saat itu ditangkaplah ia dan dilepaslah jubahnya dan dibawa kehadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika melihat pakaian raja Ukaidar yang terbuat dari sutera dan tenunan dari benang-benang emas, para sahabat pun merasa takjub karena belum pernah menemui pakaian seindah itu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Apakah kalian merasa takjub dengan keindahan pakaian raja Ukaidar ini!?, sungguh sapu tangan Sa’ad bin Muadz jauh lebih indah dan lebih berharga daripada pakaian raja Ukaidar ”. Kemudian raja Ukaidar pun membayar Jizyah dan tidak lama kemudian ia pun masuk Islam, akan tetapi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat ia murtad (kembali pada agamanya), sehingga ia diperangi dan meningga di masa sayyidina Abu Bakr As Shiddiq Ra. Di tempat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pasukan berdiam sampai 10 hari namun pasukan Romawi tidak juga tiba, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukan mengarah untuk kembali ke Madinah Al Munawwarah, dalam perjalanan beliau dan kaum muslimin membangun 17 Masjid diantara Tabuk dan Madinah Al Munawwarah. Sesampainya di Madinah, sayyidina Ka’ab bin Malik datang terengah-engah dengan menagis menghadap Rasulullah dan berkata : “Wahai Rasulullah, maafkan aku karena tidak ikut berangkat bersama kalian ke Tabuk”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa beliau belum bisa memberi jawaban apakah taubatnya diterima oleh Allah sebelum ada perintah dari Allah subhanahu wata’ala, di saat itu ada 3 orang sahabat yang tidak ikut dalam perjalanan ke Tabuk, mereka adalah sayyidina Sa’ad Ibn Malik, Murarah bin Rabi’ah dan Hilal bin Umayyah, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ
الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا
أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ
لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
( التوبة : 118 )“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”. ( QS. At Taubah : 118 ) Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada 3 orang tersebut jika mereka ingin bertobat maka seluruh kaum Muslimin di Madinah tidak boleh ada seseorang pun yang mengajak berbicara dengan mereka kecuali hanya diantara 3 orang tersebut, sebagai hukuman untuk mereka sampai ada perintah dari Allah yang memutuskan bahwa tobat mereka diterima oleh Allah. Maka dengan keadaan tersebut mereka mereka merasa tersiksa dan hal itu pun berlanjut hingga 30 hari, dan di hari ke 40 turun perintah yang lebih keras dari Allah yaitu untuk berpisah dengan istri dan keluarganya dan tidak boleh berjumpa dengan mereka, kemudian di hari yang ke 50 turunlah wahyu dari Allah subhanahu wata’ala bahwa Allah menerima tobat ketiga orang tersebut, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil mereka, kemudian mereka mencium tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dalam riwayat lain beliau mencium lutut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena gembira, maka kejadian ini juga merupakan dalil dari beberapa dalil yang ada akan diperbolehkannya mencium tangan. Selanjutnya kita bersalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kalimat talqin dan doa penutup oleh Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, yataffaddhal masykuraa. |
Langganan:
Postingan (Atom)