http://malaysfreecommunities.webs.com/allah%20muhammad.JPG
Rabu, 02 Januari 2013
kesalahan kelompok musyabihhah
Menurut
Ibnu AlJauzy didlm kitab Daf`u Syubhatu AlTasybih, kesalahan kelompok
musyabihhah mujassimah wahabi salafy dlm memahami sifat khabariyah.
Seperti tentang istiwa. disebabkan karena.
1. Mereka menamakan khabar-khabar dgn khabar sifat, padahal realitanya hanyalah sebagai idhafat (penyandaran).
Secara kaidah dijelaskan bahwa tidak semua idhafah bermakna sifat.
Perhatikanlah Allah berfirman :
ونفخت فيه من روحى
“Aku meniupkan kepadanya ruhKu”
Di sini jelas bahwa ada idhafah Allah dgn ruh.
Akan tetapi tidak ada yg mengatakan bahwa Allah memiliki sifat ruh.
2. Mereka menyatakan bahwa hadits-hadits yg diriwayatkan adalah hadits
mutasyabihat, yg tidak diketahui makna dan maksudnya kecuali oleh Allah.
Namun kemudian mereka menafsirkannya dgn makna yg dzhahir! Sangat
mengherankan sekali, hal yg tidak diketahui kecuali oleh Allah, akan
tetapi zhahir bagi mereka! Bukankah makna zhahir dari kalimat استواء
(bersemayam) kecuali bermakna القعود (duduk) ?!
& kalimat النزول (turun) tidak dipahami,
kecuali bermakna الانتقال (perpindahan).
3. Mereka kemudian menetapkan pelbagai sifat bagi Allah, sedangkan
sifat yg layak bagi Allah tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil yg
layak untuk DZat Allah, yg bersifat qath`iy.
4. Di dalam
masalah istbat (mentapkan sifat), mereka tidak bisa membedakan, bahwa
khabar ada yg bersifat khabar masyhur seperti:
ينزل تعالى الى سماء الدنيا
Allah turun ke langit dunia
Dan ada khabar yg tidak sahih, seperti: hadits
رأيت ربى فى أحسن صورة .
Aku melihat Tuhanku pada sebaik-baik bentuk.
Akan tetapi mereka justru menetapkan sifat bagi Allah dgn hadits masyhur dan hadits yg tidak shohih ini!
5. Mereka tidak bisa membedakan antara hadits yg marfu` (bersambungan
sanadz) kepada Nabi Muhammad SAW ., & hadits yg mauquf (terputus
sanad hanya sampai) kepada sahabat dan tabi`in, namun mereka menetapkan
sifat dgn kedua hadits tersebut.
6. Mereka mentakwil sebagian lafaz pada tempat-tempat tertentu, seperti hadits:
ومن أتانى يمشى اتيته هرولة
Dan barangsiapa yg mendatangi Ku dgn berjalan, Aku mendatanginya dgn berlari.
Mereka mengatakan bahwa hadits ini adalah untuk menunjukkan makna Allah
memberikan nikmat. Anehnya mereka tidak melakukan takwil pada tempat yg
lain?!
7. Mereka memahami hadits-hadits berdasarkan pemahaman indrawi, oleh karena itu mereka berani mengatakan.
Allah turun dgn zatNya & berpindah pindah dari suatu tempat ke
tempat yg lain”, kemudian mereka mengatakan “bukan sebagaimana yg
difikirkan!” Mereka justru sudah duluan memikirkan & membuat bingung
orang2 yg mendengar pernyataan mereka serta melumpuhkan indra dan akal
mereka.
واللــــه أعلـم بالصـــــــــــــواب
rekayasa
WASPADALAH AKAN KITAB REKAYASA WAHABI.
Lagi2 kejahatan wahabi talafi memalsukan kitab.
______________________________ _______________________
بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد رسول الله وعلى اله وجميع انبياءالله
KITAB REKAYASA WAHABI Berjudul.
JUZK FIL HURUF WAL ASHWAT.
Bukan Kitab Buatan Imam Nawawi
Dakwah Salafy Wahaby walaupun kita sering bertanya, Kenapa Marah Di
Sebut Wahaby? yang sulit di terima oleh dunia Islam, kecuali hanya
sebagian kecil orang awam, sehingga menghalalkan segala cara demi sebuah
faham yang mereka anggap benar, dakwahnya yang lebih pantas di sebut
dengan fitnah terhadap Islam, Al-Quran, Hadits dan para Ulama Islam.
Karena setiap sisi syari’at Islam yang tidak sepaham dengan pemahaman
mereka selalu ada cerita dusta dan fitnah terhadap Ulama, baik Salaf
atau Khalaf, ketidak siapan mereka dalam menyikapi perbedaan atau dengan
kata yang lebih jelas WAHABY / SALAFY TIDAK MAMPU MENERIMA PERBEDAAN
dan tidak cukup nya pendukung dakwah mereka, hingga memaksa mereka
memutarbalikkan fakta dengan cerita dusta terhadap para pakar Ulama
Islam separti Imam Mazhab empat, Syaikh Abdul Qadir Al-Jiilani, Ibnu
Katsir, Imam Baihaqqi, Imam Asy’ari, Imam Nawawi,Ibnu Hajar
al-Ashqalani, Shalahuddin al-Ayyubi dan masih banyak lagi, semoga Allah
selalu menjaga Para Ulama Islam dari bermacam fitnah Wahaby.
Adapun
yang ingin kami sampaikan di sini adalah cerita dusta terhadap Imam
Nawawi yang bernama lengkap Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin
Marri asy-Syafi’i al-Asy’ari an-Nawawi, ada dua fitnah Wahabi terhadap
Imam Nawawi yang saling bertolak-belakang, yaitu tuduhan sesat dan
tuduhan taubat. Dan sudah banyak yang Membongkar Kitab Rekayasa Wahabi
Yang Dinisbahkan Kepada Imam Nawawi Pengarang Kitab Riyadhus Shalihin
ini.
1. Tuduhan sesat yang masyhur adalah mengenai kitab adzkar, dan
tuduhan yang dilakukan oleh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam kitab
nya Liqa’ al-Bab al-Maftuh bahwa Imam Nawawi bukan Ahlus Sunnah Wal
Jama’ah, tuduhan ini memang sudah lumrah, karena setiap yang tidak sama
dengan mereka pasti dituduh sesat, lebih lagi karena Imam Nawawi adalah
seorang Ulama Sufi dan beraqidah Asy’ari, fitnah ini telah dilemparkan
oleh Wahabi terhadap semua Ulama Sufi dan beraqidah Asy’ari atau
Maturidi, semua di cap sebagai ahlu bid’ah sesat, semoga Allah menolong
semua penolong Islam.
2. Tuduhan bahwa Imam Nawawi telah bertaubat
dari aqidah Asy’ari ke aqidah Salafy Wahaby, bukan Salafy murni, karena
tidak ada takfiri antara Salaf dan Khalaf, fitnah ini bersumber dari
sebuah rekayasa pembenci Imam Nawawi lewat lembaran2 kitab rekayasa yang
dinisbahkan kepada Imam Nawawi yang katanya “beliau sempat bertaubat
dari aqidah Asy’ari dan kembali ke aqidah Salaf kira-kira dua bulan
sebelum beliau wafat, dan sempat menulis kitab tentang aqidah Ulama
Salaf serta mencela Asya’irah.
Akan tetapi kitabnya hilang dan yang tersisa hanya satu Juzuk/Jilid yang membahas tentang.
KALAMULLAH HURUF dan SUARA.
Sehingga jilid itu disebut
جزء الحروف والأصوات
JUZK HURUF WAL ASHWAT- atau -JUZK FIL HURUF WAL ASHWAT.
atau
جزء فيه ذكر اعتقاد السلف في الحروف و الأصوات
JUZK FI HI DZIKRU I’TIQAD SALAF FIL HURUF WAL ASHWAT.
Dan kitab rekayasa itu di tahqik oleh pentahkiq Wahabi yaitu Abu Fadhl
Ahmad Ibnu Ali ad-Dimyati, agar penyamaran itu sempurna dan terkesan
benar adanya, serta menumbuhkan keragu-raguan pada pengikut Ahlu Sunnah
Waljama’ah yang beraqidah Asy’ari,
Istawa bukan bersemayam menurut Imam abu Hanifah
Kesalah-pahaman Salafi Wahabi dalam memahami nash-nash mutasyabihat ,
membuat mereka kesusahan memahami pernyataan-pernyataan para ulama
salaf , dan akhirnya mereka salah memahami hakikat Manhaj Salaf ,
sengaja atau tidak, mereka telah menisbahkan pemikiran mereka kepada
Manhaj Salaf , sementara Manhaj mereka sangat berbeda jauh dari Manhaj
Salaf nya ulama Salaf , sebagai bukti mari lihat bagaimana pemahaman
Salafi Wahabi tentang “Istawa” mereka beriman bahwa “Allah bersemayam di
atas ‘Arasy” karena memahaminya dari kata “Istawa” dan mereka tidak
peduli telah menyamakan Tuhan dengan makhluk-Nya, karena menurut mereka
persamaan seperti itu bukan masalah selamatidak sama kaifiyat nya, dan
menurut mereka begitulah para ulama Salaf beriman, padahal tidak ada
satupun ulama Salaf yang berkata “Istawa”yakni “bersemayam” . Manhaj
ulama Salaf terlepas dari anggapan Salafi Wahabi, sebagai bukti mari
kita lihat bagaimana pemahaman Imam Abu Hanifah tentang “Istawa” .
Berkata Imam Abu Hanifah –rahimahullah-:
نُقِرُّ بأنَّ اللهَ تعالى على العرشِ استوى من غيرِ أن يكونَ له حاجةٌ
إليه واستقرار عليه وهو الحافظُ للعرش وغيرِ العرش منْ غيرِ احتياج، فلو
كان محتاجا لما قَدَرَ على إيجادِ العالم وتدبيرِه كالمخلوق ولو كان محتاجا
إلى الجلوس والقرار فقبل خلقِ العرشِ أين كان الله تعالى الله عن ذلك
علوًا كبير
“Kita akui bahwa Allah “ber-Istiwa’ “ atas Arasy tanpa
berhajat Allah kepada ‘Arasy, dan tanpa berada di atas ‘Arasy, dan Dia
lah yang menjaga Arasy dan lainnya dengan tanpa berhajat, seandainya
Allah berhajat, sungguh Ia tidak kuasa menjadikan alam dan mengaturnya
seperti makhluk, dan seandainya Allah berhajat kepada duduk dan menetap
(berada di satu tempat), maka di mana Allah sebelum menciptakan
‘Arasy,maha suci Allah dari demikian" .[al-Jauharah al-Munifahfi Syarhi
Washiyah – halaman 10].
Perhatikan scan kitab di bawah ini
نُقِرُّ بأنَّ اللهَ تعالى على العرشِ استوى
“Kita akui bahwa Allah “ber-Istiwa’ “ atas Arasy”
Maksudnya : Tidak ada keraguan bahwa Allah Istiwa’ atas ‘Arasy , tapi
jangan terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa itulah dalil Allah
bersemayam di atas ‘Arasy , karena justru Imam Abu Hanifah baru akan
menjelaskan pemahaman kata “Istawa” setelah itu, Imam Abu Hanifah hanya
memakai kata"Istawa" sebagaimanayang tersebut dalam Al-Quran, inilah
yang biasa disebut “memberlakukan sebagaimana datangnya” tidak memakai
kata lain untuk makna dari kata “Istawa” .
Lalu Imam Abu Hanifahmenjelaskan maksud “Istawa”
من غيرِ أن يكونَ له حاجةٌ إليه واستقرار عليه
“tanpa berhajat Allah kepada ‘Arasy, dan tanpa berada di atas ‘Arasy”
Maksudnya : Istawa Allah yang tersebut dalam Al-Quran bukan dalam
artian Allah berhajat kepada ‘Arasy , dan bukan dalam artian Allah
berada /bersemayam di atas ‘Arasy , Imam Abu Hanifah di sini tidak
memaknai “Istawa” dengan makna lughat, karena dari makna lughat akandi
pahami bahwa Allah berhajat dan berada di atas ‘Arasy , tapi Imam Abu
Hanifah jelas berkata bukan demikian, memaknai “Istawa” dengan makna
bahasa berarti telah menuduh Allah berhajat kepada ‘Arasy, karena tanpa
‘Arasy, Allah tidak bisabersifat dengan “Bersemayam” , dan juga memaknai
“Istawa” dengan “bersemayam” berarti telah menetapkan Allah di suatu
tempat atau di arah tertentu, sementara Imam Abu Hanifah telah berkata
bukan demikian.
وهو الحافظُ للعرش وغيرِ العرش منْ غيرِ احتياج
“dan Dia lah yang menjaga Arasy dan lainnya dengan tanpa berhajat”
Maksudnya : Allah yangmenjaga ‘Arasy, bukan‘Arasy yang menjaga Allah,
Allah tidak butuh‘Arasy, Allah telah bersifat dengan sifat maha tinggi
dan maha sempurna sebelum adanya ‘Arasy, adanya‘Arasy tidak berpengaruh
apapun terhadap dzat Allah dan sifat-Nya, ‘Arasy tidak dapat merubah
Allah dan sifat-Nya darikeazalian-Nya.
كان محتاجا لما قَدَرَ على إيجادِ العالم وتدبيرِه كالمخلوق
“seandainya Allah berhajat, sungguh Ia tidak kuasa menjadikan alam dan mengaturnya seperti makhluk”
Maksudnya : Seandainya Allah berhajat kepada sesuatu, maka tentunya
Allah tidak bisa menciptakan dan mengatur alam yakni semua makhluk-Nya,
sebagaimana makhluk berhajat kepada pencipta, maka makhluk tidak dapat
menciptakan apa pun, begitu juga dengan ‘Arasy, seandainya Allah
berhajat kepada ‘Arasy, tentu Allah tidak bisa menciptakan‘Arasy,
seandainya ‘Arasy menjaga Allah tentu Allah tidak menjaganya, padahal
Allah lah yang menciptakan dan menjaga ‘Arasy.
ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلقِ العرشِ أين كان الله
“dan seandainya Allah berhajat kepada duduk dan menetap (berada di satu tempat), maka di mana Allah sebelum menciptakan ‘Arasy”
Maksudnya : Seandainya Allah berhajat kepada sifat duduk atau menetap
atau berada /bersemayam di satu tempat atau arah, maka di mana tempat
atau arah tersebut sebulum ada tempat dan arah ? begitu juga dengan
‘Arasy, seandainya Allah berhajat kepada sifat bersemayam di atas
‘Arasy, maka di mana Allah bersemayam sebelum diciptakan ‘Arasy , maka
dapat dipastikan bahwa Allahtidak bersemayam atau berada di suatu tempat
atau arah sekalipun di atas ‘Arasy, Allah sebelum ada ‘Arasy tidak
bersifat dengan sifat tersebut, beginilah cara ulama Salaf menafikanarah
dan tempat pada Allah .
تعالى الله عن ذلك علوًا كبير
“maha suci Allah dari demikian”
Maksudnya : Allah tidakbersifat dengan sifat demikian yakni berhajat
kepada sesuatu atau berada atau bersemayam di satu tempat atau arah ,
dan kepada sesuatu pun yang selain keazalian-Nya, karena Allah telah
bersifat dengan segala sifat kesempurnaan-Nya pada Azali, tidak ada
pertambahan atau perubahan setelah nya.
Allah ada tanpa arahdan tanpa tempat
Wallahua’lam.
Senin, 31 Desember 2012
pemalsuan sejarah
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ
فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا
فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (الحجرات:6)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang
Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu
tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (Al Hujurat:6).
Dari dulu yang namanya pemalsuan sejarah sudah terjadi. Sampai sampai
Kitab Suci pun tidak luput dari perbuatan tercel model ini. Sebut saja
Kitab Bible. Kitab ini penuh dengan pemalsuan sejaran. Sebagai misal apa
yang disebutkan dalam Kitab Kejadian 2:17:
“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu,
janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah
engkau mati."
Demikian pula pada Kitab yang sama pasal 3 ayat 3 dikatakan:
“Tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman:
Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
Di kedua ayat ini Tuhan menyatakan bahwa bila Adam memakan buah larangan
akan mati seketika. Firman ini dibantah oleh Ular (Syetan) yang
mengatakan:
“Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak
akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya
matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang
yang baik dan yang jahat.
" (Kejadian 3:4-5)
Ternyata belakangan ketika Adam melakukan pelanggaran, yang benar adalah
ucapan Ular; Adam dan Hawwa tidak mati. Perhatikan ayat ayat
selanjutnya:
“Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan
sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi
pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan
diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan
suaminya pun memakannya. Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka
tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan
membuat cawat”.(Kejadian 3:6-7)
Orang yang berpikiran sehat pasti tidak akan percaya terhadap cerita
Versi Perjanjian Lama ini. Betapa tidak, bagaimana mungkin Tuhan
berdusta dan Syetan benar?.
Nabi Sulaiman AS bahkan pernah menjadi korban pemalsuan sejaran ini.
Gara-gara kelakuan para tukang sihir, selama berates tahun namanya
enjadi hitam; ia dicatat sebagai Tukang Sihir Untunglah Allah SWT
menurunkan firman-Nya meluruskan pemalsuan ini. (Al Baqarah:102)
Di tengah kaum Muslimin sepeninggal Rasulullah SAW kasus seperti ini
banyak terjadi di antaranya dengan beredarnya Hadis Hadis palsu
(Maudhu’). Ribuan ucapan, cerita dan laporan atas nama Rasulullah SAW
dituliskan dan diriwayatkan secara turun temurun. Untunglah Allah SWT
membangkitkan sejumlah Ulama yang memilikki rasa peduli untuk meneliti
ulang informasi tersebut. Bangkitlah di sana Ibn Al Jauzi, As Suyuthi
dan lainnya yang dengan berani mengungkapkan kepalsuan itu dan
menyiarkannya di tengah publik.
Namun bukan berarti pamalsuan berakhir. Hingga hari ini pemalsuan terus
berlangsung karena bagi sebagian orang memiliki nilai komoditi yang
tidak kecil. Sebut saja nama daerah di Jakarta Pusat. Kawasan yang
dinamakan dengan Paseban oleh sementara orang diklaim sebagai berasal
dari kata Ba Syaiban, satu klan dari keturunan Arab. Padahal –
sebagaimana dikatakan para ahli sejarah – kata Paseban berasal dari kata
“Seba” yang berarti pertemuan dengan Raja. Ketika kata tersebut
ditambah dengan awalan dan akhiran berubahlah menjadi “Pasebaan”.
Selanjutnya seiring perjalan waktu orang mengucapkannya dengan yang
lebih mudah: Paseban. Dinamakan Paseban karena memang dulu di tempat
tersebut dilakukan pertemuan dengan Raja Matarm. Itu sebabnya tidak jauh
Dari Paseban terdapat kawasan yang dinamakan Matraman, berasal dari
kata Mataram atau Mataraman. (Lihat Gus Dur: Rahasia Kata Kata).
Yang paling mutakhir dari pemalsuan sejarah diduga adalah Kasus Mbah
Priok. Peristiwa yang mengakbitakn banyak korban itu berawal dari buku
tulisan orang yang menamakan dirinya Habib Muhammad bin Ahmad Al
Haddad, Al Habib Muhammad bin Abdullah Alaydrus dan Al Habib Ali bin
Abdurrahman Alaydrus yang berjudul Risalah Manaqib (Mbah Priok). Buku
yang dicetak tanpa mencantumkan Penerbit dan tahun terbitan itu
menceritakan yang intinya sebagai berikut:
1. Bahwa Mbah Priuk adalah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib
Hasan bin Muhammad Al Haddad Al Husaini Asy Syafi’i sunni keturunan dari
Sayyidina Quthbil Irsyad Wa Ghoutsil Ibad Al Imam Al Arif Billah al
Habib Abdulloh bin Alwi al Haddad RA. Beliau lahir tahun 1727 di
Palembang Sumatera Selatan dan meninggal dunia di atas kapal pada tahun
1756.
2. Bahwa Ia adalah seorang Ulama bahkan Waliyyullah penyebar Agama Islam di Betawi sebagaimana disebutkan dalam buku itu:
“Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad adalah seorang Wali Allah yang mengabdikan hidupnya hanya mensyi’arkan agama Islam di dalam menegakkan kalimat Tauhid dari tanah kelahirannya hingg sampai keluar daerah (pulau Sumatera, Jawa dan lain sebagainya).”
3. Bahwa nama tanjung Priok berasal dari peristiwa tersebut.
Tulisan tersebut belakangan diketahui merupakan Pemalsuan Sejarah.
Kepalsuannya diketahui setelah Majlis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama
dengan Ahli Sejarah Alwi Sahab dan berbagai pakar Sejarah serta
keluarga Al Haddad sendiri dari Palembang. Dalam kesimpulan pembahasan
mereka diketahui bahwa yang namanya habib Hasan bin Muhammad Al Haddad
adalah cicit dari Habib Hamid Mufti Palembang yang wafat pada 19 Juli
1820. Bagaimana mungkin kalau Mbah buyutnya (bapaknya kakek) wafat tahun
1820 sementara cicitnya sudah lahir tahun 1756 ?. bagaimana bisa
terjadi cicitnya lahir lebih dahulu dari buyutnya?.
Selain itu pihak keluarga juga menyatakan bahwa Al Marhum bukanlah
seorang Ulama apalagi Waliyullah penyebar islam d Betawi. Menurut wakil
keluarga Al Haddad dari Pelmbang (wawancara tanggal 31 Mei 2010 di
Jakarta) kepergian Al Haddad dari Palembang bukanlah berdakwah,
melainkan berdagang karena ia memang seorang pedagang yang menjajakan
dagangan milik Sayyid Syekh bin Agil Madihij.
Tentang penamaan tanjung Priok sendiri yang disebut-sebut berasal dari
cerita Al Haddad dengan sejumlah dongengnya, cukup mengundang tawa pakar
sejarah asli Betawi, Ridwan saidi. Ada dua alas an sekurang-kurangnya
membuat Ridwan Saidi merasa geli mendengar cerita tersebut. Pertama,
istilah “Mbah” itu tidak dikenal di masyarakat Betawi karena itu
merupakan istilah Jawa.
Lalu bagaimana orang Betawi menisbatkan kata tersebut kepada tokoh
mereka?.Kedua, masyarakat Betawi mengetahui benar bahwa nam tanjung
Priok sudah ada jauh sebelum masa Al Haddad. Dalam karya tulisnya bahkan
Ridwan Saidi sudah mencantumkan bahwa:
“Nama Tanjung Priok dikaitkan dengan nama Aki Tirem, penghulu atau
pemimpin daerah Warakas yang tersohor sebagai pembuat Priok. Sedang kata
tanjung merujuk kepada kontur tanah yang menjorok ke laut (tanjung).
Seperti diteliti oleh Kees Green memang banyak tempat di Jakarta merujuk
namanya dari kontur tanah, misalnya Tanah Abang Bukit, Tegal Alur,
Rawasari, Bojong Gede dan lain lain..” (Lihat buku “Kasus Mbah Priok”
halaman 18-19).
Satu lagi yang baru saja terjadi. Di kawasan Cikini dikabarkan memancar
air dari dasar tanah. Melihat kejadian ini sepontan seseorang
menisbatkannya kepada “satu tokoh” yang kemudian diproklamirkan sebagai
“Mbah Cikini”.
Lalu apa sebenarnya motif dari pemalsuan ini?. Walahu A’lam. Tetapi
yang jelas, para penegak Hukum nampaknya berdiam seribu basa tak mau
membela hak hak orang yang terluka bahkan terbunuh dalam kasus tanjung
Priok berdarah tahun 2010 lalu. Mana mungkin ada sejumlah orang terluka
dan terbunuh tidak ada pelakunya. Mengapa pula penulis buku sejarah
palsu itu belum diminta pertanggung-jawaban?. Ataukah karena pemimpin
negeri ini telah menetapkan Cerita dusta itu sebagai “Situs” yang
dianggap fakta?.
Yang jelas, seharusnya kejadian ini menyadarkan kita akan perlunya
mengkaji ulang sejumlah karya tulis sejarah terutama yang terdapat
perbedaan. Karena Sejarah bukan Khilafiyah melainkan catatan sebuah
fakta.
Kasus eks pemakaman Dobo Tanjung Priok itu telah menimbulkan korban
akibat informasi yang dibuat orang-orang tidak bertanggung jawab.
Pengkeramatan bekas kuburan – karena memang sudah kosong – itu masih
saja berjalan. Adakah manusia yang memperhatikannya ?. Hasbunallah.
Oleh : KH Syarif Rahmat RA, SQ, MA
badai pasti berlalu
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ
وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ
مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ
وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا
مَتَاعُ الْغُرُورِ (الحديد:20
Artinya: “Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini
hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan
bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya
harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para
petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya
kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang
keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya dan kehidupan dunia ini
tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”
(Al Hadid: 20).
Dunia ibarat permainan belaka, mengasyikkan dan dapat membuat orang
celaka. Banyak yang terlena menikmatinya, hanya sedikit yang sadar akan
bahayanya. Sebesar apa pun biaya yang dikeluarkan dan semeriah apa pun
sebuah pertunjukan, ia akan berkesudahan. Hendaklah engkau bertanya
kepada diri; apa yang engkau hendak bawa pulang dari “pagelaran” itu?
Ataukah hanya penyesalan karena hanya dana yang engkau habiskan?
Berbahagialah orang yang “berdagang” di arena hiburan karena Saat
permainan itu berakhir ia akan memperoleh keuntungan. Sayang sekali
kebanyakan manusia memandang rendah pekerjaan ini dan menganggap rugi
karena tak menikmati sajian yang ditampilkan para pemain di panggung
itu. Nah, siapakah engkau di antara manusia yang keluar dari rumahnya
itu? Tak ada yang melarangmu menonton dan menikmati pertunjukan itu
karena memang panggung itu dibangun sebagai tontonan. Tetapi engkau
harus ingat, itu bukan acaramu, itu bukan programmu. Engkau adalah hamba
sahaya yang setiap saat dapat saja “dipanggil” majikanmu. Engkau tidak
tahu kapan Dia meminta laporan hasil pekerjaanmu. Apakah yang engkau
hujjahkan kepada Dia manakala engkau tak dapatmerampungkan tugasmu?
Bagaimana pula jika engkau dianggap hamba sahaya yang melarikan diri
dari Tuannya? Wahai diri yang lalai, sebagai hamba hendaklah engkau
ingat:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ
وَمَنْ رَزَقْنَاهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ سِرًّا
وَجَهْرًا هَلْ يَسْتَوُونَ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا
يَعْلَمُونَ (النحل:75)
Artinya: “Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang
dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang
Kami beri rezki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari
rezki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, Adakah mereka itu
sama? segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada
mengetahui” (An Nahl:75).
Perhatikan kalimat ”hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat
bertindak terhadap sesuatupun..” dalam ayat ini. Itu ditujukan kepadamu.
Kalimat ini mengisyaratkan kedudukanmu sebagai hamba sahaya. Hamba
sahaya tak memiliki dirinya sendiri,tak berbuat sesuka dirinya sendiri,
tak berbuat sesuai seleranya sendiri. Yang dilakukannya adalah yang
diperintahkan tuannya dan yang diperbuatnya hanyalah yang dikehendaki
tuannya. Kini periksalah kembali kelakuanmu itu; adakah telah sesuai
dengan yang dikehendaki-Nya? Jika tidak, di manakah engkau dari
ucapanmu: “Hanya kepada Engkau kami menghambakan diri”?. Jika engkau
menoleh kiri dan kanan, di manakah ucapanmu: “Kuhadapkan wajahku kepada
Dia yang menciptakan langit dan bumi” yang tidak kurang dari lima kali
dalam sehari engkau katakan?.
Dunia adalah perhiasan yang sedap dipandang mata, namun acap kali
membuat buta. Benda-benda itu memang mahal harganya, namun tak patut
mengorbankan semua isi rumahmu untuk mendapatkannya. Berlomba orang
untuk meraih dan mengenakannya, padahal hanya badan muda yangdapat
mendampingi keindahannya , sebab kala tua, betapa pun mahalnya perhiasan
itu, tak memberi arti apa-apa. Lalu bagaiamana ketika engkau telah
berada pula di alam baka? Tahukah engkau bahwa seindah indah pakaian
kala itu adalah Taqwa?.
يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي
سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ
آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (الاعراف:26
Artinya: “Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan
kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk
perhiasan. Dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. Yang demikian itu
adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan
mereka selalu ingat” (Al A’raf:26).
Tak ada yang melarangmu menggunakan keindahan dunia. Tetapi dua hal
seharusnya engkau ingat kala menginginkannya. Pertama, dapatkah engkau
mensyukurinya. Dan yang kedua, adakah engkau tak akan lalai bila
mengenakannya?. Jadi persiapkanlah keduanya sebelum engkau memperoleh
dan memakainya.
Ya, dunia itu tak ubahnya pepohonan di pekarangan rumahmu. Dari benih
yang tersembunyi lalu nampak dan tumbuh membesar, berbunga dan berbuah.
Lambat laun daun-daunnya menguning yang disusul dengan kematian.
Begitulah dengan dirimu wahai diri yang lalai. Ingatkah engkau ketika
ditimang dan diayun, dituntun dan dibimbing untuk berjalan?. Kini engkau
telah menjadi dewasa dan berharga di hadapan sesama. Tetapi waspadalah,
ketika telah mencapai puncaknya, sesungguhnya perjalanan menurun ada di
depan mata.
Sebagaimana harta benda yang engkau miliki akan hancur, begitu pun
dirimu tak berbeda darinya. Lalu apa alasanmu mencintainya?.
Sesungguhnya perumpamaan ini dibuat agar manusia lebih berusaha
membekali diri dengan hal hal yang bermanfaat di akhiratnya karena
kehidupan dunia ini hanyalah sementara. Juga agar mereka mampu
mengendalikan dirinya dalam segala keadaan yang melingkupinya. Bila
mendapat kesenangan tidak menjadi lalai dan bila mendapat kesusahan
tidak berputus asa.
Sedih dan gembira, suka dan duka, tak ada yang selamanya. Sebaliknya,
mereka yang diberi kemuliaan dapat berbagi dengan yang tak punya dan
mereka yang dirundung kesedihan dapat menahan diri dari berbuat nista.
Itulah sebabnya pada ayat-ayat berikut Allah berfirman:
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ
وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو
الْفَضْلِ الْعَظِيمِ . مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا
فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ
ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ. لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ
وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ
فَخُورٍ (الحديد:21- 23
Artinya: “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari
Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan
bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah
karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan
Allah mempunyai karunia yang besar. Tiada suatu bencanapun yang menimpa
di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis
dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya
yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian
itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu,
dan supaya kamu jangan terlalu gembira (lupa daratan) terhadap apa yang
diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang
sombong lagi membanggakan diri” (Al Hadid: 21-23).
Seorang Ulama Sufi terkenal, Syekh Zainuddin Al Ma’bari Al Malibari,
dalam kitabnya Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya, mengingatkan kita
dari cinta dunia ini:
وَمُحٍبُّ دُنْيًا قَائِلٌ اَيْنَ الطَّرِيْقُ * اَيْنَ الْخَلَاصُ كَمُسْكِرٍ شَرِبَ الطِّلَا
“Si pencinta dunia selalu bertanya tanya, “
Di manakah jalan dan di manakah keselamatan?.
tak ubahnya seperti orang mabuk yang mereguk minuman keras”.
Dunia bagai minuman keras yang telah membuat mabuk para peminumnya. Para
pemabuk itu tertawa-tawa, sedang orang yang sadar melihatnya sebagai
orang gila. Banyak orang salah terka hingga berakhir dengan derita. Hasbunallah.
KH Syarif Rahmat RA, SQ, MA
berdusta atas nama ulama
Berdusta adalah ciri khas orang munafik sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ «
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ
أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ » (رواه البخاري ومسلم
Artinya: “Ciri orang munafik itu 3; bila berbicara berdusta, bila
berjanji mengingkari dan bila dipercaya berkhianat” (HR Al Bukhari dan
Muslim).
Dusta yang paling besar dosanya adalah berdusta atas nama Allah
sebagaimana dilakukan oleh Ahlul Kitab yang memalsukan Kitab Suci dan
membuat karya tulis lalu menisbatkannya kepada Allah padahal Allah tak
mengatakannya.
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ
يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا
فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا
يَكْسِبُونَ (البقرة:79
Artinya: “Maka celaka-besarlah orang-orang yang menulis Al-kitab dengan
tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan
maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.
Maka celaka-besarlah mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka
sendiri, dan celaka-besarlah mereka, akibat apa yang mereka kerjakan”
(Al Baqarah:79).
Berikutnya adalah dusta atas nama Rasulullah SAW sebagaimana disabdakannya:
عَنِ الْمُغِيرَةِ - رضى الله عنه - قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ - صلى الله
عليه وسلم - يَقُولُ « إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ
، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ
النَّارِ » . (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Sesungguhnya berdusta atas namaku itu tidak sama seperti
berdusta atas nama seseorang di antara kalian. Siapa yang berdusta atas
namaku, hendaklah menyiapkan tempat duduknya di dalam neraka” (HR Al
Bukhari dan Muslim).
Setelah itu tentu saja berdusta atas nama para Ulama yang merupakan
Waratsatul Anbiya. Oleh karena itu janganlah kita berbuat dusta atas
nama Ulama atau menisbatkan sesuatu yang Ulama itu tidak melakukannya.
Akan tetapi di dunia ilmu dikenal sekelompok orang yang seringkali
berdusta atas nama Ulama – bahkan Rasulullah SAW – demi kepentingan
fahamnya.
Sebagai misal adalah pernyataan salah seorang di antara mereka:
حديث « الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا » لَا أَدْرِيْ
عَنْ صِحَّتهِ ، وَالَّذِيْ أَظُنُّ أَنَّهُ ضَعِيْفٌ ، وَلَكِنْ عَلَى
تَقْدِيْرِ صِحَّتِهِ فَلَيْسَ هَذَا مِنْ بَابِ السَّبِّ ، إِنَّمَا هُوَ
مِنْ بَابِ الْخَبْرِ وَأَنَّهُ لَا خَيْرَ فِيْهَا إِلَّا عَالِمٌ
وَمُتَعَلِّمٌ ، أَوْ ذِكْرُ اللهِ …
Artinya: Hadis “Dunia itu terlaknat dan terlaknatlah yang ada di
dalamnya”, saya tidak mengetahui keshahihannya. Saya mengira bahwa Hadis
ini adalah Hadis Dha’if. Tetapi kalaupun ia Shahih bukanlah berarti
mencela, melainkan informasi dan bahwasanya tidak ada kebaikan dalam
dunia kecuali orang alim, orang yang belajar atau Dzikrullah… ” (Lihat
fatawa Syekh Utsaimin Juz 1 halaman 198. Lihat pula buku Syubhat Wa
Isykalat haula Ba’dhil Ahadits Wal Ayat yang diterjemahkan ke dalam
Bahasa Indonesia dengan judul Memahami Ayat-Ayat dan Hadis-Hadis
Kontradiksi halaman 113).
Jadi menurut “dugaan” Syekh pemberi fatwa ini, Hadis tersebut adalah
“Dha’if”. Itu berarti bahwa ia menolak penisbatan Hadis tersebut kepada
Rasulullah SAW. Padahal para Ulama telah menetapkan bahwa Hadis tersebut
adalah Shahih. Di antara yang menetapkannya Shahih adalah Al Hafizh Al
Imam As Suyuthi sebagaimana disebutkan dalam kitabnya Al Jami’ ash
Shaghir. Demikian pula Syekh Muhammad Nashiruddin Al Albani
menetapkannya sebagai hadis Hasan sebagaimana dalam Shahih Al Jami’ Ash
Shaghir Juz 1 halaman 642 pada pembahasan Hadis nomor 3414). Penetapan
“Dha’if” terhadap Hadis Shahih secara tidak langsung telah mendustakan
Rasulullah SAW atau berdusta atas nama Rasulullah SAW. Lain halnya bila
ia meneliti dan mentakhrij terlebih dahulu atau mengikuti Ulama
terdahulu. Tetapi di sini ia mengakui “tidak tahu”. Lantas mengapa ia
berani mengatakan “Saya mengira bahwa Hadis ini adalah Hadis Dha’if” ?.
Alangkah baiknya jika ia menahan diri atau berhenti pada kalimat “Saya
tidak tahu”, niscaya selamatlah ia.
Ada pula seorang tokoh yang menetapkan wajibnya kaum wanita menutup
wajahnya. Di antara argument yang dikemukakan adalah – katanya – sesuai
kesepakatan Ulama Salaf dan Khalaf. Perhatikan ucapannya:
وَقَدْ أَجْمَعَ عُلَمَاءُ السَّلَفِ عَلَى وُجُوْبِ سَتْرُ الْمَرْأَةِ
الْمُسْلِمَةِ لِوَجْهِهَا وَأَنّهُ عَوْرَةٌ يَجِبُ عَلَيْهَا سَتْرُهُ
إِلَّا مِنْ ذِيْ مَحْرَمٍ . (حراسة الحجاب ص 40)
Artinya: Para Ulama Salaf dan Khalaf telah sepakat atas wajibnya wanita
Muslimah menutup wajahnya dan bahwa wajah itu adalah aurat yang wajib
ditutupinya kecuali di hadapan mahramnya (Lihat Harasatul Hijab halaman
40 atau fatawa Syekh Bin Baz Juz 5 halaman 228).
Pernyataan ini adalah dusta atas nama Ulama. Kedustaannya itu
diungkapkan Syekh Muhammad Nashiruddin Al Albani sebagaimana disebutkan
dalam kitabnya Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah ketika menanggapi pernyataan
Syekh Tuwaijiri yang mengatakan seperti ucapan Bin Baz:
ادَّعَى الشَّيْخُ التُّوَيْجِرِيُّ الْاِجْمَاعَ عَلَى اَنّ وَجْهَ
الْمَرْأَةِ عَوْرَةٌ وَقَلَّدَهُ فِيْ ذَلِكَ كَثِيْرٌ مِمَّنْ لَا عِلْمَ
عِنْدَهُ وَفِيْهِمْ الدَّكَاتِرَةُ وَهِيَ دَعْوَى بَاطِلَةٌ لَمْ
يَسْبِقْهُ اَحَدٌ اِلَيْهَا, وَكُتُبُ الْحَنَابشلَةِ الَّتِيْ تَفَقَّهَ
عَلَيْهَا – فَضْلًا عَنْ غَيْرِهَا – كَافِيَةٌ لِلدَّلَالَةِ عَلَى
بُطْلَانِهَا. وَقَدْ ذَكَرءتُ هُنَاكَ فِي "الرَّدِّ" كَثِيْرًا مِنْ
عِبَارَاتِهِمْ مِثْلَ عِبَارَةِ هُبَيْرَةَ الْحَنْبَلِِِّي فِيْ
كِتَابِهِ الْاِفْصَاحِ وَفِيْهَا: اِنَّ مَذْهَبَ الْاَئِمَّةِ
الثَّلَاثَةِ اَنَّهُ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ: قَالَ: وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنِ
الْاِمَامِ اَحمَدَ. (جلباب المرأة المسلمة ص 7)
Artinya: Syekh At-Tuwaijiri mengklaim adanya Ijma’ (Kesepakatan Ulama)
yang mengatakan bahwa wajah wanita itu aurat dan banyak orang-orang tak
berilmu yang taklid kepadanya bahkan di antaranya beberapa orang Doktor.
Klaim tersebut adalah batil, tidak ada seorang pun yang mendahuluinya.
Kitab-kitab Madzhab Hanbali yang ia bertafaqquh padanya – terlebih yang
lainnya - cukup menjadi dalil akan kebatilannya itu. Aku telah
mengemukakan banyak pernyataan para Ulama dalam kitab “Ar Radd Al
Mufhim”. Misalnya pernyataan Hubairah Al-Hanbali dalam kitabnya “Al
Ifshash”. Dalam pernyataannya itu disebutkan bahwa menurut tiga Imam
Madzhab (Abu hanifah, Malik dan Syafi’I, pen) wajah itu bukan aurat. Ia
berkata: “Dan itu merupakan satu riwayat dari Imam Ahmad” (Jilbab Al
Mar’ah Al Muslimah karya Al Albani halaman 7).
Albani benar, pernyataan bahwa menutup wajah wanita merupakan Ijma’
ulama adalah dusta. Yang benar adalah justru sebaliknya; mayoritas Ulama
menetapkan wajah wanita bukan aurat. Bagi yang hendak mengetahui hal
ini silahkan merujuk kitab-kitab Fiqh.
Dusta bukan hanya melanda para penulis Timur-Tengah melainkan juga
penulis lokal Indonesia. Sebagai misal dapat kita kemukakan sebuah buku
dengan judul “Koreksi Dzikir Jama’ah M. Arifin Ilham”.
Dalam buku tersebut – untuk menyalahkan Ustadz Arifin Ilham – sang penulis menyebutkan antara lain:
“Sekedar untuk menggambarkan bahwa saya sungguh-sungguh dalam melakukan
penelitian, saya tidak mendapatkan keterangan Al Imam Al Qurtuby seperti
yang dinukil dalam HZB (Hikmah Zikir Berjama’ah karya M. Arifin Ilham
dan Debby Nasution, pen) sesudah nukilan ayat ini. Pada jilid dan
halaman berapa?. Karena memang dalam HZB tidak disebutkan nomornya.
Untuk lebih jelasnya, rujukan saya adalah Tafsir Al Qurtuby yang
berjudul Al jami’ Li Ahkam Al Qur’an, Darusy Syi’by Cairo, cet. 2, 1372
H, dalam CD Maktabatut-Tafsir Wa ‘Ulumul Qur’an. Bahkan kelimat seperti
itu juga tidak saya dapatkan dalam kitab-kitab tafsir lainnya” (Lihat
“Koreksi Dzikir Jama’ah M. Arifin Ilham” tulisan Abu Amsaka dengan
Murja’ah Yazid bin Abdul Qadir Jawas dan Abdul Hakim bin Amir Abdat
halaman 75).
Perlu kami kemukakan di sini bahwa tulisan Arifin Ilham yang disalahkan itu adalah:
“Al Imam Al Qurtubi menjelaskan ayat ini dalam tafsirnya, beliau berkata:
وَجَعَلَ تَعَالَى ذَلِكَ دُوْنَ حَدٍّ لِسُهُوْلَتِهِ عَلَى الْعَبْدِ.
وَلِعَظْمِ الْاَجْرِ فِيْهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: لَمْ يُعْذَرْ أَحَدٌ
فِيْ تَرْكِ ذِكْرِ اللهِ إِلَّا مَنْ غُلِبَ عَقْلُهُ.
Artinya: “Allah menjadikan (memerintahkan) berdzikir itu tanpa batas
karena sangat mudahnya – untuk dilakukan – setiap orang, dan juga karena
besarnya ganjaran yang terdapat di dalamnya. Ibnu Abbas mengatakan,
bahwa tidak diberi alasan bagi seorang pun untuk meninggalkan berdzikir
pada Allah kecuali orang yang kehilangan akal” (Lihat Hikmah Zikir
Berjama’ah karya M. Arifin Ilham dan Debby Nasution halaman 4).
Setelah kami melakukan pengecekan ternyata M. Arifin Ilham dan Debby
Nasution benar; apa yang mereka kutip itu terdapat dalam Tafsir Al
Qurtubi Juz 14 halaman 197 pada terbitan Dar El Fikr tahun 1407 H / 1987
M). Sebaliknya Sang penulis Buku “Koreksi Dzikir Jama’ah M. Arifin
Ilham” itu telah berdusta atas nama Al Imam Al Qurtubi.
Dari sini hendaklah kita berhati-hati dengan buku bacaan baru, baik yang
terjemahan dari buku-buku Timur Tengah maupun buku-buku lokal. Bacalah
Al Qur’an, Hadis dan karya karya Ulama terdahulu. Hasbunallah.
KH Syarif Rahmat RA, SQ, MA
Langganan:
Postingan (Atom)