http://malaysfreecommunities.webs.com/allah%20muhammad.JPG

Rabu, 02 Januari 2013

Istawa bukan bersemayam menurut Imam abu Hanifah


Kesalah-pahaman Salafi Wahabi dalam memahami nash-nash mutasyabihat , membuat mereka kesusahan memahami pernyataan-pernyataan para ulama salaf , dan akhirnya mereka salah memahami hakikat Manhaj Salaf , sengaja atau tidak, mereka telah menisbahkan pemikiran mereka kepada Manhaj Salaf , sementara Manhaj mereka sangat berbeda jauh dari Manhaj Salaf nya ulama Salaf , sebagai bukti mari lihat bagaimana pemahaman Salafi Wahabi tentang “Istawa” mereka beriman bahwa “Allah bersemayam di atas ‘Arasy” karena memahaminya dari kata “Istawa” dan mereka tidak peduli telah menyamakan Tuhan dengan makhluk-Nya, karena menurut mereka persamaan seperti itu bukan masalah selamatidak sama kaifiyat nya, dan menurut mereka begitulah para ulama Salaf beriman, padahal tidak ada satupun ulama Salaf yang berkata “Istawa”yakni “bersemayam” . Manhaj ulama Salaf terlepas dari anggapan Salafi Wahabi, sebagai bukti mari kita lihat bagaimana pemahaman Imam Abu Hanifah tentang “Istawa” .
Berkata Imam Abu Hanifah –rahimahullah-:
نُقِرُّ بأنَّ اللهَ تعالى على العرشِ استوى من غيرِ أن يكونَ له حاجةٌ إليه واستقرار عليه وهو الحافظُ للعرش وغيرِ العرش منْ غيرِ احتياج، فلو كان محتاجا لما قَدَرَ على إيجادِ العالم وتدبيرِه كالمخلوق ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلقِ العرشِ أين كان الله تعالى الله عن ذلك علوًا كبير
“Kita akui bahwa Allah “ber-Istiwa’ “ atas Arasy tanpa berhajat Allah kepada ‘Arasy, dan tanpa berada di atas ‘Arasy, dan Dia lah yang menjaga Arasy dan lainnya dengan tanpa berhajat, seandainya Allah berhajat, sungguh Ia tidak kuasa menjadikan alam dan mengaturnya seperti makhluk, dan seandainya Allah berhajat kepada duduk dan menetap (berada di satu tempat), maka di mana Allah sebelum menciptakan ‘Arasy,maha suci Allah dari demikian" .[al-Jauharah al-Munifahfi Syarhi Washiyah – halaman 10].
Perhatikan scan kitab di bawah ini
نُقِرُّ بأنَّ اللهَ تعالى على العرشِ استوى
“Kita akui bahwa Allah “ber-Istiwa’ “ atas Arasy”
Maksudnya : Tidak ada keraguan bahwa Allah Istiwa’ atas ‘Arasy , tapi jangan terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa itulah dalil Allah bersemayam di atas ‘Arasy , karena justru Imam Abu Hanifah baru akan menjelaskan pemahaman kata “Istawa” setelah itu, Imam Abu Hanifah hanya memakai kata"Istawa" sebagaimanayang tersebut dalam Al-Quran, inilah yang biasa disebut “memberlakukan sebagaimana datangnya” tidak memakai kata lain untuk makna dari kata “Istawa” .
Lalu Imam Abu Hanifahmenjelaskan maksud “Istawa”
من غيرِ أن يكونَ له حاجةٌ إليه واستقرار عليه
“tanpa berhajat Allah kepada ‘Arasy, dan tanpa berada di atas ‘Arasy”
Maksudnya : Istawa Allah yang tersebut dalam Al-Quran bukan dalam artian Allah berhajat kepada ‘Arasy , dan bukan dalam artian Allah berada /bersemayam di atas ‘Arasy , Imam Abu Hanifah di sini tidak memaknai “Istawa” dengan makna lughat, karena dari makna lughat akandi pahami bahwa Allah berhajat dan berada di atas ‘Arasy , tapi Imam Abu Hanifah jelas berkata bukan demikian, memaknai “Istawa” dengan makna bahasa berarti telah menuduh Allah berhajat kepada ‘Arasy, karena tanpa ‘Arasy, Allah tidak bisabersifat dengan “Bersemayam” , dan juga memaknai “Istawa” dengan “bersemayam” berarti telah menetapkan Allah di suatu tempat atau di arah tertentu, sementara Imam Abu Hanifah telah berkata bukan demikian.
وهو الحافظُ للعرش وغيرِ العرش منْ غيرِ احتياج
“dan Dia lah yang menjaga Arasy dan lainnya dengan tanpa berhajat”
Maksudnya : Allah yangmenjaga ‘Arasy, bukan‘Arasy yang menjaga Allah, Allah tidak butuh‘Arasy, Allah telah bersifat dengan sifat maha tinggi dan maha sempurna sebelum adanya ‘Arasy, adanya‘Arasy tidak berpengaruh apapun terhadap dzat Allah dan sifat-Nya, ‘Arasy tidak dapat merubah Allah dan sifat-Nya darikeazalian-Nya.
كان محتاجا لما قَدَرَ على إيجادِ العالم وتدبيرِه كالمخلوق
“seandainya Allah berhajat, sungguh Ia tidak kuasa menjadikan alam dan mengaturnya seperti makhluk”
Maksudnya : Seandainya Allah berhajat kepada sesuatu, maka tentunya Allah tidak bisa menciptakan dan mengatur alam yakni semua makhluk-Nya, sebagaimana makhluk berhajat kepada pencipta, maka makhluk tidak dapat menciptakan apa pun, begitu juga dengan ‘Arasy, seandainya Allah berhajat kepada ‘Arasy, tentu Allah tidak bisa menciptakan‘Arasy, seandainya ‘Arasy menjaga Allah tentu Allah tidak menjaganya, padahal Allah lah yang menciptakan dan menjaga ‘Arasy.
ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلقِ العرشِ أين كان الله
“dan seandainya Allah berhajat kepada duduk dan menetap (berada di satu tempat), maka di mana Allah sebelum menciptakan ‘Arasy”

Maksudnya : Seandainya Allah berhajat kepada sifat duduk atau menetap atau berada /bersemayam di satu tempat atau arah, maka di mana tempat atau arah tersebut sebulum ada tempat dan arah ? begitu juga dengan ‘Arasy, seandainya Allah berhajat kepada sifat bersemayam di atas ‘Arasy, maka di mana Allah bersemayam sebelum diciptakan ‘Arasy , maka dapat dipastikan bahwa Allahtidak bersemayam atau berada di suatu tempat atau arah sekalipun di atas ‘Arasy, Allah sebelum ada ‘Arasy tidak bersifat dengan sifat tersebut, beginilah cara ulama Salaf menafikanarah dan tempat pada Allah .
تعالى الله عن ذلك علوًا كبير
“maha suci Allah dari demikian”
Maksudnya : Allah tidakbersifat dengan sifat demikian yakni berhajat kepada sesuatu atau berada atau bersemayam di satu tempat atau arah , dan kepada sesuatu pun yang selain keazalian-Nya, karena Allah telah bersifat dengan segala sifat kesempurnaan-Nya pada Azali, tidak ada pertambahan atau perubahan setelah nya.
Allah ada tanpa arahdan tanpa tempat
Wallahua’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar