http://malaysfreecommunities.webs.com/allah%20muhammad.JPG

Sabtu, 06 Oktober 2012

shalat berjama'ah dan wirid bersama

Cara seperti itu (menempelkan kaki makmum dengan Imam jika makmum hanya satu orang) sering dilakukan oleh muslimin anti maulid dan tahlil, entah darimana mereka mengambil dalilnya, karena bila shalat hanya berdua saja, maka makmum berada di kanan Imam, ia tidak sejajar dengan Imam dan tidak pula di shaf kedua dari Imam, namun ditengah tengah, demikian yang masyru’, dan bila makmum sampai mendepani imam maka tidak sah jamaahnya, karena salah satu dari syarat sah nya shalat jamaah adalah makmum tidak mendepani Imam. Nah.., bila makmum ini posisinya seperti yang anda katakan, maka sudah bisa dipastikan ia mendepani imam, karena saat makmum dalam posisi sujud, dan Imam berdiri, maka sebelum makmun berdiri pastilah pinggang makmum dalam posisi lebih depan dari imam, maka tidak sah jamaahnya.

Demikian pula sebagaimana disunnahkan untuk mundurnya makmum itu bila ada makmum lain yang datang, atau Imam yang maju, demikian diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Maka bila imam berdempet dengan makmum seperti kasus yang anda tanyakan itu, maka bila datang makmum lain tentunya akan butuh banyak gerakan untuk menjadikan shaf pemisah antara makmum dan Imam, dan itu akan membatalkan shalat karena akan butuh melangkah hingga tiga langkah berturut – turut.
Maka selayaknya kita shalat bermakmum dengan posisi tidak sejajar dengan Imam dan tidak pula dibelakang Imam, tapi ditengah tengah shaf dikanan Imam. (Busyralkarim Bab Sifatusshalat hal 276)
Dzikir berjamaah sejak zaman Rasul shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam, sahabat, tabi’in dan selanjutnya, tak pernah dipermasalahkan, bahkan merupakan sunnah Rasul shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam, dan pula secara akal sehat, semua orang mukmin akan asyik berdzikir, dan hanya syaitan yang benci dan akan hangus terbakar dan tak tahan mendengar suara dzikir. Kita bisa bandingkan mereka ini dari kelompok mukmin, atau kelompok syaitan yang sesat.., dengan cara mereka yang memprotes dzikir jamaah, telinga mereka panas, dan ingin segera kabur bila mendengar jamaah berdzikir.
Firman Allah swt : “Sabarkanlah dirimu bersama kelompok orang – orang yang berdoa pada Tuhan mereka siang dan malam semata – mata menginginkan keridhoan-Nya dan janganlah kau jauhkan pandanganmu (dari mereka) untuk menginginkan keduniawian (meninggalkan mereka memilih kumpulan lainnya”. QS. Al Kahfi : 28
Ayat ini turun ketika Salman Alfarisi ra berdzikir bersama para sahabat, maka Allah memerintahkan Rasul shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam dan seluruh ummatnya duduk untuk menghormati orang – orang yang berdzikir. (rujuk Majmu’ zawaid juz 7 hal 21)
Mereka mengatakan bahwa ini tidak teriwayatkan bentuk dan tata cara dzikirnya, Masya Allah.. Dzikir ya sudah jelas dzikir.., menyebut Nama Allah, mengingat Allah swt, adakah lagi ingin dicari pemahaman lain?
Sahabat Rasul radhiyallahu’anhum mengadakan shalat tarawih berjamaah, dan Rasul shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam justru malah menghindarinya, mestinya merekapun shalat tarawih sendiri sendiri, kalau toh Rasul shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam melakukannya lalu menghindarinya, lalu masa Khalifah Abubakar shiddiq ra tak juga dilakukan berjhamaah, lalu mengapa Khalifah Umar ra yang terang – benderang dengan keluhuran ini justru mengadakannya dengan berjamaah?
Sebab mereka merasakan ada kelebihan dalam berjamaah, yaitu syiar, Syiar..? Mereka masih butuh syiar dibesarkan…?? Apalagi kita dimasa ini??
Kita di Majelis Majelis menjaharkan lafadz doa dan munajat untuk menyaingi panggung panggung maksiat yg setiap malam menggelegar dengan dahsyatnya menghancurkan telinga, berpuluh ribu pemuda dan remaja MEMUJA manusia – manusia pendosa dan mengelu – elukan nama mereka.. menangis, menjilati sepatu dan air seni mereka.., suara suara itu menggema pula di televisi dirumah – rumah muslimin, dimobil – mobil dan hampir disemua tempat.
Salahkah bila ada sekelompok muslimin mengelu – elukan Nama Allah Yang Maha Tunggal?, menggemakan Nama Allah?, apakah Nama Allah sudah tak boleh dikumandangkan lagi dimuka bumi?
Seribu dalil mereka cari agar Nama Allah tak lagi dikumandangkan.., cukup berbisik bisik..!, sama dengan komunis yang melarang meneriakkan Nama Allah, dan melarang kumpulan dzikir.. Adakah kita masih bisa menganggap kelompok wahabi ini adalah madzhab..?
Kita Ahlussunnah waljamaah berdoa, berdzikir, dengan sirran wa jahran, di dalam hati, dalam kesendirian, dan bersama sama.
Sebagaimana Hadist Qudsiy Allah swt berfirman : “Bila ia (hambaku) menyebut Nama-Ku dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriku, bila mereka menyebut (membanggakan) nama mereka dalam kelompok yang lebih besar dan lebih mulia”. (Shahihain Bukhari dan Muslim)
Tarekat manapun yang bertentangan dengan syariah maka tetap sesat. Mengenai ucapan bahwa : mereka yang tidak mempunyai syeikh maka syeikh nya adalah syaitan, ucapan itu benar, hanya mereka saja yang gerah dengan ucapan itu, karena makna syeikh disini adalah guru, maka makna ucapan itu adalah : barangsiapa yang tak punya guru maka gurunya adalah syaitan.
Ucapan itu benar, karena pastilah semua muslim itu mengenal islam dari guru, bila ia seorang non muslim dan membaca buku dan ingin masuk islam tentunya mestilah ia bersyahadat didepan orang muslim, maka muslim itu menjadi gurunya, demikian pula setiap muslim yang belajar dari buku, bila ia tak faham mestilah ia mencari orang lain untuk bertanya, dan tentunya secara hukum orang yang ditanya itu telah menjadi gurunya.
Apa pendapat anda dengan orang yang tak mau bertanya?, cukup hanya membaca dan bila ia tak faham ia menafsirkan sendiri, hatinya sombong dan gengsi untuk bertanya pada orang lain, maka siapa yang menuntunnya pada kesombongan?, syaitan tentunya.
Bahkan Rasul shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam pun mempunyai guru, yaitu Jibril as yang mengajarkan Alqur’an pada beliau shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam, walaupun Allah memberikan juga ilham kefahaman yang tidak melalui Jibril as, namun tetap seluruh ayat Alqur’an tidak langsung didengar oleh Rasul shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam dari Allah, melainkan melalui perantara pengajar, yaitu Jibril as, sebagaimana juga diriwayatkan bahwa Jibril as mendatangi Rasul shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam setiap bulan ramadhan untuk mengulang – ulangi bacaan Alqur’an dengan Rasul shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam, mengajarkan Rasul shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam cara cara shalat dll (HR Shahihain Bukhari Muslim).
Lalu bagaimana dengan mereka yang tak mau mempunyai guru?, tentulah syaitan gurunya, oleh sebab itu saya membantah ucapan mereka yg mengatakan pernyataan itu salah, terkecuali bila ada terdapat pengingkaran syariah yang jelas pada tarekat Naqsyabandi, namun setahu saya Tarekat Naqsyabandi itu sejalan dengan syariah, bila ada pengingkaran maka itu barangkali dari sebagian oknumnya saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar