http://malaysfreecommunities.webs.com/allah%20muhammad.JPG

Senin, 31 Desember 2012

badai pasti berlalu

 
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (الحديد:20
Artinya: “Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”  (Al Hadid: 20).
Dunia ibarat permainan belaka, mengasyikkan dan dapat membuat orang celaka. Banyak yang terlena menikmatinya, hanya sedikit yang sadar akan bahayanya. Sebesar apa pun biaya yang dikeluarkan dan semeriah apa pun sebuah pertunjukan, ia akan berkesudahan. Hendaklah engkau bertanya kepada diri; apa yang engkau hendak bawa pulang dari “pagelaran” itu? Ataukah hanya penyesalan karena hanya dana yang engkau habiskan? Berbahagialah orang yang “berdagang” di arena hiburan karena Saat permainan itu berakhir ia akan memperoleh keuntungan. Sayang sekali kebanyakan manusia memandang rendah pekerjaan ini dan menganggap rugi karena tak menikmati sajian yang ditampilkan para pemain di panggung itu. Nah, siapakah engkau di antara manusia yang keluar dari rumahnya itu? Tak ada yang melarangmu menonton dan menikmati pertunjukan itu karena memang panggung itu dibangun sebagai tontonan. Tetapi engkau harus ingat, itu bukan acaramu, itu bukan programmu. Engkau adalah hamba sahaya yang setiap saat dapat saja “dipanggil” majikanmu. Engkau tidak tahu kapan Dia meminta laporan hasil pekerjaanmu. Apakah yang engkau hujjahkan kepada Dia manakala engkau tak dapatmerampungkan tugasmu? Bagaimana pula jika engkau dianggap hamba sahaya yang melarikan diri dari Tuannya? Wahai diri yang lalai, sebagai hamba hendaklah engkau ingat:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ وَمَنْ رَزَقْنَاهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا هَلْ يَسْتَوُونَ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (النحل:75)
Artinya: “Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, Adakah mereka itu sama? segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui” (An Nahl:75).
Perhatikan kalimat ”hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun..” dalam ayat ini. Itu ditujukan kepadamu. Kalimat ini mengisyaratkan kedudukanmu sebagai hamba sahaya. Hamba sahaya tak memiliki dirinya sendiri,tak berbuat sesuka dirinya sendiri, tak berbuat sesuai seleranya sendiri. Yang dilakukannya adalah yang diperintahkan tuannya dan yang diperbuatnya hanyalah yang dikehendaki tuannya. Kini periksalah kembali kelakuanmu itu; adakah telah sesuai dengan yang dikehendaki-Nya? Jika tidak, di manakah engkau dari ucapanmu: “Hanya kepada Engkau kami menghambakan diri”?. Jika engkau menoleh kiri dan kanan, di manakah ucapanmu: “Kuhadapkan wajahku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi” yang tidak kurang dari lima kali dalam sehari engkau katakan?. Dunia adalah perhiasan yang sedap dipandang mata, namun acap kali membuat buta. Benda-benda itu memang mahal harganya, namun tak patut mengorbankan semua isi rumahmu untuk mendapatkannya. Berlomba orang untuk meraih dan mengenakannya, padahal hanya badan muda yangdapat mendampingi keindahannya , sebab kala tua, betapa pun mahalnya perhiasan itu, tak memberi arti apa-apa. Lalu bagaiamana ketika engkau telah berada pula di alam baka? Tahukah engkau bahwa seindah indah pakaian kala itu adalah Taqwa?.
يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (الاعراف:26
Artinya: “Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (Al A’raf:26).
Tak ada yang melarangmu menggunakan keindahan dunia. Tetapi dua hal seharusnya engkau ingat kala menginginkannya. Pertama, dapatkah engkau mensyukurinya. Dan yang kedua, adakah engkau tak akan lalai bila mengenakannya?. Jadi persiapkanlah keduanya sebelum engkau memperoleh dan memakainya.
Ya, dunia itu tak ubahnya pepohonan di pekarangan rumahmu. Dari benih yang tersembunyi lalu nampak dan tumbuh membesar, berbunga dan berbuah. Lambat laun daun-daunnya menguning yang disusul dengan kematian. Begitulah dengan dirimu wahai diri yang lalai. Ingatkah engkau ketika ditimang dan diayun, dituntun dan dibimbing untuk berjalan?. Kini engkau telah menjadi dewasa dan berharga di hadapan sesama. Tetapi waspadalah, ketika telah mencapai puncaknya, sesungguhnya perjalanan menurun ada di depan mata. Sebagaimana harta benda yang engkau miliki akan hancur, begitu pun dirimu tak berbeda darinya. Lalu apa alasanmu mencintainya?.
Sesungguhnya perumpamaan ini dibuat agar manusia lebih berusaha membekali diri dengan hal hal yang bermanfaat di akhiratnya karena kehidupan dunia ini hanyalah sementara. Juga agar mereka mampu mengendalikan dirinya dalam segala keadaan yang melingkupinya. Bila mendapat kesenangan tidak menjadi lalai dan bila mendapat kesusahan tidak berputus asa.
Sedih dan gembira, suka dan duka, tak ada yang selamanya. Sebaliknya, mereka yang diberi kemuliaan dapat berbagi dengan yang tak punya dan mereka yang dirundung kesedihan dapat menahan diri dari berbuat nista. Itulah sebabnya pada ayat-ayat berikut Allah berfirman:
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ . مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ. لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (الحديد:21- 23
Artinya: “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira (lupa daratan) terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Al Hadid: 21-23).
Seorang Ulama Sufi terkenal, Syekh Zainuddin Al Ma’bari Al Malibari, dalam kitabnya Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya, mengingatkan kita dari cinta dunia ini:
وَمُحٍبُّ دُنْيًا قَائِلٌ اَيْنَ الطَّرِيْقُ * اَيْنَ الْخَلَاصُ كَمُسْكِرٍ شَرِبَ الطِّلَا
Si pencinta dunia selalu bertanya tanya, “
Di manakah jalan dan di manakah keselamatan?.
tak ubahnya seperti orang mabuk yang mereguk minuman keras”.
Dunia bagai minuman keras yang telah membuat mabuk para peminumnya. Para pemabuk itu tertawa-tawa, sedang orang yang sadar melihatnya sebagai orang gila. Banyak orang salah terka hingga berakhir dengan derita. Hasbunallah.
KH Syarif Rahmat RA, SQ, MA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar