إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ
يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا
أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا
مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ
عَظِيمٌ (المائدة:33)
Artinya:
“Sesungguhnya ganjaran bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya
dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau
dipotong tangan dan kaki mereka dengan
bersilang atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian
itu untuk menghinakan mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan
yang berat”.
(Al Ma’idah: 33)
Yang
namanya perampok itu biasanya menakut-nakuti, merampas harta dan bahkan ada
yang membunuh korbannya. Menurut mayoritas
Ulama termasuk Al Imam Asy Syafi’i Rahimahullah – yang dianut kaum Muslimin
Indonesia – sanksi bagi orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini adalah
dirinci sebagai berikut:
a. Apabila
ia hanya membunuh dengan tidak mengambil harta, maka hukumannya adalah dibunuh.
Ketentuan ini sejalan dengan ayat lain yang menyebutkan bahwa pembunuh harus
dibunuh. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى
بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ
إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى
بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ (البقرة:178)
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan
dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba
dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka Barangsiapa yang mendapat suatu
pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara
yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang
memberi ma'af dengan cara yang baik (pula), yang demikian itu adalah suatu
keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas
sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih”. (Al Baqarah: 178)
b.
Apabila
membunuh dan merampas harta korbannya, maka hukumannya adalah disalib dan
dibunuh. Penambahan hukuman salib – yaitu dengan memaku tangan dan kakinya –
adalah karena ia melakukan pencurian seraya mengancam. Sebagaimana diketahui pencurian itu
hukumannya dipotong tangan sebagaimana firman Allah:
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ
فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ
عَزِيزٌ حَكِيمٌ (المائدة:38)
Artinya: “Pencuri laki-laki dan pencuri
perempuan, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka
kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana”.
(Al Ma’idah: 38).
Adapun pada ayat ini tidak diberlakukan pemotongan
tangan karena si pelaku akan dibunuh.
c.
Apabila hanya
mengambil harta dan tidak membunuh, maka hukumannya adalah dipotong tangan dan
kakinya secara bersilang.
Dalam
kasus Tabrakan Maut yang terjadi di dekat Tugu Pak Tani Senin 23 Januari lalu
itu diketahui bahwa:
Pertama,
bahwa pengemudi kendaraan bernama Afriani Susanti (29 tahun) telah
mengakibatkan hilangnya nyawa 9 orang. Dari sisi ini ia dapat dijerat hukuman
pembunuhan yaitu Qishash, dibunuh.
Kedua,
bahwa pengemudi kendaraan diketahui telah mengkonsumsi Narkoba bersama beberapa
orang rekan lainnya. Dari sisi ini pelaku dikenai sanksi dengan cambukan
sebanyak 40 kali.
Berdasarkan
hal ini sebenarnya mudah –bagi orang beriman– menetapkan sanksi apa yang akan
dijatuhkan kepada si pengemudi kendaraan. Memang ada masalah hingga di sini;
apakah peristiwa tersebut dapat dikategorikan “Pembunuhan Sengaja” ataukah
“Pembunuhan Tidak Disengaja” ? Tetapi dengan kondisi mabuknya dan keukeuh
menyetir, maka si pengemudi lebih tepat dikategorikan “Sengaja” terlebih ia
tidak memiliki SIM, yang itu artinya ia tidak dibenarkan mengemudi kendaraan.
Adalah
menarik sejumlah penegak Hukum mengatakan bahwa pengemudi yang telah mematikan
9 orang itu diancam hukuman (hanya) 6 tahun penjara. Bandingkan dengan pencuri
Sendal Japit yang diancam hukuman hingga 5 tahun penjara. Wajar bila KH Sa’id
Agil Sieroj agak berang
dan mengatakan: “Hukuman yang layak bagi pecandu Narkoba adalah potong kedua
tangan dan kakinya”. Ada yang patut dicermati dari komentar sejumlah petinggi
Negeri ini. Seorang Irjen mengatakan: “Ban depan sebelah kiri Daihatsu Xenia
kempes sehingga mobil oleng ke kiri”. Dan seorang lagi seorang Kombes
mengatakan: “Hukuman tersangka bisa lebih dari Enam tahun, tergantung
hakim”. (Lihat halaman pertama HU Republika Edisi Rabu 25 Januari 2012).
Kalimat pertama mudah-mudahan tidak dimaksudkan untuk meringankan hukum dan
kalimat kedua semoga tak diarahkan agar tak ada penambahan hukum.
Dan
yang lebih menarik adalah sikap pelaku yang tidak menampakkan rasa bersalah
setelah membuat orang mati di jalanan itu. Apakah ini cerminan dari rasa aman
karena ada orang yang bersedia
“mengamankan” perjalanan hukumnya? Kita lihat saja sambil berdo’a;
semoga para penegak Hukum diberi keimananan dan keberanian. Hasbunallah.
Syarif
Rahmat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar